“Waktu Shubuh, Perspektif Islam dan Sains”
===
JUM’AT malam, 9 Juli 2010, Ustadz Usman tamu dari Aceh yang berjuang di Pulau Simeulue bercerita di kediaman Pimred Qiblati:
“Saya baca Qiblati dan menyebarkan Qiblati Di P. Simeulue sejak 2 tahun lalu. Sebelum kemerdekaan pergerakan dakwah Muhammadiyah telah memasuki pulau ini melalui para ulama dan da’i dari padang panjang. Maka tidak heran jika lebih dari 85-90 % imam Masjid di sana adalah para kader MD. Dakwah Islam mengalami kejayaan pada tahun 1960-1970 saat cengkeh yang menjadi penghasilan pulau itu memiliki pasar yang bagus. Namun setelah pasaran cengkeh rusak banyak yang kembali pulang ke Padang.
Alhamdulillah alladzi bini’matihi tatimmus shalihat.
Ustadz Kadeni (Agen Qiblati Magetan) menuturkan:
Perubahan waktu sholat shubuh di mulai dari masjid Al-Amin Jl Tamrin di lingkungan perguruan muhammadiyah SD dan SMP arah barat alun-alun kurang lebih 100 meter. Sejak keluarnya Qiblati 08 tahun ke-4, Masjid Al-Amin ini sudah langsung berubah meskipun mendapat surat kaleng yang berisi ancaman karena hal ini menyebabkan keresahan dan merusak persatuan -katanya .
Ada lagi masjid Baitul Hakim yang di demo dan akhirnya tidak lagi melanjutkan perubahan sesuai waktunya .
Kemudian masjid At-Taqwa Bulukerto juga berubah meskipun awalnya ada yang menentang tapi akhirnya mau berubah. Dan bertambah lagi masjid Al falah dan Al Azmi di Jl Diponegoro. Para takmir masjid al falah dan al Azmi ini juga pernah berusaha menyaksikan hingga beberapa kali di desa Campur Sari dan Kalan Kec Sido Rejo. Dan membenarkan apa yang di sebutkan oleh majalah Qiblati.
Hari ahad 30 juni, pada Daurah kaderisasi Da’i III untuk menghadapi Rafidhah yang digelar oleh Perhimpunan al-Irsyad, Pimred Majalah Qiblati setelah menyampaikan materi "Thoriqotul Munadzarah" yang baik memberikan bonus materi yaitu mengenai "Koreksi Awal Waktu Subuh".
Alhamdulillah para peserta antusias dan merasa senang bisa memahami masalah yang pernah membuat banyak orang dan beberapa utsadz penasaran dan salah faham.