DOA PELIPUR LARA

Pertanyaan:

 ( َالَّلهُمَّ فَارِجَ الْهَمِّ ، وَكَاشِفَ الْغَمِّ ، وَمُجِيْبَ دَعْوَةِ الْمُضْطَرِّيْنَ، رَحْمَنَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَرَحِيْمَهُمَا، أَنْتَ تَرْحَمُنِي فَارْحَمْنِي بِرَحْمَةٍ تُغْنِيْنِي بِهَا عَنْ رَحْمَةِ مَنْ سِوَاكَ)

Do’a ini sangat populer diantara sebagian kaum muslimin, dengan keyakinan bahwa barangsiapa yang membaca do’a ini kemudian menyampaikannya kepada orang lain niscaya Allah akan menghilangkan kesusahannya, lalu bagaimana kebenaran keyakinan tersebut dan bagaimana pula kedudukan hadits di atas? Syukron, Jazakumullahu khairan!

(Abu Rafli, Jakarta)

Jawab: Di dalam sanad hadits ini terdapat Al-Hakam bin Abdillah Al-Ailiy, ia termasuk dho’iful hadits jiddan (haditsnya sangat lemah), dan banyak para ulama hadits yang menganggapnya pendusta (kazzaab), biografinya disebutkan di dalam kitab Lisaan Al-Miizaan (2/332): “Ibnu Al-Mubarak Rahimahullah sangat berhati- hati meriwayatkan darinya”. Dan Imam Ahmad Rahimahullah berkata: “Semua haditsnya adalahmaudhu’“. Ibnu Ma’in berkata: “Ia tidak tsiqoh“. As-Sa’adiy  Rahimahullah dan Abu Hatim  Rahimahullah berkata: “Ia pendusta”. An-Nasaa’i dan Ad-Daaruquthniy serta beberapa orang lainnya berkata: “Matrukul hadits” (orang yang haditsnya tidak boleh diambil tetapi harus ditinggalkan). Nah, dari penjelasan di atas dapat dimengerti, betapa kerasnya pelecehan para ulama terhadap seorang Al-Hakam bin Abdullah Al-Iiliy.

Dan dengan demikian menjadi jelas kedudukan hadits ini, bahwa ia adalah hadits mungkar atau maudhu’. Selain itu, ia juga dilemahkan oleh Al-Imam Al-Mundziriy dalam kitab At-Targhib wa At-Tarhib (3/57) dan beliau juga menyebutkan sebab cacatnya yang lain yaitu Al-Qosim tidak mendengarkannya dari Aisyah ^, begitu pula ia dihukumi dha’if oleh Al-Imam As-Suyuthiy dalam kitab Ad-Dar Al-Mantsur (1/24), serta Syaikh Al-Albaniy menghukuminya dalam kitab Dha’ifut Targib (1143) sebagai hadits maudhu’.

Jadi intinya adalah bahwa hadits ini tidak memiliki jalan-jalan periwayatan yang shahih,  bahkan semua jalannya sangat lemah, sehingga tidak heran jika para ulama menghukuminya sebagai hadits maudhu’ dan mereka menyebutkannya di dalam kumpulan kitab-kitab hadits yang maudhu’. Maka dengan demikian, do’a dalam hadits tersebut tidak memiliki keutamaan apapun seperti yang Anda sebutkan dalam pertanyaan Anda di atas.

Dan saya menghimbau kepada semua kaum muslimin untuk membaca do’a-do’a yang benar-benar berasal dari Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wasallam karena ia memiliki keutamaan yang lebih besar dan lebih agung. Wallahu A’lam!

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *