Majalah Qiblati, Minim Iklan, Go International

Ada keyakinan sebagian orang bahwa bisnis media hanya mengandalkan iklan, namun hal ini ternyata tidak berlaku bagi manajemen Majalah Qiblati. Buktinya, majalah yang berdiri 6 tahun silam ini, hidupnya bukan dari pasokan iklan, melainkan murni dari pelanggan tetap yang tersebar di seluruh nusantara, bahkan di beberapa negara.

Majalah ini didirikan sebagai sarana dakwah kepada Allah dan bertitik tolak dari prinsip universalis syariah untuk mencerdaskan pribadi dan masyarakat luas.

Majalah Qiblati bernaung di bawah bendera CV Media Citra Qiblati (MCQ) dengan akta notaris Mohammad Ikhwanul Muslimin SH, Nomor 06. Perpindahan Majalah Qiblati dari Yogyakarta ke Malang tepatnya Kompleks Masjid Jami’ Al Umm, Jalan Joyoagung, Kelurahan Merjosari pada 5 Mei 2006 karena faktor tertentu.

Sukses Majalah Qiblati dalam menjalankan bisnis media ini, menurut Pemimpin Umum sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Qiblati, Ustadz Agus Hasan Bashori, Lc, M.Ag, dimulai dari Sleman, Yogyakarta, 31 Oktober 2005 lalu.

“Kalau tempat yang sekarang ini, adalah milik kami sendiri. Sehingga kami lebih bisa maksimal dalam mengembangkan majalah, “ kata Agus, alumni LIPIA Jurusan Syariah ini.

Pengembangan dimaksud Agus, merupakan pengembangan majalah yang bukan semata-mata pendapatan perusahaan bersumber dari iklan. Padahal tidak semua iklan memenuhi syariat Islam. Itu sebabnya, dalam menerima iklanpun, Majalah Qiblati memilah iklan yang sesuai syariat. Meskipun iklan sangat terbatas, Majalah Qiblati justru bisa eksis dengan banyaknya pelanggan tetap di dalam negeri dan luar negeri.

Pembatasan iklan dalam Majalah Qiblati, hanya memuat antara 6-10 halaman, dari jumlah total 104 halaman. Sehingga misi dakwah yang diemban Qiblati tetap bisa masuk ke pembaca karena komposisi antara materi (topik) berika dengan iklan proporsional.

Proporsional dalam menyajikan materi, ternyata membuat jumlah pelanggan terus bertambah. Untuk saat ini, menurut Agus oplahnya sekitar 12.500 eksemplar setiap kali terbit. Ini merupakan oplah riil di dalam negeri saja, sedangkan untuk di luar negeri oplahnya sekitar 8 ribu eksemplar.

Distribusi majalah meliputi wilayah Jawa, Sulawesi,  dan Aceh, sedangkan pemasaran majalah di wilayah luar negeri tersebar di semua negara yang mempunyai bahasa nasional Perancis, Belgia, dan Aljazair.

“Kami tidak menggarap pasar negara-negara Arab, karena negara Arab sudah kami anggap paham tentang Islam ini,” kata alumni Universitas Muhammadiyah Malang ini.

EMPAT POIN

Bertambahnya pembaca Qiblati ini, salah satu penyebab utamanya ada empat poin yang merupakan topik sentral Majalah Qiblati. Empat tema tersebut, seperti koreksi total waktu shubuh, koreksi arah kiblat, kristologi, serta syi’i (syiah). Empat tema ini, yang dianggap pembacanya bukan hanya sekedar topik berita namun sekaligus karya ilmiah.

Itu sebabnya, menurut Agus ada beberapa pembaca Qiblati yang menjadikan majalah ini sebagai bahan penelitian ilmiah, seperti bahan skripsi, disertasi, serta penelitian. Diantara pembaca yang menjadikan sebagai bahan kajian ilmiah, adalah Sekolah Tinggi Muhammad Nasir Jakarta, STAIN Kudus Jawa Tengah, UIN Semarang, dan salah satu universitas di negara Sudan.

Materi yang dijadikan penelitan seperti metode dakwah Qiblati tegas namun lembut, koreksi waktu shubuh, dialog antara kemenag RI soal waktu shubuh, dan aplikasi fotometri tentang fajar shadiq. Qiblati yang menjadi rujukan penelitian ilmiah, ternyata pada tahun 2008 lalu mendapat penghargaan dari Haiatul Buhuts wad Dirasat al-Islamiyah di Arab Maghreb Union, tentang konsultasi keluarga dan agama. Penghargaan ini diberikan kepada Komisaris Majalah Qiblati, Syaikh Mamduh Farhan al Buhairi. Penghargaan ini diberikan setelah Majalah Qiblati mampu menyisihkan 24 negara peserta.

Kepercayaan terhadap Majalah Qiblati ternyata bukan hanya datang dari pembacanya saja. Sejak tahun 2009 pemerintah bekerja sama dengan Majalah Qiblati memberikan majalah gratis dengan nama Zam-Zam. Majalah ini, adalah majalah Qiblati yang diganti namanya, karena untuk jamaah haji. Jumlahnya antara 45 ribu eksemplar hingga 60 ribu eksemplar, dengan versi 4 bahasa, yakni Indonesia, Perancis, Turki, dan Inggris.

Untuk menunjang misi dakwah, Qiblati mempunyai beberapa kegiatan. Diantaranya layanan dakwah media, pendidikan da’i ke Makkah, daurah syar’iyah, ta’lim, safari dakwah, konsultasi agama dan keluarga, bimbingan pernikahan, buku gratis, bantuan bencana alam, orang tua santri, peduli pulsa da’i, dan umrah plus bahasa arab.

“Alhamdulillah, antara Qiblati dengan kegiatan ini semua berjalan,” Ucapnya.

Sukses Majalah Qiblati dalam menggarap pasar usia dewasa dan tua, dijelaskan Agus, tidak membuat manajemen berhenti berinovasi. Salah satu produk baru pun dikeluarkan manajemen Qiblati dengan sasaran anak usia Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI).

Produk dimaksud adalah Majalah Kinan untuk anak-anak. Majalah yang berawal dari suplemen Majalah Qiblati ini akhirnya resmi berdiri sendiri sejak tahun 2007. Motto majalah ini Menanam Iman Meraih Ridlo ar Rahman ini, langsung direspons pasar dengan menembus tiras 7 tibu eksemplar. Isi majalah ini meliputi pendidikan agama dan wawasan ilmu Islam untuk anak usia SD / MI.

Majalah setebal 32 halaman ini, dikatakan Agus, merupakan satu-satunya majalah anak salafi, yang menggunakan gambar orang. Materi majalah ini, mengajak anak-anak meneladani kisah bijak para orang-orang saleh dengan cerita.

Setidaknya ada empat poin, keteladanan dalam Majalah Kinan, yakni kisah tentang hakim Shalahudin, yang menceritakan tentang mengungkap kejahatan dengan cara yang singkat dan cerdas. Juga mengenalkan hukum Islam, dalam mahkamah Islam. Kemudian kisah Rima dan Laila, merupakan dua anak shaleh yang mempunyai jiwa inovasi dan kreatif. Kisah Hamid, Sa’id, dan Nu’man, yang mempunyai jiwa humoris tapi dalam konteks tidak mengada-ngada dan kisah keteladanan Tamam dan Tamim.

Menurut Agus, program jangka panjang Qiblati adalah mengembangkan percetakan dengan nama Pustaka Qiblati. Bahkan, sekarang sudah mempunyai buku terbitan sendiri, seperti Koreksi Awal Waktu Subuh, Obsesi Wanita Nasrani, dan Kisah Para Muallaf.

Selain penerbitan, Qiblati juga berencana membangun radio, ma’had Al Aimmah, perpustakaan, serta masjid jami’ yang sekarang sudah rampung.

“Prinsipnya, kami akan terus mengembangkan dakwah, melalui pelayanan dan cara yang sesuai syariat,” pungkas Agus. (Laporan Doni Setio Pambudi, Malang)