Ikhlash, Menjauhi Riya’ Dan Cinta Popularitas

Waqi’ Ibnul Jarrah al-Kufi (w. 90) berkata:

« منِ اْستَفْهَمَ وَ هُوَ يَفْهَمُ فَهُوَ طَرْفٌ مِنَ الَّريَاءِ »
“Barang siapa bertanya padahal ia telah mengetahui maka itu adalah ujung dari pada riya'”

Maksud imam Waqi’ adalah orang yang bertanya hanya untuk sensasi; untuk menunjukkan bahwa ia telah paham atau menguasai masalah tersebut, bukan untuk memberi manfaat pada hadirin yang belum tahu.

Wahab ibnu Munabbih ( al-Abid, selama 40 tahun ia shalat subuh dengan wudhu Isya’ .Wafat pada usianya yang ke- 80 tahun.113 H). berkata: “Orang munafik itu memiliki 3 tanda: merasa malas jika sendirian, dan giat apabila disampingnya ada seseorang, dan berambisi dalam segala urusannya untuk dipuji. Sementara orang yang hasad (dengki) juga memiliki 3 tanda: Menggunjing orang yang tidak ia sukai, Menjilat jika melihatnya, dan merasa senang jika ia dapat musibah.”(al-Hilyah 4/47)
Dulu, sebagian orang salaf ada yang pergi haji setiap tahun dengan berjalan kaki. Pada suatu malam ia tidur diatas kasurnya, lalu ibunya meminta sehelas air, akan tetapi ia Ia merasa agak keberatan untuk bangun dari pembaringannya guna mengambil air minum untuk ibunya. Akhirnya ia teringat hajinya pada setiap tahun yang ia kerjakan dengan berjalan kaki. Ia bertanya-tanya dalam hatinya mengapa selama itu ia mengerjakannya dengan begitu mudah. Iapun bermuhasabah, akhirnya ia mengetahui bahwa yang membuat ia bersemangat adalah pandangan dan pujian manusia. Maka iapun menyadari bahwa selama ini amalnya tersisipi oleh syirik yany lembut. ((Lathaiful Ma’arif, 420)

Sufyan ibnu Uyainah(Lahir tahun 107 H. Ia berguru pada Imam Zuhri ketika berusia 16 tahun.w 198 H) berkata: ” Pernah suatu hari saya mengalami kekhusyu’an hati lalu sayapun menangis, lalau saya katakan dalam diri saya: seandainya sebagaian sahabatku ada di sini niscasya iapun menangis bersamaku. Kemudia saya tertidur dan bermimpi. Dalam mimpi itu saya didatangi oleh seseorang, ia menendang kakiku seraya berkata: hai Sufyan ambillah pahalamu dari orang yang kamu suka ia melihatmu. (Shifatush Shafwah 2/463)

Amr Ibnu Utbah (salah satu sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu yang pilihan. Ketika tidur ia ditemani dan dijaga oleh hewan buas. Pernah pada satu peperangan ia membeli kuda seharga 4000. ketika orang-orang menggunjingnya karena mahal, maka ia berkomentar: “Satu langkah aku maju menuju musuh lebih aku sukai dari pada uang 4000.” Ia gugur dalam peperangan di Tustar pada masa Usman Radhiyallahu ‘anhu ) bersyarat kepada para sahabatnya agar ia yang menjadi pelayan dalam bepergian. Ia ternyata pada suatu hari yang sangat panas keluar untuk menggembala kambing. Ketika sebagaian sahabatnya datang ternyata mereka melihat ada awan yang menaunginya yang sedang berdiri. Maka sahabatnya itu berkata: Bergembiralah wahai Amr!. Maka segera Amr mengambil janji padanya umntuk tidak memberitahukan kepada yang lain. (al-Hilyah 4/157).

Malik Bin Dinar (Abu Yahya al-Bashri az-Zahid al-Abid, berprofesi sebagai penyalin al-Qur’an. W.123) berkata : “Sejak aku mengenali manusia aku tidak pernah senang dengan pujian mereka dan tiidak pernah benci cacian mereka. Ketika ditanya mengapa begitu. Dia menjawab: “Karena yang memuji berlebihan dan yang mencela melakukan kecerobohan.” ( al-Hilyah2/372).

Bisyr ibnul Harits al-Baghdadi ( abid zahid. Wafat tahun 229 H) berkata: “Bisa saja seorang itu melakukan riya’ setelah ia meninggal dunia; yaitu semasa hidupnya ia ingin agar jenazahnya banyak yang melayat dan menguburkannya.” (as-Siyar 10/473).

Mutharrif Ibnu Abdillah al-Bashri (Lahir di masa Rasulullah ﷺ , seorang abid, zahid, mustajab doanya. Bahkan dikatakan di antara karomahnya adalah bertasbihnya perabotan rumahnya jika ia memasuki rumah dan bersinar tongkatnya di malam hari menyinari jalannya). berkata: “Cukuplah seseorang itu berlebihan memuji dirinya jika ia mencela dirinya di hadapan orang banyak. Dengan begitu seolah-olah ia menghiasi dirinya, padahal di sisi Allah ia telah mengotorinya.” (al-Hilyah 2/202)

Ar-Rabi’ ibnu Shubaih al-Bashri (abid, zahid dan mujahid. Romahurmuzi mengatakan bahwa ia adalah orang pertama kali yang mengarang kitab di Bashrah. Wafat terbunuh dalam pertempuran di Sindi tahun 160 H) berkata: “Pernah Hasan Bashri ada suatu hari memberi mauizhah. Tiba-tiba ada seseorang yang memperlahatkan tangisnya, maka Hasan menegur: “Demi Allah, ingatlah! bahwa Allah pasti akan menanyakan kepadamu tentang apa yang kamu inginkan dengan tangisananmu ini.” Al-Hilyah 6/305).

Muhammad ibnu Yusuf al-Firyabi ( Tinggal di Qaisariyah Syam, lahir 126 H dan wafat 212 H)berkata: Saya pernah mendengar Sufyan ats-Tsauri berkata: “Tidak ada amal yang lebih utama dari mencari hadits, jika niatnya benar.” Imam Ahmad bertanya kepada al-Firyabi: “Niat apakah itu?” Dia menjawab: “Dengan hadits itu kamu mencari wajah Allah dan kehidupan akhirat.”( al-Hilyah 6/ 366)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *