Masuk Islamnya Sarjana & Pendeta Senior Kristen pada Abad ke-8 Hijriyah

Pada abad ke-tujuh Hijriyah yang bertepatan dengan abad ke-tiga belas Masehi, salah satu pendeta senior Kristen asal Spanyol, yang bernama Anselm Tormeeda masuk Islam, kemudian berganti nama setelah Islamnya menjadi Abu Muhammad Abdullah bin Abdillah at-Turjuman, yang dalam sebagian referensi disebut juga dengan nama Abdullah bin Syahr at-Turjuman.

Namun sangat disayangkan, ia termasuk sosok yang majhul (tidak dikenal) bagi kebanyakan para ulama kecuali sedikit saja dari mereka, sebagai akibat dari sedikitnya bukubuku biografi dan sumber-sumber sejarah yang mengupas tentang sejarah dan biografinya. Oleh karena itu, tidak didapatkan biografi yang cukup memuaskan tentang sosok muslim dan alim ini, kecuali apa yang ia tulis sendiri dalam muqadimah kitabnya yang sangat mengagumkan Tuhfatul Arib fi Arrad ‘ala Ahli as-Shalib. Kitab tersebut ia tulis setelah ia memeluk Islam dalam rangka untuk membantah kerancuan Kristen.

Sang alim muslim ini lahir di pulau Mayorka Andalusia, sekarang dikenal dengan Spanyol, ia lahir pada tahun 756 H atau 1355 M.

Di masa kecilnya Anselm Tormeeda belajar ilmu imamat lalu pindah ke Andalusia untuk belajar Kristen hingga ia menetap di Italia, di kota Polonia yang merupakan ibu kota ilmu pengetahuan bagi Kristen. Disana ia belajar pada pendeta senior di zamannya, yaitu pendeta Naklaw Martil.

Ia pun menimba ilmu darinya selama sepuluh tahun dan tinggal bersamanya, dan dia (pendeta Naklaw Martil) pula yang telah menganjurkannya untuk memeluk agama Islam. Lalu Anselm Tormeeda pun meninggalkan Italia menuju Tunisia via laut pada tahun 793 H atau 1392 M, ini terjadi di era pemerintahan Amirul Mukminin Tunisia Abul Abbas Ahmad bin Muhammad as- Shahafiy rahimahullah.

Kemudian Anselm Tormeeda memeluk Islam di hadapan Amirul Mukminin, mengubah namanya menjadi Abu Muhammad Abdullah bin Abdillah, dan ke-Islamannya pun semakin lama semakin membaik. Beberapa tahun setelah itu, Abu Muhammad menikahi putri As-Syaikh al-Haj Muhammad as- Shafar, dan ia dianugerahi beberapa anak laki-laki dan perempuan. Selama tinggal di Tunisia, pemerintah telah memberikan banyak bantuan keuangan agar Abu Muhammad tidak tersibukkan oleh urusan dagang dan mencari pekerjaan.

Beberapa tempo setelah itu, ia ditunjuk oleh pemerintah untuk mengurus Diwan Al-Bahr (semacam kantor urusan administratif) dengan tujuan agar ia memelajari bahasa Arab dengan intensif dan menerjemahkan semua surat yang datang dari Eropa. Setelah ia menguasai bahasa Arab dengan baik maka ia pun ditunjuk oleh pemerintah untuk mengurus masalah penerjemahan surat-surat yang datang dari Eropa di kantornya, maka dengan sebab inilah ia kemudian dikenal dengan gelar at-Turjuman, karena ia telah menerjemahkan buku-buku Kristen ke bahasa Arab.

Kami akan meninggalkan para pembaca untuk mendengarkan secara langsung kisah hidup dan Islam sang alim rabbaniy ini. Ia telah menceritakannya dalam pembukaan kitabnya Tuhfatul Arib fi Arrad ‘ala Ahli as-Shalib, dimana ia berkata:

Ketahuilah, semoga kalian dirahmati Allah, saya berasal dari kota Majorca yang semoga ia kembali kepada Islam. Ia merupakan sebuah kota besar di atas laut yang terletak diantara dua gunung. Ia dibelah oleh sebuah lembah kecil. Ia termasuk sebuah kota dagang yang memiliki dua dermaga yang disinggahi oleh kapal-kapal besar sehingga kota ini pun disebut kota Majorca. Mayoritas hutannya menghasilkan buah zaitun dan tin yang dalam satu tahun mampu mengekspor lebih dari 20.000 kilo minyak zaitun ke negeri Mesir. Di kota Majorca pun terdapat lebih dari 120 benteng berdinding tinggi dan kokoh. Ayah saya termasuk orang kota dan ia tidak memiliki anak selain saya.

Pada saat saya menginjak umur enam tahun, ia menyerahkan saya ke salah satu pendeta, maka saya pun belajar gospel kepadanya dan dalam tempo dua tahun saya telah mampu menghafal banyak dari isi Injil. Kemudian saya mulai belajar bahasa Injil dan ilmu mantik selama enam tahun lamanya. Lalu saya meninggalkan negeri saya menuju kota Lleidadi, sebelah selatan Asbaniya, ia merupakan kota ilmu bagi orang Kristen. Kota ini memiliki kandungan emas yang tercampur dengan pepasirnya, ia juga terkenal dengan hasil buah-buahannya yang banyak. Di kota ini berkumpul para mahasiswa Kristen yang menuntut ilmu, jumlah mereka mencapai 1000 atau 1500 orang, dan dibimbing oleh satu pendeta (imam) yang mereka membaca di hadapannya.

Kebanyakan dari tetumbuhan kota ini adalah za’faran. Setelah saya selesai menimba ilmu Injil disana selama enam tahun, saya pun pergi ke sebuah kota besar dan cantik, bangunannya terbuat dari bata merah yang bagus karena di kota ini tidak memiliki tambang batu, kota ini pun termasuk kota ilmu menurut penduduk setempat, dan berkumpul di dalam kota ini lebih dari 2000 mahasiswa dari berbagai negeri yang datang untuk menuntut ilmu, yang mana mereka pun dibimbing oleh satu pendeta juga. Di kota ini saya tinggal, di sebuah gereja milik seorang pendeta tua, beliau sangat dihormati oleh penduduk kota karena ilmu, agama, dan zuhud-nya, namanya Naklaw Martil. Beliau sangat berbeda dari para pendeta Kristen lainnya, tak ayal berbagai pertanyaan agama datang kepada beliau dari berbagai negeri khususnya dari kalangan para raja, dan pertanyaanpertanyaan itu datang dengan berbagai hadiah mewah sebagai bentuk tabarruk.

Maka saya pun mempelajari darinya ilmu ushul agama Kristen dan hukum-hukumnya sambil mengabdi kepadanya dengan mengerjakan semua tugas-tugasnya. Karena ketekunan dan pengabdian saya, maka salah satu dari orang terdekatnya menyerahkan seluruh kunci tempat tinggal dan gudang makanannya ke tangan saya, serta tidak ada yang terlewatkan kecuali beberapa kunci sebuah ruangan kecil yang terdapat di dalam rumahnya, yang ia (pendeta Naklaw Martil) gunakan untuk ber-kholwah atau menyendiri di dalamnya. Itu adalah gudang harta pendeta Naklaw Martil, yang ia dapatkan dari hadiah-hadiah yang diberikan kepadanya, dan Allah  lah Yang Maha Tahu isinya. Maka saya pun ber-mulazamah kepada pendeta Naklaw Martil dengan membaca ilmuilmu Kristen dan mengabdi padanya selama sepuluh tahun.

Lalu suatu hari ia jatuh sakit sehingga membuatnya tidak bisa menghadiri kajiannya, sementara seluruh peserta kajian menunggunya sambil mendiskusikan beberapa permasalahan dalam ilmu Kristen hingga mereka pun sampai kepada firman Allah kepada Nabi Isa  bahwasanya akan datang setelah beliau seorang Nabi bernama Parakletos atau Paraclete (“Muhammad” dalam bahasa Yunani).

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *