AQIDAH AHLUS SUNNAH TENTANG SAHABAT

Segala puji bagi Allah yang tiada sesembahan yang haq kecuali diri-Nya. Shalawat dan salam untuk hamba dan Rasul-Nya yang diutus sebagai rahmatan lil ‘alamin, juga untuk keluarganya, keturunannya dan para sahabat serta pengikut setianya hingga akhir zaman.

Pentingnya tema sikap ahlu sunnah terhadap sahabat

Sesungguhnya akidah ahlus sunnah tentang sahabat merupakan poros utama bagi penelusuran sejarah mereka. Akidah tentang sahabat salah satu pilar  penting dalam agama. Begitu pentignya maka semua kitab akidah ahlus sunnah memberikan peringatan yang jelas tentang sahabat. Hampir kita tidak bisa menemukan kitab akidah ahlus sunnah yang tidak membahas tentang masalah ini, seperti: Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah milik al-Lalakai, as-Sunnah milik Ibn Abi Ashim, as-Sunnah milik Abdullah ibn Ahmad bin Hanbal, al-Ibanah milik Ibn Baththah, Akidah salaf ashhab al-Hadits milik al-Shabuni, dll. Bahkan setiap imam ahlus sunnah ketika menjelaskan akidahnya -meskipun hanya selembar kertas atau bahkan kurang dari itu- tidak lupa mengisyaratkan kepada tema sahabat; kadang kepada keutamaan mereka, atau keutamaan khulafa` rasyidin, atau tentang ‘adalah (keshalehan dan amanah mereka), kadang larangan mencela dan mencaci mereka, atau isyarat untuk menahan lisan kita dari perselisihan yang pernah terjadi di antara mereka. Lihat misalnya Syarah ushul I’tiqad ahlis sunnah (10/151-186) milik al-Lalakai (417 H), ia menyebutkan akidah sepuluh ulama besar ahlis sunnah. Mereka semua mengisyaratkan kepada apa yang baru saja saya sebutkan. Kitab tersebut telah diteliti oleh DR. Ahmad Sa’ad Hamdan al-Ghamidi.

Ringkasan keyakinan Ahlus sunnah terhadap sahabat

  1. Kita diperintah untuk memintakan ampunan bagi mereka. (QS. Al-Hasyr: 10)
  2. Amal shalih mereka dilipatgandakan pahalanya oleh Allah swt. Ibnu Umar ra berkata: “Janganlah kalian mencela para sahabat Nabi Muhammad saw, sungguh berdirinya mereka sesaat lebih baik Daripada amal salah seorang kamu seumur hidupnya.”
  3. Mereka adalah sebaik-baik umat setelah nabinya saw, sebagaimana kesaksian Abdullah ibnu Mas’ud ra
  4. Kesepakatan mereka adalah hujjah.
  5. Mereka adalah qudwah (panutan), karena mereka adalah kaum yang mendapat hidayah.
  6. Mereka semua adalah adil (shalih dan terpercaya).
  7. Menahan lisan dari perang fitnah yang pernah terjadi di antara mereka. Mereka semua adalah mujtahid, yang salah dari mereka mendapatkan satu pahala dan yang benar mendapat dua pahala.
  8. Mereka semua adalah ahli surga.
  9. Mencaci dan mencela mereka adalah sebab kehancuran dan kesengsaraan. Orang yang mencela sahabat adalah orang zindiq, munafiq, wajib dicurigai atau diragukan keislamannya.
  10. apa yang terjadi di antara mereka adalah fitnah, wajib diam dan tidak menyebut kecuali dengan baik.
  11. Mencintai sahabat adalah iman dan membencinya adalah kufur. Maka Wajib mengikuti manhaj mereka dan menyebut mereka dengan baik. Imam Ahmad berkata: “Mencintai mereka adalah sunnah,  berdoa untuk mereka adalah qurbah, berteladan dengan mereka adalah wasilah, mengambil atsar mereka adalah fadhilah.”

Mencintai sahabat adalah tanda orang beriman

Cinta para sahabat Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, baik itu ahlul bait maupun bukan merupakan tanda keimanan seseorang, dan membenci mereka adalah tanda nifaq. Al-Imam Al-Bukhary –rahimahullah– berkata dalam kitab Shahih-nya (1/14/17),“Bab Tanda Keimanan Adalah Cinta Kepada Orang-Orang Anshar”. Setelah itu Al-Bukhary membawakan sebuah hadits dari Anas -radhiyallahu ‘anhu- dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, beliau bersabda,

آيَةُ الْمُنَافِقِ بُغْضُ اْلأَنْصَارِ وَآيَةُ الْمُؤْمِنِ حُبُّ اْلأََنْصَارِ

“Tanda orang munafiq adalah membenci orang-orang Anshar dan tanda orang mukmin adalah mencintai orang-orang Anshar”.

Nabi saw juga bersabda: “Kaum Anshar, tidak ada yang mencintai mereka kecuali orang mukmin, dan tidak ada yang membenci mereka kecuali munafiq, maka barangsiapa mencintai mereka Allah mencintainya, dan barangsiapa membenci mereka maka Allah membenci mereka.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam hadits Muslim: “Tidak mungkin membenci kaum Anshar orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.”

Imam As-Suyuthiy -rahimahullah- berkata dalam Ad-Dibaj (1/92) ketika menafsirkan hadits di atas, “Tanda-tanda orang beriman adalah mencintai orang-orang Anshar karena siapa saja yang mengerti martabat mereka dan apa yang mereka persembahkan berupa pertolongan terhadap agama Islam, jerih-payah mereka memenangkannya, menampung para sahabat ( Muhajiri; yang hijrah dari Mekkah), cinta mereka kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, pengorbanan jiwa dan harta mereka di depan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, permusuhan mereka terhadap semua orang (kafir) karena mengutamakan Islam dan mencintainya, maka semua itu merupakan tanda kebenaran imannya, dan jujurnya dalam berislam. Barangsiapa yang membenci mereka dibalik semua pengorbanan itu, maka itu merupakan tanda rusak dan busuknya niat orang ini.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah-rahimahullah- berkata, “Di antara prinsip Ahlus Sunnah: Selamatnya hati dan lisan mereka dari sahabat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam- dan berlepas diri dari jalan hidupnya orang-orang Rofidhoh yang membenci dan mencela para sahabat. Mereka (Ahlussunnah) menahan diri dari perselisihan yang terjadi di antara mereka, dan berkata: [‘Sesungguhnya atsar-atsar yang teriwayatkan mengenai kejelekan para sahabat, diantaranya ada berita dusta, ada juga yang sudah ditambahi dan dikurangi, serta diubah dari semestinya’]. Para sahabat lebih dahulu berislam, dan memiliki keutamaan-keutamaan yang mengharuskan diampuninya dosa yang ada pada diri mereka, apabila ada. Sehingga mereka diampuni dari segala kekeliruan yang tidak diampuni bagi orang setelah mereka. Lalu jika ada dosa pada salah seorang di antara mereka, maka mereka (tentunya) akan bertaubat darinya, atau ia melakukan kebaikan yang bisa menghapuskan dosa atau diampuni dosanya karena keutamaan dahulunya masuk Islam, atau karena syafa’at Nabi Muhammad -shollallahu ‘alaihi wasallam- kepada mereka, yang mana mereka adalah orang yang lebih berhak mendapatkan syafa’atnya, ataukah ditimpakan suatu bala’ di dunia yang bisa menghapuskan dosanya. Jika ini hubungannya dengan dosa yang nyata, maka bagaimana lagi dengan perkara yang mereka di dalamnya berijtihad? Jika mereka benar, maka mereka mendapatkan dua pahala. Jika keliru, maka mereka mendapat satu pahala, sedangkan kesalahannya terampuni”.[Lihat, Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyyah (hal. 139-152) karya Syaikh Shaleh Al-Fauzan, dengan sedikit perubahan].

Ucapan para ulama ahlus sunnah tentang sahabat:

  1. Al-Imam Al-Ajury-rahimahullah- berkata, “Seyogyanya bagi orang yang mau mentadabburi apa yang telah kami torehkan berupa keutamaan-keutamaan para sahabat Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam- dan keluarga beliau -radhiyallahu anhum ajma’in- agar mencintai mereka, mendoakan rahmat bagi mereka, memohonkan ampunan bagi mereka, mencari jalan kepada Allah mengikuti mereka, juga bersyukur kepada Allah karena ia diberi taufiq (petunjuk) kepada hal ini, serta tidak menyebutkan perselisihan yang terjadi di antara mereka, dan mengorek-ngoreknya, dan tidak pula mencari-carinya”.[Lihat Asy-Syari’ah, hal. 2485 karya Al-Ajurriy.]
  2. Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Rozy-rahimahullah- berkata, “Apabila engkau melihat seseorang mencela salah seorang sahabat Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam-, maka ketahui bahwa orang itu zindiq. Karena Rasul -Shollallahu ‘alaihi wasallam- di sisi kami benar, dan Al-Qur’an adalah kebenaran. Sedangkan yang menyampaikan Al-Qur’an ini kepada kami adalah para sahabat Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam-. Mereka (para pencela tersebut) hanyalah berkeinginan untuk menjatuhkan saksi-saksi kami agar mereka bisa membatalkan Al-Kitab dan As-Sunnah. Padahal celaan itu lebih pantas untuk mereka sendiri, sedang mereka adalah orang-orang zindiq”. [Lihat Al-Kifayah, hal. 49 karya Al-Khathib Al-Baghdadiy]
  3. Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thohawy-rahimahullah- berkata dalam menjelaskan aqidah Ahlussunnah, “Kami mencintai para sahabat Rasulullah -shollallahu alaihi wasallam-, tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang di antara mereka, dan tidak berlepas diri dari salah seorang di antara mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan yang menyebutnya bukan dalam kebaikan. Kita tidak menyebut para sahabat kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah agama, keimanan,dan kebaikan. Sedang membenci mereka merupakan kekufuran, kemunafikan, dan perbuatan yang melampaui batas”. [Lihat Syarh Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah, hal. 689 karya Ibnu Abil Izz Al-Hanafy.]
  4. Al-Imam Abu Hanifah -rahimahullah- berkata, “Al-Jama’ah: Engkau mengutamakan Abu Bakar, Umar , Ali, dan Utsman, dan engkau tidak mencela salah seorang di antara sahabat Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam- “. [Lihat Al-Intiqo’ fi fadho’il Ats-Tsalatsah Al-A’immah, hal. 163 karya Ibnu Abdil Barr, cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah]
  5. Imam Darul Hijrah, Malik bin Anas -rahimahullah- berkata, “Orang yang mencela para sahabat Nabi -shollallahu alaihi wasallam- tidak memiliki saham -atau ia berkata:- bagian dalam Islam”. [Lihat As-Sunnah (1/493) karya Al-Khallal]
  6. Al-Imam Al-Humaidy -rahimahullah- berkata, “Kita tidaklah diperintah kecuali untuk memohonkan ampunan bagi mereka (sahabat). Barangsiapa yang mencela mereka atau meremehkan mereka atau salah seorang dari mereka, maka ia bukanlah di atas sunnah, dan ia tidak memiliki bagian dari fa’i (rampasan perang)”. [Lihat Ushul As-Sunnah, hal.43 karya Al-Humaidy]
  7. Al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah- berkata, “Barangsiapa mencela (sahabat), maka aku takutkan kekufuran atas dirinya, seperti kelompok orang yang membenci para sahabat (atas nama pembelaan terhadap ahlul bait).” Lalu beliau berkata lagi, “Barangsiapa yang mencela para sahabat Rasulullah –shollallahu alaihi wasallam- , maka kami tak merasa aman atas dirinya kalau ia telah keluar dari agama.” Pada kesempatan lain ditanya oleh puteranya tentang orang yang mencela para sahabat, maka Imam Ahmad berkata: “Aku pikir ia tidak beragama Islam.” [Lihat As-Sunnah (1/439) karya Al-Khallal]

Inilah beberapa pernyataan dari para ulama Ahlussunnah tentang orang yang mencela sahabat. Maka janganlah anda tertipu dengan sebagian orang yang berusaha mencela mereka sekalipun dengan istilah dan slogan “Studi Kritis Terhadap Sejarah Hidup Para Sahabat”. Karena ini, bukanlah jalannya Ahlussunnah, bahkan jalan kelompok ahli bid’ah, dan orientalis yang ingin meruntuhkan Islam dengan jalan mencela dan merendahkan para sahabat. Kenapa? Karena dengan mencela mereka otomatis akan menolak riwayat yang disampaikan oleh para sahabat berupa hadits-hadits Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Sedang Islam, terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits. [*]

 

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *