BAGAIMANA SIKAP SAYA?

 Soal: Saya Seorang Ummmahat. Setelah saya mendapat hidayah saya berhijab dan seiring itu pula saya ,mulai jarang berkunjung kesaudara2 saya (kakak2 saya) karena adanya perbedaan prinsip. Lalu timbul sangkaan yang tidak benar tentang kami (saya dan suami) misal sombong dll. Betulkah sikap kami yang demikian. Sedikit tambahan dikeluarga hanya saya yang ngaji?

Fulanah, 08134xxxxxxx                               

 

Jawab: Kami mengucapkan selamat kepada ukhti atas hidayah yang dianugerahkan oleh Allah I kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki, sebagaimana kami mengucapkan selamat atas ketaatan ukhti pada perintah syari’at Islam yang diantaranya adalah hijab syar’i semoga Allah selalu menjadikan ukhti istiqomah diatas jalan yang benar ini. Sehubungan dengan berkunjung kepada sanak saudara maka hal itu adalah sebuah kewajiban yang telah diwajibkan oleh Islam atas diri kita, oleh karena itu sebagaimana Allah memberi petunjuk ukhti kepada kebenaran seharusnya ukhti menjadi sebab bagi hadirnya hidayah kepada kerabat ukhti atau salah seorang dari mereka. Setiap muslim adalah seorang da’i (penyeru kepada agama Allah), dimana saja dia berada dia selalu menularkan kebaikan dan kebenaran yang ada padanya kepada orang disekitarnya, dan selalu mengajak kepada ketaatan sesuai dengan kadar ilmunya, Nabi e bersabda:

« بلغوا عني ولو آية »

“Sampaikan dariku walau satu ayat.”

Oleh karena itu berusahalah semaksimal mungkin untuk menyampaikan agama ini, karena kalau kita tidak memberi hidayah kepada orang lain apa gunanya kebenaran yang ada pada diri kita?! Kemudian ketika kita jarang menziarahi kerabat, apakah mungkin kita dapat membantu mereka untuk mengenalkan kebenaran? Terkadang iltizam (sikap komitmen) kita dengan agama kita memiliki pengaruh besar terhadap orang lain karena dengan menyaksikan sikap iltizam kita tadi mereka berfikir ulang tentang praktek keagamaan mereka selama ini. Oleh karena itu saya ulangi lagi berusahalah semaksimal mungkin untuk menyampaikan dakwah kepada keluarga dan kerabatmu sesuai dengan tingkat pemahaman mereka, dan jangan banyak memaksakan kepada mereka, bersabarlah dan jangan tergesa-gesa ingin melihat hasilnya. Pada saat ukhti dihadapkan pada ejekan dan cemoohan dan tidak kuasa menghadapinya maka pada saat itulah sikap ukhti benar dalam menjarangkan ziarah atau kunjungan kepada sanak famili. Wallahu a’lam

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *