Hukum Orang Kafir yang Tidak Sampai Kepadanya Dakwah Islam

Telah sampai ke redaksi majalah Qiblati sebuah syubhat yang berasal dari salah satu pembaca yang budiman. Dan karena pertimbangan akan pentingnya syubhat ini maka ia kami jadikan dalam ruang tersendiri dengan jawaban yang cukup luas.

Syubhat ini berbunyi demikian:

Dalam beberapa hari ini telah tersebar di kalangan umat Islam sebuah syubhat yang menyebutkan bahwasanya hukum orang kafir yang tidak sampai kepadanya dakwah Islam, atau telah sampai kepadanya namun dalam bentuk rancu/ tidak jelas, atau telah mendengarnya namun tidak mengetahuinya secara detail, maka dengan demikian ia akan diuji/dites di akhirat, sedangkan di dunia ini kita menyikapinya selayaknya non muslim, dengan anggapan bahwa ia memiliki syubhat tentang Islam namun tidak ada orang yang berusaha menghilangkannya dari dirinya. Dan mereka (orang-orang yang menyebarkan syubhat ini) pun berkata bahwa orang kafir yang seperti ini jika mati maka tidak dihukumi dengan neraka, dikarenakan mereka memiliki syubhat yang belum dibantah. Mereka (orang-orang yang menyebarkan syubhat ini) mengkhususkan vonis neraka bagi orang yang kekafirannya telah mencapai seperti kekafiran Abu Lahab dan Abu Jahal dengan anggapan karena dakwah Islam telah sampai kepada mereka dengan sempurna namun mereka menolaknya. Mereka (orang-orang yang menyebarkan syubhat ini) pun berdalih bahwa syari’at Islam tidak menyiksa umat Islam dikarenakan kebodohan mereka dalam perkara agama mereka.

Oleh karenanya, kami meminta kepada Syaikh Mamduh untuk berkenan memberikan jawaban atas syubhat di atas, dan kami ucapkan Jazakumullahu khairan!

Jawaban:

Sebetulnya ucapan ini telah ada dalam hadits Nabi, bahkan di dalam Al-Qur’an Al-Karim, dimana Allah berfirman:

لأنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ١٩

Artinya: “… supaya aku (Muhammad) memperingatkan kalian dengannya (Al-Qur’an) beserta orang-orang yang sampai kepadanya (Al-Qur’an) ini …” (QS. Al-An’am: 19).

Maka setiap orang yang sampai kepadanya Al-Qur’an berarti telah sampai kepadanya hujjah, Rasulullah bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ يَسْمَعُ بِي يَهُوْدِيٌّ وَلنَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يُؤْمِنُ بِي إِ كَانَ مِنْ أهْلِ النَّارِ

Artinya: “Demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya, tidaklah orang Yahudi dan tidak pula orang Nasrani mendengar tentang diriku kemudian ia tidak beriman kepadaku kecuali ia termasuk dari penduduk neraka.”

Dalam riwayat lain:

untitled31
Artinya: “Demi Allah, tidaklah orang yang berkulit merah atau putih mendengar tentang diriku, lalu ia tidak beriman kepadaku kecuali Allah memasukkannya ke dalam neraka.”

Berdasarkan dalil di atas maka hujjah telah ditegakkan dengan sekedar sampainya dakwah ini lewat Al-Qur’an dan lewat mendengar tentang Rasulullah. Bukan seperti yang mereka kira, yaitu dengan menghilangkan syubhat seputar Islam dan memahamkan orang-orang kafir dengan berbagai hujjah sehingga mereka layak dihukumi masuk neraka jika mereka tetap mati di atas kekafiran setelah itu semua!

Keyakinan sesat tersebut mengharuskan kita dalam menghukumi kekafiran orang kafir yaitu agar terlebih dahulu sampai kepadanya sosok pemberi peringatan yang mengajaknya kepada Islam secara khusus. Dengan demikian, maka ucapan mereka (orangorang yang menyebarkan syubhat ini) memberi arti bahwa tidak cukup dengan memberikan peringatan secara umum, yang ini termasuk dalam ibthaalli hujjtil qur’an (menonaktifkan Al-Qur’an sebagai hujjah).

Karena dengan sendirinya Al-Qur’an merupakan hujjah, menurut firman Allah berikut ini:

وَأوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لأنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ

Artinya: “… Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya aku (Muhammad) memperingatkan kalian dengannya (Al-Qur’an) beserta orang-orang yang sampai kepadanya (Al-Qur’an) ini …” (QS. Al-An’am: 19).

Begitu pula dengan pernyataan mereka (orang-orang yang menyebarkan syubhat ini) di atas, secara tidak langsung mereka tidak mengakui misi global Nabi Muhammad, karena menurut mereka tidak cukup hanya dengan mendengar tentang Rasulullah saja, dan tidak cukup pula hanya dengan mendengar Al-Qur’an Al- Karim saja, akan tetapi harus mengirim seorang da’i tertentu kepada setiap orang kafir yang dapat menghilangkan berbagai syubhat dari dirinya, dan memahamkannya berbagai hujjah, yang ini merupakan persyaratan yang keluar dari nash sebagaimana firman Allah:
untitled32

Artinya: “Dan jika Kami menghendaki, Kami pasti mengutus pada setiap negeri seorang pemberi peringatan” (QS: Al- Furqan: 51).

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah dalam menafsirkan ayat tersebut, yaitu: “… agar pemberi peringatan itu mengajak mereka kepada Allah Azza Wajalla, akan tetapi Kami khususkan  dirimu (wahai Muhammad) denganmisi kepada seluruh penduduk bumi, dan Kami perintahkan kepadamu agar kamu menyampaikan Al-Qur’an ini kepada manusia, sebagaimana firman- Nya, ‘… Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya aku (Muhammad) memperingatkan kalian dengannya (Al-Qur’an) beserta orang-orang yang sampai kepadanya (Al-Qur’an) ini …’.”

Oleh karena itu, memahamkan hujjah dan menghilangkan syubhat tidak disyaratkan, harus ditegakkannya hujjah di dalam masalah akidah atau masalah-masalah populer dalam agama Islam yang diketahui oleh orang mukmin dan kafir seperti masalah Tauhidullah, iman kepada Rasulullah, kepada Al-Qur’an, membenarkan kabar yang dibawanya serta mengerjakan perintahnya, dan apa-apa yang tidak memasukkan seorang muslim ke dalam Islam kecuali dengannya, maka disini cukup hanya dengan al-ikhbar dan as-simaa’ atau mengabarkan dan memperdengarkan nash Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya  saja.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *