Aborsi atau Menanggung Malu?

Pertanyaan:

Salah seorang saudaraku telah hamil karena zina, dan kini semua keluarganya berfikir untuk mengaborsi kandungannya atau menggugurkan janinnya, dikarenakan khawatir jika orang lain mengetahuinya, dan sedangkan bapaknya mengatakan bahwa Konvensi Fiqih di Rabithah Al- ’Alam Al-Islamiy telah membolehkan kegiatan aborsi pada kondisi seperti ini. Dan oleh karena kepercayaan kami kepada Syekh Mamduh maka permasalahan ini kami serahkan kepada Syekh yang mulia untuk berkenan memberikan pertimbangan dan nasehatnya menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan atas nasehatnya kami ucapkan Jazakumullahu khairan.

Jawaban:

Selamat bergabung dengan majalah Qiblati dan kami ucapkan Ahlan wasahlan! Pertama-tama kami meminta kepada Allah semoga Ia mengampuni dosa saudaramu dan menerima taubatnya. Dan sesungguhnya semua dalil baik dari Al-Qur’an, As-Sunnah maupun semua Konvensi Fiqih telah mengonfirmasi keharaman menggugurkan janin akibat zina, sedangkan perasaan malu bisa dijadikan sebagai alasan untuk membenarkan tindakan pembunuhan terhadap janin tersebut. Maka dengan demikian, tidak boleh bagi kalian untuk menggugurkan kandungannya walaupun diakibatkan oleh zina, bahkan sampai pun jika seandainya wanita itu menjadi korban pemerkosaan akibat penculikan yang dialaminya maka tetap saja kalian tidak punya hak untuk menggugurkannya. Maka janganlah kalian mengumpulkan antara dosa zina dan dosa pembunuhan terhadap sang jabang bayi yang tidak berdosa.

Allah telah berfirman:

وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أخْرَى

Artinya: “Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain” (Q.S. Al-Israa: 15).

Dan jika seandainya kalian telah melakukannya, maka itu berarti kalian telah melakukan dua dosa besar sekaligus; dosa pembunuhan dan dosa zina, walaupun tujuannya adalah untuk menutupi aib dari masyarakat, namun tetap saja tindakan membunuh jiwa yang telah diharamkan oleh Allah untuk membunuhnya tidak dapat dibenarkan secara Agama.

Dan kami menasehati kalian dengan beberapa hal di bawah ini:

1. Mengibakan diri kepada Allah dengan doa dan shalat malam supaya Ia menutup aib ini untuk kalian, serta mendekatlah kepada-Nya dengan memperbanyak ketaatan dan sedekah agar Ia menyelesaikan masalah ini untuk kalian.

2. Memperhatikan pendidikan anak, dengan cara mengontrol dan tidak mengabaikan permasalahan keluarnya ia dari rumah atau hubungannya melalui telepon, serta tidak menganggap remeh permasalahan ikhtilath atau percampuran antara laki-laki dan wanita dalam pergaulan. Dan ketahuilah bahwa bapaknya atau orang yang mengurus gadis inilah yang bertanggung jawab atas perbuatan keji yang dilakukan olehnya.

Allah telah berfirman dalam surat At-Tahrim ayat 6:

untitled29

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikatmalaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim: 6).

Oleh karenanya, alangkah lebih baik jika kita bertanya tentang apa motif yang mendorong anak gadis ini untuk melakukan perbuatan keji itu, lalu berupaya untuk mencari obatnya dan jangan lupa untuk menjadikan kasus ini sebagai pelajaran di masa akan datang.

3. Bertaubat dari perbuatan menyia-nyiakan pendidikan anak, sekaligus mengajak anak gadis ini untuk menyesali perbuatannya serta bertaubat darinya dengan taubat nasuha, dan mengiba kepada Allah dengan berdoa agar Dia berkenan menerima taubatnya, sehingga dengan begitu diharapkan ia akan seperti seorang wanita dari suku al-Ghamidiyah pada zaman dahulu, yang mana dengan sepenuh hatinya ia bertaubat kepada Allah dari perbuatan zina yang ia lakukan, dan ia tercatat sebagai wanita yang memiliki perkara yang agung. Dan juga jangan lupa untuk menguatkan diri kalian dengan memperbanyak sabar, shalat, membaca Al-Qur’an, bersegera melakukan berbagai ketaatan dan meninggalkan berbagai kemungkaran, serta tidak lagi berjalan di belakang nafsu syhwat.

4. Berkonsultasi atau bermusyawarah dengan anggota keluarga yang berpengaruh dan bijak, dan usahakan aib ini tidak didengar kecuali oleh mereka-mereka saja, yaitu agar mereka segera menikahkannya dengan pria yang telah menzinainya, jika tidak berhasil, kalian harus saling bahu membahu untuk mencari laki-laki yang bersedia menikahinya untuk menutup aibnya, agar tidak menyebar kemana-mana.

Dan adapun ucapan Anda bahwa Anda telah mendengar tentang Konvensi Fiqih di Rabithah Al-’Alam Al- Islamiy yang telah membolehkan aborsi maka itu tidak benar, karena konvensi ini telah membolehkan aborsi pada beberapa kondisi, diantaranya adalah jika keberlangsungan keberadaan janin di dalam perut justru mendatangkan bahaya yang telah teridentifikasi bagi jiwa ibunya, yaitu sebagai sebuah tindakan untuk mengantisipasi datangnya bahaya yang lebih besar. Dan untuk membuktikan hal itu mereka telah menetapkan persyaratan dengan laporan hasil diagnosa panitia tim dokter yang terdiri dari beberapa tim dokter spesialis dan terpercaya.

Sebagaimana konvensi ini telah membolehkan dilakukannya aborsi  pada janin sebelum genap berumur 120 hari di dalam kandungan, jika telah dibuktikan melalui laporan hasil diagnosa panitia tim dokter spesialis lagi terpercaya, serta berdasarkan hasil USG yang valid dan akurat bahwa janin tersebut berada dalam kondisi rusak dan tidak dapat diobati, sehingga jika ia dibiarkan dan kemungkinan besar ia akan lahir dalam kondisi buruk, maka dalam kondisi dan kasus seperti ini dibolehkan untuk dilakukannya aborsi atas permintaan kedua orang tuanya. Oleh karenanya, setelah penjelasan di atas kami berharap Anda jangan pernah berfikir untuk melakukan aborsi dalam kondisi apapun, apalagi jika kondisi sang ibu dan janinnya dalam keadaan sehat dan normal.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *