Masyarakat Paling Ramah

 

Sudah dimaklumi bahwa setiap bangsa memandang bahwa mereka adalah masyarakat yang paling mulia. Untuk menguatkan anggapan tersebut, biasanya mereka menyebutkan kisah-kisah, menceritakan hikayat-hikayat, menggubah lagu-lagu, dan merangkai bait syair-syair tentang betapa ramah dan pemurahnya mereka. Masyarakat Arab, sebagaimana umumnya bangsa lain, berkeyakinan mereka adalah masyarakat yang paling ramah. Adalah wajar juga, bangsa Indonesia menilai diri mereka pula sebagai masyarakat yang paling ramah. Seperti bangsa-bangsa lain, tentu mereka juga berhak untuk itu.

Hanya saja, jika dibahas secara rinci dan dilakukan perbandingan antara berbagai bangsa, secara objektif, saya menyatakan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang paling ramah di antara berbagai bangsa yang –dengan takdir Allah– telah saya kunjungi termasuk dari rumpun bangsa Arab yang merupakan entitas pribadi saya. Rasanya mustahil bagi saya untuk menyebutkan satu per satu contoh-contoh kebaikan mereka, karena begitu banyaknya. Namun, saya akan ceritakan kunjungan terakhir saya ke Indonesia, tepatnya Jawa Timur, bersama Mufti Masjidil Haram, Syaikh ‘Abdurrahman Qashshash.

Sebelumnya, saya berkoordinasi dengan pimpinan Qiblati untuk memesan  penginapan untuk kami. Tetapi pada dasarnya saya berharap ada seseorang yang menjamu dan menjadi tuan rumah bagi kami. Bukan untuk mengamankan biaya, tetapi supaya Mufti bisa merasakan keramahan masyarakat Indonesia. Tiba-tiba saja saya mendapat kejutan, harapan saya terkabul. Salah seorang pembaca Qiblati, Pak Saroso, mengetahui rencana kedatangan kami. Beliau secara suka rela mengizinkan kami sepenuhnya memakai rumah dan mobilnya. Tawaran baik ini nyaris saya tolak, karena saya berpikir tentunya Pak Saroso akan membiarkan kami berdua di rumah, dan itu pun tentunya cukup sebagai bukti kemuliaan, keutamaan, dan kebaikan beliau yang begitu besar. Ternyata, beliau sama sekali tidak memembiarkan kami begitu saja, beliau menemani dan melayani kami di rumahnya, begadang demi kenyamanan kami, dan mendampingi kami ke tempat-tempat yang kami tuju.

Saya menyesal telah menyusahkan laki-laki dermawan ini, yang telah memuliakan kami sedemikian baiknya. Terima kasih Pak Saroso atas apa yang telah Anda berikan kepada kami. Akan tetapi sungkan rasanya kembali menginap di rumah Anda, karena kami telah membuat anda lelah.

Tentu Anda tidak tahu betapa kerisauan saya terhadap pengorbanan Anda. Bahkan lebih dari itu, kerisauan saya jadi berlipat-lipat dengan bergabungnya sahabat beliau, pembaca Qiblati yang lain, Pak Tri, ikut begadang untuk melayani kami. Saya pernah keluar kamar di tengah malam buta, dan mendapati beliau tertidur di luar seakan-akan beliau itu satpam kami. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa Anda Pak Tri. Maafkanlah kami; telah membuat Anda sangat kelelahan. Ketika Anda menyatakan kecintaan Anda kepada saya, saya mengatakan bahwa saya ganti cinta yang anda berikan dengan cinta juga. Semoga Allah memberikan taufik kepada saya untuk membalas kebaikan Anda.

Tidak lupa Pak Totok, juga pembaca Qiblati, yang  dengan sukarela menyambut kami di Bandara Juanda Surabaya untuk mengantar kami menempuh perjalanan yang melelahkan menuju Bondowoso, Jember, dan berakhir di Malang. Kurang lebih tiga puluh enam jam beliau mengerahkan upaya yang tidak dapat diremehkan. Semoga Allah memberikan imbalan terbaik kepada beliau.

Ada lagi Pak Ahmadi, Ketua Takmir Masjid al-Ghifari yang segera mengunjungi begitu kami menginjakkan kaki di Malang, sebagai ungkapan rasa suka, kebahagiaan dan kerinduan beliau terhadap kedatangan kami. Kecintaan, kebahagiaan, kerinduan Anda kami balas dengan cinta, kebahagiaan, dan kerinduan juga wahai Pak Ahmadi.

Adapun tentang undangan makan, maka perlu penjelasan tersendiri. Mereka betul-betul telah memuliakan kami, makan malam hingga sarapan pagi. Terutama saudara-saudara di Masjid al-Ikhlash, Masjid Manarul Islam, Masjid al-Ghifari, dan Masjid al-Umm. Sebagaimana biasanya, seorang pebisnis, Pak Ges Bawazir pun mengundang kami makan malam. Demikian juga Ustadz Zubair. Kemudian H. Yunus, H. Irji’, Pak Terang dengan jamuan mereka masing-masing. Yang terakhir ditemani sahabat kami Pak Hepta. Undangan makan siang kami terima dari Pak Mariyono. Kegembiraan kami bertambah dengan turut sertanya keluarga pak  Sudarwanta Dari Surabaya, keluarga Pak Daswar Basri dari Bekasi, demikian juga Ustadz Mujib dari kota Kediri. Mereka adalah para pembaca Qiblati yang ingin berjumpa dengan kami. Demi Allah, betapa mulianya hati mereka. Menempuh perjalanan jauh untuk berjumpa dengan kami?! Ini membuat saya bertekad untuk membalas kunjungan mereka semampu saya.

Begitu bertolak dari Bandara Juanda Surabaya menuju Bondowoso, kami telah kelelahan karena perjalanan panjang disertai kegiatan yang cukup menguras tenaga. Setelah di Singapura kami ke Jakarta, kemudian ke Medan, lalu langsung ke Surabaya, kemudian ke Bondowoso. Karena itu kami terpaksa berhenti sebelum memasuki Basuki di daerah Paiton. Kami disambut dengan hangat oleh Ustadz ‘Abdullah Hamadah, Hakim Bal’afif dan lain-lain. Mereka mencarikan penginapan untuk kami yang ternyata digratiskan oleh pemiliknya, saudara  Taufik Bal’afif. Kami berterima kasih banyak atas sambutannya, demikian juga dengan semua ikhwah yang lain. Semoga Allah memberkahi mereka semua. Bahkan sepanjang jalan-jalan penghubung antar kota kami mendapatkan saudara dan orang-orang yang mencintai.

Pagi ketika sampai di Bondowoso, Pak Khazim Bal’afif menyambut kami menyediakan rumahnya untuk kami beristirahat. Beliau telah menyiapkan sarapan pagi dan makan siang di rumah untuk kami dan sejumlah ikhwah. Beliau telah menghidangkan jamuan terbaik. Semoga Allah I memberikan imbalan yang terbaik kepada beliau.

Kota Jember, tidak perlu lagi saya bercerita banyak tentangnya. Paman Muhammad Babasith, yang mahir berbahasa Arab dengan dialek Hijaz, menunaikan keramahan yang telah menjadi hobinya. Juga tidak lupa Saudara saya, Ustadz Amin Rajab, atas sambutan baiknya yang selalu mendampingi kami selama di Jember. Demikian juga sambutan Dr. Dwi untuk kami di rumahnya. Kiranya Allah menganugerahkan imbalan terbaik kepada penduduk Jember.

Saudara Abu ‘Ali, penanggung jawab majalah Qiblati, dalam perjalanan antar kota ini, memberi tahu kami harapan salah seorang pembaca agar kami singgah ke rumahnya. Terkadang beliau juga menyampaikan keinginan seorang ustadz supaya kami mampir di rumahnya. Akan tetapi karena Mufti sudah kecapaian, kami meminta maaf tidak dapat mengabulkan ajakan tersebut. Sekali lagi saya meminta maaf, karena lebih memilih untuk memenuhinya pada kesempatan lain dengan izin Allah.

Saya juga tidak akan melupakan penduduk kota Medan yang baik-baik, yang telah begitu memuliakan kami. Masjid yang salah seorang pengurusnya saudara Abdurrahim al-‘Amriy mengadakan jamuan makan malam besar yang beragam, tidak lupa kurma dan Zam-zamnya. Bahkan, pada saat kami hendak pergi, saudara Abdurrahim mengejutkan kami dengan berbagai buah tangan, termasuk Zam-zam dan kurma mahal –sementara kami adalah empunya kurma dan zamzam–, beliau seakan-akan tidak ingin kami terputus dari keduanya dalam perjalanan kami. Semoga Allah memberikan imbalan terbaik kepada mereka.

Barangkali para pembaca menyangka bahwa semua sambutan hangat yang spektakuler ini, dengan segala pernak-perniknya tersebut, memakan waktu dua atau tiga minggu. Kenyataannya akan mencengangkan para pembaca yang budiman, karena semua itu berlangsung hanya dalam empat hari saja, dan masih banyak rincian kejadian yang belum saya ceritakan. Bagaimana kiranya jika lebih banyak saya ceritakan? Selain itu, masih terdapat undangan-undangan dan acara-acara yang –kami memohon maaf– tidak bisa memenuhinya.

Tidak diragukan lagi, bahwa ramah-tamah merupakan sifat agung yang patut dibanggakan. Jika suatu saat keramah-tamahan itu dapat berbicara, dan ingin menulis satu karangan yang abadi, saya yakin dia akan memberinya judul, “Bola Dunia Negara Indonesia di sisi Samudera Hindia (Indonesia).

Pemaparan sederhana dan singkat ini sesungguhnya cukup memberi gambaran tentang sejatinya keramah-tamahan bangsa Indonesia. Saya yakin, bahwa masyarakat Indonesia adalah komunitas terbaik dalam hal pemurah dan lemah-lembutnya. Seandainya saja saya bukan orang Arab, pastilah saya berharap menjadi orang Indonesia.

 

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *