Beberapa Hadits Mansukh dalam Berbagai Bab Ibadah

Sebelum kita menyebutkan hadits-hadits mansukh yang terdapat di dalam berbagai bab ibadah, sebaiknya kami tunjukkan beberapa cara untuk mengetahui an-nasikh (Hadits pengganti/duplikator) dan al-mansukh (Hadits yang diganti/direplikasi), dimana keduanya terangkum dalam tiga perkara berikut ini:

  • Adanya at-Tashrih atau keterangan langsung dari Rasulullah tentang hal itu, seperti hadits Buraidah  yang terdapat dalam Shahih Muslim yang artinya: “Dahulu saya telah melarang kalian dari menziarahi kuburan, maka (sekarang) berziarahlah karena ia mengingatkan pada ”
  • Adanya nash atau teks mengenai hal ini dari salah satu Sahabat Nabi , seperti perkataan Jabir bin Abdillah yang artinya: “Merupakan yang terakhir dari dua perkara dari Rasulullah  adalah meninggalkan wudhu dari makanan yang disentuh oleh api (dimasak dengan api)” [dikeluarkan oleh Ashabussunan]. Berkata Az-Zuhriy: “Mereka para Sahabat berpendapat bahwa yang terakhir dari dua perkara dari Rasulullah  merupakan an-nasikh (penghapus hukum) bagi yang pertama.
  • Pengetahuan tentang sejarah; seperti hadits Syadad bin Aus di dalam Sunan Abu Daud yang artinya: “Telah batal puasa yang membekam dan yang dibekam.” Ternyata dalam beberapa jalan didapati bahwa hadits ini ada pada masa al-Fath (Penaklukkan kota Mekkah) dan ia mansukh atau dihapus oleh hadits Ibnu Abbas yang artinya: “Bahwasanya Nabi  telah berbekam sedangkan beliau dalam kondisi ihram dan puasa pada saat haji Wada’.” [H. Abu Daud dan Tirmidzi, dan ia berkata hadits ini hasan shahih].

  1. Mansukh-nya (Terhapusnya) Hukum Bolehnya Membunuh di dalam Kota Mekkah
  • Hadits mansukh:

Dari Abu Hurairah , ia berkata: “Pada saat Rasulullah  datang ke Mekkah maka beliau  mengutus Ibnu Zubair ke salah satu sayap, yaitu antara sayap kanan dan kiri, dan mengutus Khalid bin Walid ke sayap lainnya, dan mengutus Abu Ubaidah untuk memimpin pasukan infantri atau pasukan yang tidak dilengkapi dengan baju perang dan mereka bertempat di dalam wadi’, sedangkan Rasulullah  berada dalam batalionnya, maka beliau  bersabda: ‘Apakah kalian melihat orang-orang bodoh Quraisy dan para pengikut mereka?’ Lalu beliau   bersabda dengan kedua tangannya yang salah satu dari keduanya di atas yang lainnya: ‘Bunuhlah mereka sampai kalian menemui saya di Shafa’.”. Lalu Abu Hurairah  berkata: “Maka kami segera bergerak hingga tidak ada seorang pun dari kami yang ingin membunuh seseorang dari mereka kecuali ia segera membunuhnya” [H.R. Muslim].

  • Hadits nasikh (penghapus hukum):

Dari Abdullah bin Abbas  bahwasanya Nabi  bersabda: “Sesungguhnya saya tidak pernah mengharamkan Mekkah akan tetapi Allah sendiri yang telah mengharamkannya, karena ia tidak pernah menjadi halal bagi seorang pun sebelum saya dan ia tidak akan pernah menjadi halal bagi siapapun setelah saya sampai hari Kiamat, melainkan ia dihalalkan bagi saya sesaat dari siang hari saja” [H.R. Bukhari dan Muslim, dan ini terjadi pada saat haji Wada’].

 

  1. Di-nasakh-nya (Dihapusnya) Hukum yang Melarang Mengawinkan Pohon Kurma.
  • Hadits mansukh dan nasikh:

Dari Anas bin Malik  bahwasanya Rasulullah  melewati sebuah kaum yang sedang mengawinkan pohon kurma, maka beliau  bersabda: “Seandainya kalian tidak melakukannya niscaya hasilnya akan lebih baik.” Lalu ia (Anas bin Malik ) berkata: “Maka kurma-kurma tersebut menghasilkan buah yang buruk, kemudian beliau  bertemu dengan mereka dan bersabda: “Ada apa dengan pohon kurma kalian?” Mereka menjawab: “Dulu engkau berkata demikian dan demikian.” Maka Rasulullah  bersabda: “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian” [H.R. Muslim]. Dan dalam satu riwayat yang lemah menurut Thabraniy disebutkan bahwa Rasulullah  bersabda: “Saya bukan seorang petani dan tidak pula mempunyai kurma, maka kawinkanlah.”

  1. Di-nasakh-nya (Dihapusnya) Hukum Larangan Mengubur Mayit pada Malam Hari.
  • Hadits mansukh:

     Dari Jabir bin Abdillah al-Anshariy , dari Nabi , bahwasanya beliau  telah berkhutbah dan menyebutkan seseorang dari para Sahabatnya yang telah meninggal dunia dan dikafankan dengan kain kafan yang tidak panjang lalu dimakamkan pada malam hari, maka Nabi  melarang untuk memakamkan seseorang pada malam hari sehingga beliau bisa menshalatinya, kecuali jika orang-orang terpaksa melakukannya” [H.R. Muslim, dan dalam hadits ini ada larangan menguburkan mayit pada malam hari].

  • Hadits nasikh:
  1. Dari Ibnu Abbas , ia berkata: “Ada seseorang telah meninggal dunia yang telah dijenguk oleh Rasulullah , lalu ia meninggal dan dimakamkan pada malam hari, maka di pagi harinya mereka memberitahu beliau , kemudian beliau bersabda: ‘Apa yang menyebabkan kalian sehingga kalian tidak memberitahu saya?’ Mereka menjawab: ‘Hal itu terjadi di malam hari, dan kami tidak mau merepotkanmu,’ lalu beliau  mendatangi kuburnya dan menshalatinya” [R. Bukhari].
  2. Dan dari Jabir bin Abdillah al-Anshariy , ia berkata: “Orang-orang telah melihat sebuah api di pekuburan dan mereka mendatanginya, maka tiba-tiba Rasulullah sudah sampai di kuburan dan bersabda: “Bantulah saya menguburkan teman kalian (ia adalah orang yang mengangkat suaranya ketika berdzikir)” (H.R. Tirmidzi dan ia meng-hasan-kan hadits ini).

Maka dalam kedua hadits di atas terdapat pencabutan hukum larangan menguburkan mayit pada malam hari.

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *