Awas! Jangan Kau Jual Hatimu

Dua orang pria mendatangi Nabi,mereka datang mengadukan perihal sebidang tanah yang mereka perselisihkan, namun tidak seorang pun dari mereka yang memiliki surat bukti atas kepemilikannya sehingga masing-masing mengaku bahwa tanah tersebut sebagai miliknya, maka Nabi bersabda:

Artinya: “Sesungguhnya kalian berdua mengadukan perselisihan kalian kepada saya padahal saya seorang manusia biasa, boleh jadi sebagian kalian lebih pandai berargumentasi dari sebagian yang lainnya. Namun saya akan memutuskan diantara kalian menurut yang saya dengar dari kalian. Maka barangsiapa yang saya berikan kepadanya sesuatu yang menjadi hak saudaranya, janganlah ia mengambilnya karena sebenarnya ia sedang memungut sepotong bara api dari api neraka yang akan ia bawa sampai hari Kiamat kelak” (HR. Al- Bukhariy no. 6566).

Akhirnya sejak itu masingmasing dari mereka memutuskan untuk tidak menuntut tuntutannya, karena Rasulullah  telah berhasil menggerakkan semangat keimanan dalam jiwa mereka, sehingga iman itu membawa mereka kepada peringkat tinggi dari sebuah pendidikan hati nurani dan pembangunan akhlak bagi individu. Betapa pendidikan hati nurani ini telah menjadi tembok pembatas bagi mereka berdua dari kezaliman dan dari memakan yang haram, serta sebagai pendorong kepada setiap kebaikan. Karena takwa kepada Allah dan merasa diawasi oleh-Nya pertanda atas kesempurnaan iman, sebab mendapatkan ampunan dan masuk ke dalam surga, ia juga sebagai pengendali atas sikap dan tindakan yang dengannya segala hak dan kewajiban dapat ditunaikan dengan baik sampai pun pada saat hilangnya kontrol manusia, kontrol hukum pidana, serta sanksi. Karena takwa kepada Allah, merasa diawasi oleh-Nya, merasa takut kepada-Nya, serta mempersiapkan diri untuk melakukan perjumpaan dengan-Nya itu semua lebih besar dalam jiwa seorang muslim dari segala sesuatu, Allah  berfirman:

Artinya: “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka dimanapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Mujadilah: 7).

Hati nurani menjadi kekuatan spiritual yang akan mengendalikan sikap manusia dan pikirannya, ia merupakan pemberian dari Allah sebagai alat untuk menunjukinya kepada kebaikan dan kejelekan, serta kepada bagaimana cara memperoleh kepuasan dan ketenangan jiwa. Allah telah membuat perumpamaan dengan Nabi Yusuf untuk demikian itu:

Artinya: “Saya berlindung kepada Allah, sesungguhnya ia (suami Zulaikha) adalah tuanku yang telah memberikan tempat tinggal yang baik untukku dan sesungguhnya tidak akan beruntung orang-orang yang zalim” (QS. Yusuf: 23).

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *