KIDUNG AGUNG MEMBUATKU MASUK ISLAM

Oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi

Sungguh, telah banyak kuketahui pengalaman masuk Islamnya orang-orang Nasrani, baik laki-laki maupun perempuan di negeri yang berbeda-beda. Tetapi ada satu kisah yang paling mengesankan, bahkan membuatku menangis panjang. Ia sebuah kisah yang kudengar langsung dari pemiliknya.

Ia seorang gadis Mesir yang masih muda belia. Ia sangat mencintai agamanya, dan sangat berpegang teguh dengan ajaran-ajarannya. Dia seorang gadis yang beradab, suci, lagi berakhlak mulia. Tetapi di saat dia meragukan sesuatu dari Bibel, pikirannya tidak tenang kecuali dia harus sampai pada hakikat yang sebenarnya agar keraguan itu hilang dari dirinya. Dia ingin beribadah kepada Allah melalui agama yang Dia ridhai.

Akhirnya, dia pun sampai kepada hakikat yang sebenarnya dengan seorang diri, tanpa seorangpun yang mempengaruhi atau ikut campur. Agar tidak memperpanjang kata, saya persilakan Anda untuk membaca kisahnya langsung dari penuturannya. Sungguh, sepanjang penuturan kisah ini, dari awal hingga akhir, dia banyak menangis, bahkan terhenti dari perkataan untuk beberapa lama karena pengaruh yang mendalam, kemudian dia teruskan penuturannya setiap kali dia sedikit tenang.

Dia berkata:
Pertama, saya ingin mengatakan kepada seluruh orang Nasrani, sesungguhnya firman Tuhan kita haruslah bisa dipahami keseluruhannya oleh orang terpelajar, orang jahil, orang kaya, miskin, dan seluruh makhluk.

Permulaan kisah berawal ketika aku duduk dalam sebuah bis, di tempat khusus untuk kaum wanita. Lalu aku mendapati seorang muslimah duduk di tengah teman-temannya. Ia sedang membacakan al-Qur`an di hadapan mereka.

Aku melihat kepadanya, dan kagum. Lalu aku bertanya-tanya, apakah mungkin bagiku untuk memegang Bibel, lalu aku bacakan ‘Kidung Agung’ di hadapan seluruh manusia tanpa ada seorangpun di antara mereka yang memahaminya dengan pemahaman yang buruk?

Aku berkata pada diri sendiri, “Aku harus menirunya.” Lalu kukeluarkan Bibel, dan berusaha untuk membacanya, tetapi aku tidak bisa. Setiap kali berusaha membaca, kudapati diriku merasa tidak enak untuk membaca kalimat-kalimat kitabku.

Kukatakan pada diri sendiri, “Mengapa wahai Yesus, aku takut mereka akan salah dalam memahami-Mu? Mengapa aku tidak bisa membaca firman-Mu?” Kemudian aku pun duduk sambil menangis.

Aku pergi ke gereja, lalu masuk menemui pastur. Kukatakan kepadanya, “Wahai Bapa, aku telah membuka Bibel. Tadi aku ingin membacanya di hadapan manusia, tetapi aku tidak kuasa. Apakah Anda kuasa -wahai Bapa- untuk membaca Kidung Agung di hadapan manusia?” Anda akan mengatakan, ‘Perutmu, pahamu, pusarmu?’ Wahai Bapa, bukankah firman itu dari roh Allah? Jika demikian haruslah ia berbicara dengan roh pula? Akan tetapi kitab kita hanya membicarakan gairah dan syahwat belaka. Jika saya membacanya di hadapan siapapun, apakah saya akan mengatakan kepadanya, perut adalah roh, paha adalah roh, dan segala sesuatu adalah roh. Kemudian setelah itu aku katakan kepadanya bahwa zina itu adalah sebuah kesalahan?

Pastur itupun menjawab seraya berkata, “Yesus akan marah kepadamu, bukan urusanmu terhadap orang lain.”

Aku kembali ke rumah dalam keadaan bingung. Aku tidak kuasa berbicara dengan seorang pun. Lebih dari sehari aku tinggal, tidak makan dan minum, dalam keadaan menangis. Setiap kali ada yang bertanya kepadaku tentang sebabnya, aku mengatakan, ‘Temanku mati dalam sebuah kecelakaan di hadapanku.’

Beberapa hari setelahnya, aku masuk ke internet. Kuceritakan kisahku kepada orang-orang Nasrani, ‘Aku ingin ada seorang kristiani yang memahamkan dan menjawabku.’

Aku menunggu selama tiga hari, tidak seorangpun yang menjawab.
Lalu kuputuskan untuk masuk ke website milik seorang Nasrani terkenal yang ahli dalam bidang teologi. Websitenya terkemuka di kalangan Nasrani. Kukatakan pada diriku, ‘Dialah yang akan memberikan petunjuk kepadaku.’ Aku pun langsung bertanya kepadanya, ‘Apakah mungkin bagiku untuk membaca Kidung Agung di hadapan manusia tanpa malu?’
Dia menjawab, ‘Di tengah-tengah kaum muslimin ada orang-orang sufi yang mengatakan perkataan tidak bagus, dan Rabi’ah al-‘Adawiyah mengatakan, ‘Aku mencintai-Mu dengan dua cinta.’

Kukatakan kepadanya, ‘Jawablah saya (dengan jawaban) dari agama saya sendiri, jangan menjawab dari agama lain. Saya katakan kepada Anda firman Tuhan kita, maka jangan berdalil atas orang lain dengan perkataan seorang wanita dari mereka. Tetapi sebutkanlah dalil dari kitab Tuhan mereka.’

Dia menjawab dan berkata kepada saya, ‘Di dalam al-Qur`an, Tuhan kita mensifati Bidadari dengan :

عُرُبًا أَترَابًا
“Penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 37)

Kukatakan kepadanya, ‘Apakah Tuhan kita menyerupakan hubungannya dengan bidadari itu seperti penyerupaan-Nya dalam Bibel, yaitu seakan-akan keduanya tidur bersama? Kemudian, setiap melihat saluran televisi keIslaman, tidak pernah aku dapati ada seorang ulama yang menjawab pertanyaan berdalil dengan Bibel. Ia hanya berdalil dari kitab mereka, dan perkataan nabi mereka. Lalu mengapa Anda tidak menjawab saya dari Bibel?’

Dia menjawab dengan marah dan mencibir, ‘Sudah, biarkan al-Qur`an memberimu manfaat.’

Kukatakan kepadanya, ‘Aku akan diam dan tidak akan bertanya, agar aku tidak paham, karena tidak ditemukan jawaban pada kitab Tuhan kita.’

Di saat aku lelah berpikir, timbullah satu pemikiran, ‘Aku akan mencoba membacakan sesuatu dari Injil kepada manusia, barangkali aku salah persepsi bahwa manusia akan salah paham.’ Lalu kukatakan, ‘Aku harus mencoba agar was-was ini menjauh dariku, dan was-was itu akan menjauh karena Yesus telah melakukan beberapa mukjizat. Aku yakin, di saat aku membaca, firman itu akan sampai kepada roh manusia. Dan barangkali salah satu di antara orang yang nantinya akan mendengar itu akan beriman kepada Yesus, atau kagum dengan firman Tuhan yang kemudian hilanglah keragu-raguanku.’

Aku pun pergi ke halte bis. Ketika menunggu bis, di sebelahku terdapat beberapa gadis muslim. Kala itu aku bersama seorang teman. Kukatakan kepada temanku, ‘Bagaimana pendapatmu, aku bacakan kepadamu beberapa ayat yang indah dari Bibel?’ Dia setuju.

Aku mengeraskan suaraku agar gadis-gadis muslimah itu mendengar ayat-ayat Bibel (dalam bahasa Arab) tersebut:

Betapa indah langkah-langkahmu dengan sandal-sandal itu, putri yang berwatak luhur! Lengkung pinggangmu bagaikan perhiasan, karya tangan seniman. Pusarmu seperti cawan yang bulat, yang tak kekurangan anggur campur. Perutmu timbunan gandum, berpagar bunga-bunga bakung. Seperti dua anak rusa buah dadamu, seperti anak kembar kijang. Lehermu bagaikan menara gading, matamu bagaikan telaga di Hesybon, dekat pintu gerbang Batrabim; hidungmu seperti menara di gunung Libanon, yang menghadap ke kota Damsyik. Kepalamu seperti bukit Karmel, rambut kepalamu merah lembayung; seorang raja tertawan dalam kepang-kepangnya. Betapa cantik, betapa jelita engkau, hai tercinta di antara segala yang disenangi. Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dadamu gugusannya. Kataku: “Aku ingin memanjat pohon korma itu dan memegang gugusan-gugusannya. Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan nafas hidungmu seperti buah apel. Kata-katamu manis bagaikan anggur!” Ya, anggur itu mengalir kepada kekasihku dengan tak putus-putusnya, melimpah ke bibir orang-orang yang sedang tidur! Kepunyaan kekasihku aku, kepadaku gairahnya tertuju. Mari, kekasihku, kita pergi ke padang, bermalam di antara bunga-bunga pacar! Mari, kita pergi pagi-pagi ke kebun anggur dan melihat apakah pohon anggur sudah berkuncup, apakah sudah mekar bunganya, apakah pohon-pohon delima sudah berbunga! Di sanalah aku akan memberikan cintaku kepadamu! Semerbak bau buah dudaim; dekat pintu kita ada pelbagai buah-buah yang lezat, yang telah lama dan yang baru saja dipetik. Itu telah kusimpan bagimu, kekasihku! (Kidung Agung 7: 1-13)
Hingga:

Kidung Agung (8: 10) “Aku adalah suatu tembok dan buah dadaku bagaikan menara.”

Kemudian aku pun membaca ayat-ayat perzinaan, dan sisa ayat-ayat lain serta kalimat kotor yang ada padanya. Kemudian aku dapati gadis-gadis tersebut tertawa sambil tangan-tangan mereka menutupi mulut-mulut mereka, seakan-akan mereka tengah melihat pemandangan porno.

Kemudian aku dikagetkan dengan seorang pemuda di belakangku yang telah mendengarkan seluruh perkataanku. Lalu dia mendekat di belakangku, dan berbisik di telingaku dengan kalimat-kalimat kotor. Dan dia membuatku merasa bahwa aku adalah salah satu gadis-gadis malam yang kotor.

Kukatakan pada diri sendiri, ‘Mengapa aku seperti gadis malam, sementara aku membaca firman-Mu wahai Yesus?’
Lalu aku melihat kepada pemuda itu dan kukatakan kepadanya, ‘Ini adalah kitabku, aku membaca darinya, dan itu bukan urusanmu.’

Maka dia berkata kepadaku, -sementara dia telah menganggapku sebagai bagian dari gadis-gadis malam- ‘Apa pendapatmu jika kita mengingat bersama apa yang telah engkau baca?’

Aku memberikan al-Kitab padanya, kemudian aku pergi sambil menangis. Kutinggalkan temanku, lalu aku berjalan kaki sangat jauh, jauh sekali, sejauh 9 halte bis, dalam keadaan bingung.

Kemudian aku berpikir, ‘Apakah mungkin bagi seseorang yang mendengarkan firman ini lalu menerima bahwa maknanya adalah roh dan teladan yang mulia? Apakah, saat aku berkata kepada seorang pemuda, ‘Sesungguhnya gadis yang sedang berjalan di jalan itu akan bermanfaat jika menjadi istrimu.’ Lalu saat dia mendapatinya mencaci, dan perkataannya buruk, serta akhlaknya rusak, kukatakan kepadanya, ‘Tidak, wanita itu tujuannya mulia, dan ucapannya itu ditujukan untuk roh!’

Setelah itu, aku duduk sambil bertanya-tanya, ‘Mengapa Tuhan tidak menjadikan hubungan cinta itu sebagai sesuatu yang suci di dalam Bibel?’

Mengapa dia tidak menyerupakannya dengan hubungan cinta seorang ibu kepada anaknya, atau saudara dengan saudaranya?!

Akhirnya aku sampai di rumah. Pintu kamar kututup rapat. Lalu aku bicara kepada Yesus, ‘Buatlah aku tenang, pahamkanlah aku, dan jawablah aku!’ Tetapi dia tidak menjawab, dan aku tidak tenang. Di saat aku lelah, aku berkata, ‘Mengapa tidak ada seorangpun yang menjawabku? Mengapat tidak ada seorangpun yang mendengarku? Sungguh aku telah berusaha bersama kalian, dan lelah tanpa guna…’

Aku keluar dari rumah, ketika seluruh penghuni rumah telah tidur. Lalu aku naik ke atap rumah. Sekalipun saat itu hujan, angin bertiup kencang dan suara guntur pun keras, aku berdiri di atap rumah dan ingin sampai kepada kebenaran.

Aku mengangkat kepalaku. Aku berbicara kepada Tuhanku yang sesungguhnya, kukatakan kepada-Nya, ‘Wahai Rabbku, wahai Tuhanku yang sejati, wahai Dzat yang telah menciptakanku, Engkau telah menciptakan segala sesuatu, dan Engkau ingin agar kami menyembah-Mu, maka rahmatilah aku, tenangkanlah diriku. Wahai Pencipta langit yang aku melihatnya, wahai Pencipta Guntur yang aku mendengarnya, wahai pencipta hujan yang sedang turun, tenangkanlah diriku, beritahukanlah kepadaku, apakah Bibel dan Kidung Agung adalah firman-Mu ataukah ucapan selain-Mu?’

Tiba-tiba Allah, Tuhanku yang sebenarnya menjawab, dan Dialah satu-satunya yang menjawab dan menenangkanku, sementara aku di atas atap, dia berfirman:

“Allahu Akbar… Allahu Akbar (Allah Maha Besar… Allah Maha Besar).”

Aku mengulangi pertanyaan ke dua, sementara aku kebingungan, ‘Apakah Kidung Agung adalah firman-Mu?’
Lalu kudapati masjid lain mengumandangkan:

“Allahu Akbar… Allahu Akbar (Allah Maha Besar… Allah Maha Besar).”

Dan setiap kali aku mendapat jawaban, aku berkata, ‘Ya, wahai Tuhanku, Engkau Maha Besar dari itu semua, Engkau Maha besar dari penyerupaan yang tidak layak dan tidak pantas itu.’

Kemudian aku berkata, ‘Terima kasih wahai Tuhanku, aku mohon ampun kepada-Mu wahai Tuhan, aku tidak ingin lebih dari itu. Aku telah berkata kepada Yesus, dan bunda Maria, ternyata tidak ada yang menjawaku. Dan ketika aku berbicara dengan-Mu wahai Tuhanku, Engkau mejawab dan menenangkanku.’

Sekalipun aku telah mencelamu, dan mencela Rasul-Mu, serta mencela kaum muslimin, Engkau membiarkanku, dan tetap menjadikanku hidup. Kemudian setelah itu Engkau muliakan aku dengan menenangkan aku. Sungguh aku tidak pantas menerima semua itu dari-Mu, ya Allah.

Sungguh aku sudah terbiasa mendengar imam shalat di mushalla sebelah membaca dua buah surat yang sama setiap hari, tidak pernah menggantinya. Dan pada saat itu terjadi kejadian aneh, ternyata yang menjadi imam adalah imam lain, dan dia membaca firman Allah:

وَإِذ قَالَ ٱللَّهُ يَـٰاعِيسَى ٱبنَ مَريَمَ ءَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِى وَأُمِّىَ إِلَـٰهَينِ مِن دُونِ ٱللَّهِ‌

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah…?” Hingga:

لِلَّهِ مُلكُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلأَرضِ وَمَا فِيهنّ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىءٍ قَدِيرُ

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Maidah 116-120)

Maka aku pun menangis keras, dan bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.

Sesungguhnya aku adalah manusia yang paling berbahagia di dunia. Tidak ada seorangpun yang bisa merasakan kebahagiaan dan kegembiraan yang kini kurasakan.

Kita memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada gadis tersebut di dunia dan akhirat, serta meninggikan kedudukan dan derajatnya di surga. Amin

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *