JUM’AT malam, 9 Juli 2010, Ustadz Usman tamu dari Aceh yang berjuang di Pulau Simeulue bercerita di kediaman Pimred Qiblati:
“Saya baca Qiblati dan menyebarkan Qiblati Di P. Simeulue sejak 2 tahun lalu. Sebelum kemerdekaan pergerakan dakwah Muhammadiyah telah memasuki pulau ini melalui para ulama dan da’i dari padang panjang. Maka tidak heran jika lebih dari 85-90 % imam Masjid di sana adalah para kader MD. Dakwah Islam mengalami kejayaan pada tahun 1960-1970 saat cengkeh yang menjadi penghasilan pulau itu memiliki pasar yang bagus. Namun setelah pasaran cengkeh rusak banyak yang kembali pulang ke Padang.

Pada saat terjadi Tsunami tanggal 26 Desember 2004, akibat Gempa berkekuatan 9,3 menurut skala Richter yang menghantam Aceh, Sumatera Utara, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Srilangka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika, yang menyebabkan sekitar 230.000 orang tewas di 8 negara, tak seorang pun (terdengar) menjadi korban di p. Simeulue, padahal pusat gempa ada di sana. (menurut Jawa Pos, 6 meninggal, 1 hilang)



Air pasang menghantam Thailand
Menurut penuturan saksi, saat terjadi tsunami terlihat ombak hitam setinggi 5 meter sedang menuju P. Simeulue, maka 3 orang pasrah kepada Allah dengan melakukan sujud. Setelah mereka mengangkat kepala, terlihat ombak berbalik arah menghantam daerah seberang yaitu Aceh. Sementara telah tersiar kabar kalau P. Simeulue telah tenggelam.

Hikmah dari bencana itu p Simeulue dikenal dan diperhatikan, namun ruginya banyak NGO non muslim masuk, sedangkan tak satupun NGO muslim yang masuk kecuali hanya 2 buah, itupun secara tdk langsung.
Pada saat Qiblati memuat koreksi waktu subuh, kami bertujuh (para tokoh agama termasuk yang anggota DPR) berembuk menentukan sikap. Akhirnya kami memilih ikut Qiblati. Ustad Umar Darwis berkata: “Saat saya sekolah di Thawalib Pandang Panjang ada yang aneh, setiap kali orang selesai shalat subuh guru saya Buya H. Haroun El - Ma’anyi (Syekh Muhammad Djamil Jambek, ulama falaq yg pernah tinggal di Makkah) Ulama Besar Sumatra Barat setelah Buya HAMKA – West Sumatra Famous Moslem Scolar after Buya HAMKA dan Rektor IAIN Sumatra Barat – Rector of IAIN of West Sumatra-) baru melaksanakan shalat subuh. Maka apa yang ditulis Qiblati adalah jawabannya.”
Sejak saat itu kami melakukan observasi, dan sudah terhitung 15 kali namun yang dibilang berhasil adalah 2 kali, karena factor cuaca.
Selain itu kami juga telah berusaha bertanya dan berdialog dengan para ulama, diantaranya adalah dengan Ketua MUI Aceh Tgk Dr Muslim Ibrahim MA dan Prof Al Yasa' Abu Bakar (Direktur Pascasarjana IAIN Ar-Raniry)
Dr. Muslim Ibrahim berprinsip: “kita ikut mayoritas, tapi ikut minoritas juga boleh asal berdasar ilmu.” Sedangkan Prof. Al-Yasa'mengikuti yang lazim.
Kami tetap yakin dengan Qiblati karena sudah membuktikan maka kami ikut fajar syar’i hingga hari ni. AlhamdulillahRabbil ‘alamin.” (Abu Hamzah)
Afwan Ustaz, berdasarkan literatur "MENGENANG SERATUS TAHUN SURAU INYIK DJAMBEK di BUKIT TINGGI yang ditulis oleh Buya H.Mas`oed Abidin dlm blognya, Buya Harun El Ma`ani/al Ma`ani bukan murid Buya Hamka, melainkan Beliau adalah Murid dari Syekh Muhammad Djamil Jambek (ulama falaq yg prnh tinggal di Makkah). Dalam literatur yang lain, beliau dikenal sebagai ahli falaq, ahli hisab (tentu sepeninggal gurunya), Pimpinan Kauman Padang Panjang dan Imam Besar Masjid Jihad Padang Panjang
masyaallah, info yang sangat bermanfaat.
jazakumullah khairan atas ilmunya. semoga Allah merahmati para ulama kita tersebut.