Muru’ah Adalah Tabiat Jiwa Yang Bersih

Oleh: Mahir as-Sayyid

 

Hakikat dari muru’ah:

Muru’ah adalah sebuah karakter yang diciptakan diatas jiwa yang bersih, sebuah tabiat yang diatasnyalah cita-cita tinggi itu ditanamkan. Sesungguhnya muru’ah itu adalah perhiasan jiwa, dan cita-cita.

Sesungguhnya hakikat muru’ah adalah berhiasnya jiwa dengan sifat-sifat sempurna yang menjadikan manusia berbeda dengan hewan dan syetan yang terkutuk. Muru’ah adalah kemenangan akal atas syahwat. Batasan muru’ah adalah penggunaan sesuatu yang memperindah dan menghiasi seorang hamba, serta meningalkan sesuatu yang mengotori dan merusaknya. Apakah hal tersebut berkaitan dengan dirinya sendiri atau melampaui batas terhadap orang lain.

Al-Ahnaf ibn Qais berkata: Muru`ah adalah iffah (hidup bersih, terhormat) dan hirfah (berkarya).”

Imam Ibnu Sallam berkata: : “Setiap sesuatu yang membawa kepada kebaikan dunia dan akhirat, membangkitkan kemuliaan hidup dan mati maka itu masuk ke dalam muru`ah.”

Sebagian salaf berkata, ‘Allah I menciptakan malaikat sebagai makhluk yang berakal tanpa syahwat, dan menciptakan hewan dengan syahwat tanpa akal, dan Allah ciptakan anak Adam dengan akal dan syahwat sekaligus. Maka, siapa saja yang akalnya mengalahkan syahwatnya, dia akan bergabung dengan malaikat, dan siapa yang syahwatnya mengalahkan akalnya, maka dia bergabung dengan hewan.

Muru’ah segala sesuatu sesuai dengan kadarnya:

Jika kita telah mengatahui bahwa muru’ah adalah penggunaan segala akhlak yang baik, serta menjauhi segala akhlaq yang buruk, maka sesungguhnya bagi setiap anggota badan memiliki ukuran muru’ah sendiri-sendiri:

Muru’ahnya lisan adalah kata-katanya yang manis, baik dan lembut.

Muru’ahnya akhlaq adalah keluasan, dan kelapangannya terhadap orang yang dicintai dan yang di benci

Muru’ahnya harta adalah pembelanjaannya dalam hal-hal terpuji baik secara syar’i, akal maupun adat kebiasaan.

Muru’ahnya jabatan adalah pencurahannya bagi orang-orang yang membutuhkannya.

Muru’ahnya berbuat baik adalah penyegeraannya, dan kemudahannya, tidak riya’, dan meninggalkan angan-angan dalam berbuat kebaikan.

Inilah dia muru’ahnya pencurahan dan pemberian, adapun maksud muru`ahnya at-tark ( meninggalkan)  adalah meninggakan pertengkaran, perdebatan, caci maki dan hinaan serta melalaikan atau memaafkan ketergelinciran manusia.

Pendorong-pendorong muru’ah

Sesungguhnya pendorong terbesar bagi muru’ah adalah dua hal:

Salah satunya adalah kemauan tinggi, dan yang kedua adalah kemuliaan jiwa.

Adapun kemauan yang tinggi, maka dia adalah pendorong untuk maju serta meningkat dalam nilai-nilai yang mulia sebagai harga dirinya, dan sebagai pengingkaran terhadap kedudukan yang rendah. Oleh karena itulah Nabi r bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ مَعَالِيَ الأُمُورِ وأَشْرَافَهَا ، وَيَكْرَهُ سَفَاسِفَهَا

“Sesungguhnya Allah mencintai perkara-perkara yang luhur ( utama ) dan mulia, serta membenci perkara-perkara yang rendah.” (Shahih, HR. at-Thabrani dalam al-Ausath, dishahihkan oleh al-Albani, Silsilah as-Shahihah (1627))

Adapun kemuliaan jiwa, maka dengannya pelajaran itu diterima, dan pelurusan itu bisa mantap, dikarenakan jika jiwa itu mulia maka jiwa itu akan mencari adab, menyukai keutamaan, serta jauh dari perkara-perkara rendah dan hina.

Syarat-Syarat muru’ah dan hak-haknya:

Sebagian mereka menyebutkan bahwa muru’ah memiliki hak-hak dan syarat-syarat, dan itu terbagi menjadi dua bagian:

Pertama, syarat muru’ah di dalam jiwa, kedua, syarat-syarat muru’ah pada yang lain.

Adapun syarat muru’ah didalam jiwa, maka syarat-syarat itu adalah:

  1. iffah (menjaga kesucian), terbagi menjadi dua; menjaga kesucian dari apa-apa yang diharamkan, yaitu dengan menjaga kemaluan dari yang haram, serta menjaga lisan dari kehormatan orang lain, dan yang kedua adalah menjaga kesucian dari dosa-dosa.
  2. Nazahah (membersihkan), yaitu membersihkan diri dari ketamakan duniawi, serta sikap keragu-raguan dan tuduhan.
  3. Shiyanah (membentengi diri); ada dua macam; yaitu membentengi diri dengan memakai apa saja yang mencukupinya; membentenginya dari mengungkit-ungkit kebaikan orang lain.

Syarat-syarat muru’ah terhadap orang lain

Ada tiga;

  1. Saling menolong dan saling mendukung, yaitu membantu meringankan beban dengan kedudukannya, dan meringankan beban dalam perwakilan.
  2. Saling memberikan kemudahan; yaitu toleransi dan kemudahan; terbagi atas dua macam; memaafkan kekeliruan, serta toleransi terhadap hak-hak.
  3. Mengutamakan; maka yang memiliki muru’ah, dia akan dermawan dengan hartanya. Ada kalanya dia berderma dengan hartanya kepada orang yang menunaikan kebaikan kepadanya sekalipun sedikit. Sebagaimana as-Syafi’i j berderma kepada seorang pemuda yang mengambilkan cemetinya saat jatuh darinya kemudian memberinya tujuh dinar. Kadang pula dia berderma untuk mengikat hati, atau untuk melindungi kehormatan dari orang-orang hasad, pendengki, dan orang-orang bodoh. (AR)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *