Pertanyaan:

   Syekh, saya sudah berumah tangga dengan seorang wanita luar negeri. Kami tinggal di Eropa. Aku memiliki seorang anak laki-laki dan dua anak perempuan masing-masing berusia 7 dan 4 tahun. Setiap hari aku berupaya agar mereka menghafal Al-Qur’an dan memberikan nasehat kepada mereka tentang banyak hal diantaranya adalah pikiran-pikiran syetan dan kiat untuk menanggulanginya. Suatu ketika anak laki-lakiku mengatakan kepadaku bahwa syetan pernah berkata kepadanya pada suatu hari, “Aku akan membunuh bapakmu”. Cerita yang aku sampaikan ini adalah cerita yang senyatanya. Sekarang aku merasa khawatir. Apakah hal ini terjadi karena upayaku agar anak-anakku menghafal Al-Qur’an? Apakah pikiran yang ada di kepala anak saya ini disebabkan berbagai pelajaran baru yang kusampaikan kepadanya tentang syetan yang suka memberikan was-was?. Apakah sebaiknya aku terus berupaya agar anak-anakku menghafal Al-Qur’an ? Apakah satu hal yang wajar ada seorang anak yang berusia 6 tahun memiliki pikiran yang semisal di atas ?

 Jawaban:

Saudaraku kami berdoa kepada Allah agar Allah  memperbaiki niat anak dan cucu kita dan menjadikan sifat keshalihan sebagai warisan untuk anak cucu kita sampai hari pembalasan serta semoga langkah-langkah kita selalu dibimbing menuju kebenaran.

Kami sangat berterima kasih karena engkau masih memiliki antusias tinggi untuk melalukan kebaikan. Tidak semua ayah memiliki semangat yang besar untuk mengajarkan Al-Qur’an dan hukum-hukum Islam kepada anak-anaknya. Pada saat anak-anak tersebut tumbuh di negeri barat maka kita berkewajiban untuk secepat mungkin menanamkan nilai-nilai Islam dalam dirinya sebelum mendapatkan pengaruh negatif dari lingkungan sekitar. Kami berharap agar konsentrasi pokok yang pertama kali dalam mendidik anak adalah untuk menghafal Al-Qur’an.

Demikian juga hendaknya kita berusaha semaksimal mungkin untuk menanamkan pokok-pokok akidah dengan menggunakan bahasa sederhana yang mudah dipahami oleh anak kecil. Boleh jadi menyampaikan tentang pikiran-pikiran syetan itu belum bisa ditangkap oleh akal anak kecil. Tambahan lagi mengkonsentrasikan nasehat dan pembicaraan dengan anak tentang syetan dan betapa besar pengaruh dan perbuatan-perbuatan syetan bukanlah tindakan pengajaran yang benar. Tipu daya syetan itu sangatlah lemah dan syetan tidak mempunyai kekuasaan untuk menyesatkan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang bertawakal kepadaNya. Tabiat seorang anak yang masih dalam fase kanak-kanak  adalah kecenderungan dengan hal-hal yang bersifat imajinatif.

Boleh jadi ucapannya di atas disebabkan karena anda membesar-besarkan peran dan pengaruh syetan. Sebenarnya Anda cukup mengajari dan menjelaskan kepada anak bahwa seorang muslim itu memiliki kewajiban untuk tidak mengikuti was-was syetan. Juga ditanamkan bahwa anak yang baik itu sayang dengan kedua orang tuanya dan tidak menghunuskan senjata dihadapan siapapun karena membunuh orang itu terlarang. Jika was-was seperti ini timbul hendaknya kita  mengucapkan taawwudz, ‘audzubillahi minasyaitonir rajim. Tidak ada alasan untuk cemas dan takut. Yang terpenting adalah kita menyimak ulang berbagai hal yang disaksikan oleh anak kita di televisi. Dan orang tua diharapkan memprioritaskan agar anak menghafal Al-Qur’an dan menanamkan pemahaman dalam diri anak bahwa Islam adalah agama yang penuh dengan kemudahan. Begitu pula orang tua berkewajiban untuk menanamkan prinsip bakti kepada orang tua dan rasa cinta kepada setiap muslim dalam diri mereka.

Jika ada seorang anak yang memiliki pikiran-pikiran semacam ini maka orang tua berkewajiban untuk tidak mengacuhkannya dan tidak memperdulikannya. Jika seorang anak kecil merasa bahwa orang tuanya memiliki perhatian yang besar atau rasa takut kepada ucapannya maka dia akan terus melestarikan pikiran-pikiran semacam ini dan selalu berupaya menarik perhatian orang lain. Pepatah Arab mengatakan, “Setiap hal yang dilarang itu malah disukai banyak orang”. Agar kita tidak mendapatkan dampak negatif karena aktivitas menghafal Al-Qur’an maka perhatian untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak harus tetap dipertahankan. Inilah jalan keselamatan bagi anak di dunia dan akhirat.

Penelitian ilmiah terkini menegaskan bahwa menghafal Al-Qur’an itu menambah kecerdasan. Apa ada orang yang punya perhatian tinggi kepada Al-Qur’an lalu Allah tidak memberikan hidayah dan taufik kepadanya ?

Kami berdoa kepada Allah agar memperbaiki anak keturunan kita dan memberikan langkah-langkah yang tepat pada kita semua.