Nasib Umat Islam di Korea

Oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi

Di Korea Iman Saya Menipis. Saya Harus Pulang

Curhat:
Untuk penulis dan pembaca semuanya, saya ingin curhat. Saya seorang muslim yang sedang bingung. Saya sekarang bekerja di Korsel (TKI). Sudah 2 kali saya ke sini: pertama Juni 2002 – Juni 2005. Saya pulang nikah, punya putra (2, 5 thn), kemudian ke Korsel lagi Agustus 2007. Entah apa namanya, depresi atau mungkin stress berat?! Sekarang, saya adalah seorang muslim yang sedang runtuh imannya.
Saya tinggal di negara yang liberal, yang mayoritas masyarakatnya tidak mengenal Tuhan (atheis). Saya ingin pulang ke tanah air tercinta Indonesia, tapi saya bingung mau kerja apa di negara tercinta? Saya hanya lulusan sma yang gak punya keterampilan khusus. Dulu saja waktu saya pulang beli kios, jualan sembako bareng orang tua. Gak untung malah rugi, modal 50 jt habis.

Penulis dan semua pembaca. Pikiran saya sekarang terkontaminasi pikiran2 mayoritas orang Korsel yang tidak percaya Tuhan. Dari yang banyak saya kenal mereka adalah tidak percaya adanya Tuhan. Dulu pernah waktu teman saya sedang sholat teman Korsel saya tanya. Itu sedang apa? Saya jawab sedang kido (berdoa kepada Tuhan). Dia malah bilang pabo saram (orang bodoh) Tuhan itu gak ada, surga itu omong kosong, sesudah kita mati ya udah, kett (tamat). Buat apa “kido”? Nyape-nyapein aja katanya.
Trus adalagi ibu-ibu yang bekerja di siktang (kantin). Saya tanya ajuma (bibi) agamanya apa? Terus dia jawab opso (gak ada). Katanya dia gak punya agama, dan won/ton/uang adalah Tuhannya. Kata dia dengan uang dia bisa makan. Dan kata dia Tuhan gak bisa kasih uang.
Dan ada lagi cerita temen saya yang juga bekerja di Korsel, katanya waktu dia selesai sholat, sajangnim (boss) nya bertanya apa yang kamu sembah? Temen saya jawab hananim (Tuhan), terus sajangnim nya tanya lagi apa Tuhan kamu suka kasih kamu uang? Temen saya jawab: tidak, sajangnimnya terus ngomong, jadi buat apa kido (sholat) kalau Tuhan kamu gak bisa kasih uang, yang ngasih uang sama kau tuh saya, jadi kido nya sama saya saja kata sajangnimnya sambil tertawa.
Dan ada lagi teman Korsel saya yang masih muda. Dia tanya pada saya kenapa gak makan daging babi? Kata saya kata agama Islam kalau makan daging babi nanti masuk hell (neraka, saya kadang kalau bicara di campur nahasa inggris jika bahasa koreanya tidak ngerti). Terus temana saya itu (KIM IN SUNG) tertawa terpingkal-pingkal. Tangshin nomu paboya (kamu sangat goblok). Kata dia kenapa alasannya makan daging babi masuk neraka??? Saya jawab karena Islam mengajarkan demikian.. Dia terus bilang saya pabo sambil geleng- geleng kepala.
Dan tempat saya bekerja sekarang. Kong jangjangnimnya sering tanya kenapa saya gak makan babi? Jawaban saya sekarang lain, karena kalau makan daging babi nanti saya di penjara. Terus dia bilang kamu sekarang di Korsel, gak apa2 makan babi kan polisi tidak tahu. Saya jawab lagi nanti kalau pulang tubuh saya di scan bisa ketahuan sudah makan daging babi, nanti saya bisa di penjara. Kata dia oohhhh. Berapa lama di penjaranya? Kemudian saya jawab sam nyon (3 tahun). Terus dia nya manggut-manggut. Terus tanya lagi maja? (benar?) Mungkin dia penasaran dan gak percaya. Tapi kemudian saya jawab majayooo (bener sekaliiii) sambil meyakinkan. Terus dianya cuman diem sambil terus ngeliatin saya.
Dan wahai pembaca semuanya. Pikiran saya sekarang terkontaminasi pikiran2 kebanyakan orang Korsel (saya sudah hampir 5 tahun tinggal di Korsel, sudah kerja di 5 tempat bebeda, sudah banyak mengenal orang Korsel, hanya sedikit yang beragama, sedikit sekali) berapa lamakah keabadian itu, apakah kita akan kekal di akhirat nanti? Berapa tahun? 100 tahun kah? 1000 tahunkah? Atau 1 juta tahunkah? Atau 1 milyar tahunkah? Atau 1 triliun tahunkah? Atau 1 milyar triliun tahunkah? Berapa tahunkah keabadian itu???
Kemudian, jika saya melihat orang Korsel yang baik kadang saya bertanya apakah mereka masuk neraka? Dan jika ada orang selain agama Islam yang taat pada agamanya apakah dia juga masuk neraka?
Apakah? Apakah? Apakah? Apakah? Dan masih berjuta-juta apakah yang ada di otak saya sekarang.
Penulis dan pembaca semuanya. Saya ingin pulang ke Indonesia. Karena sebenarnya sudah tidak kuat berlama-lama di Korsel saya ingin sujud khusyu di mushola. Saya ingin bersama jamaah lainnya berdzikir di musholla dan masjid-masjid di sini (sekitar tempat saya kerja) gak ada masjid. Dan di kisuksa (asrama) saya jarang. Jarangggg sekali sholat. Kadang2 saja saya sholat Demi Allah Saya ingin sekali pulang. Tapi nanti Saya mau kerja apa? Sementara istri saya nganggur. Ortu saya hanya pedagang kecil yang hidup pas-pasan dan mertua saya supir dengan penghasilan sangat kecil. Saya kerja di sini, penghasilannya buat biaya hidup di rumah. Saya kadang ingin berteriak. Kenapa sulit sekali hidup di Indonesia? Andai saya gak pernah ke Korsel saya gak mungkin bisa menulis ini. Internet saya gak akan pernah mengenalnya jika saya gak kesini. Bisakah saya punya usaha yang layak di Indonesia dengan modal 15 juta? Saya rindu tanah air saya rindu musholaku (dulu saya rajin adzan di mushola dekat rumahku) saya rindu indonesia karena di sini saya tersesat.
Penulis dan pembaca semuanya, Adakah yang bisa bantu saya? Saya ingin pulang dan bisa kerja/ ada usaha untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Saya ingin bisa damaikan hati saya yang kacau ini, pikiran saya selalu gelisah ingin pulang. Tapi saya tidak berani pulang. Karena takut saya tidak bisa mencukupi kebutuhan keluargaku. Saya seorang kepala rumah tangga. Saya harus berusaha agar anak istri saya tidak kelaparan. Saya waktu pulangpun sempat jualan mainan anak-anak. Tapi gak laku/penghasilannya gak mencukupi kebutuhan terus jualan jajanan juga gak laku karena di pasar terlalu banyak saingan. Dan yang bermodal besar yang selalu menang dengan politik dagang mereka ambil untung kecil gak apa-apa asal bisa laku banyak. Sedangkan saya yang bemodal pas2an gimana???? Saya ingin pulang, tolong carikan saya solusi yang bisa bantu saya. Saya ingin pulang dan punya usaha di Indonesia untuk saya bisa mencukupi kebutuhan keluarga Saya.
Terimakasih semuanya
Wassalamualaikum
Jawaban:
Hayyakallah, wahai saudaraku yang mulia, selamat datang di hati dan pandangan kami.
Sesungguhnya, rintihan hatimu ini sangat membuatku bersedih. Sungguh aku ikut merasakan kehidupanmu di dalam setiap lininya. Mudah-mudahan rintihanmu ini menjadi sebuah pelajaran bagimu dan selainmu, agar mereke berfikir ulang untuk tinggal di negeri orang-orang kafir. Bahaya bepergian ke negeri-negeri orang kafir adalah sangat besar. Nabi Sholallohu `alaihi wa sallam bersabda:
« أَنَا بَرِيءٌ مِنْ كُلِّ مُسْلِمٍ يُقِيمُ بَيْنَ الْمُشْرِكِينَ »
“Aku berlepas diri dari setiap muslim yang tinggal diantara orang-orang musyrik. ” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah at-Turmudzi, Ibnu Hajar Rohimahulloh berkata, ‘Sanadnya Shahih, dan al-Bukhari merajihkan riwayat yang mursal’)
Beliau Sholallohu `alaihi wa sallam juga bersabda:
« لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْ مُشْرِكٍ عَمَلًا بَعْدَمَا أَسْلَمَ أَوْ يُفَارِقَ الْمُشْرِكِينَ »
“Allah tidak akan menerima amal seorang musyrik setelah dia masuk Islam hingga dia memisahkan diri dari orang-orang musyrik (hijrah bergabung dengan kaum muslimin). ” (HR. An-Nasa`i)
Betapa banyak diantara orang-orang muslim yang pergi ke Negara-negara kafir, kemudian pulang sebagai orang kafir. Oleh karena itulah pergi ke negeri orang-orang kafir tidak diperbolehkan kecuali karena kebutuhan mendesak, juga bagi orang yang memiliki ilmu dan pengetahuan hingga dia bisa menjawab syubhat-syubhat orang kafir. Maka apa faidahnya seorang muslim mengumpulkan uang di negera kafir kemudian dia pulang sebagai orang kafir?! Sesungguhnya kondisi yang anda alami itu merupakan bukti akan kebenaran risalah Nabi kita Sholallohu `alaihi wa sallam .
Anda, pada saat ini tengah melewati tingkatan terburuk yang pernah dilewati oleh seorang muslim sebelum kekufuran, yaitu marhalah kebingungan dan ketersesatan. Bagaimana mungkin anda tidak terseset, sementara anda hidup bersama dengan orang-orang yang tidak mengimani keberadaan Sang Pencipta alam semesta? Termasuk hal biasa bagi mereka kalau Tuhan itu tidak ada, sorga hanyalah khayalan, kemudian setelah mati tidak akan ada apa-apa, dan ibadah tidak akan memberikan manfaat kepada pelakunya!!?
Tahukah anda bahwa mereka itu telah sampai pada tingkatan atheisme, dan kesyirikan yang tidak ada seorangpun diantara manusia yang sampai pada tingkatan mereka, hingga kaum musyrik jahiliyah pun lebih utama dari mereka, seperti perbedaan langit dan bumi.
Orang-orang jahiliyah dulu, saat al-Qur`an turun dengan bahasa mereka, mereka memahami apa yang ada padanya. Jubair bin Muth’im –yang kala itu masih musyrik- t berkata, ‘Tatkala aku mendengar Nabi Sholallohu `alaihi wa sallam membaca:
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ (٣٥)
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri) ?” (QS. At-Thur: 35) Hampir-hampir jantungku terbang (copot).
Dan dalam riwayat yang lain, ‘Maka masuklah keimanan kedalam hatiku.
Maka perbedaan antara orang-orang jahiliyah dengan orang-orang itu adalah bahwa mereka orang-orang ‘ajam (bukan orang Arab), dan diatas itu semua, anda dapati banyak diantara mereka yang mabuk hilang akal, kecanduan permainan-permainan, musik-musik, bercampur dengan kaum wanta, pecandu judi dan riba. Maka sungguh benar Allah yang telah berfirman dalam mensifati mereka, bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak berakal, tidak mendengar, tidak mendapat hidayah dan tidak berfikir.
Maka jika harta itu adalah Tuhan, apakah harta tahu apa yang ada didalam dada-dada manusia?
Apakah harta mampu mengabulkan do’a?
Apakah harta mampu menciptakan manusia yang tidak bisa tidur?
Apakah harta mampu menciptakan untuk kita manusia yang tidak buang air kecil dan besar?
Demi Allah, seandainya mereka mengizinkan akal mereka untuk berpikir sebentar, pastilah mereka akan mendapati perbuatan Allah pada diri mereka, hati, dan keinginan-keinginan mereka. Pastilah mereka tahu akan keberadaan Sang Pencipta. Bukankah mereka kadang menemukan bahwa mereka berkeinginan untuk merealisasikan suatu perkara dengan harta, kemudian mereka merancangnya, lalu rancangan keinginan mereka itu tidak terealisasi? Malah menjadi perkara lain?
Maka kita bertanya, ‘Siapakah yang memalingkah perkara tersebut kepada perkara lain selain Allah? Maha benar Allah Subhanaahu wa Ta`ala yang telah berfirman:
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لا تَعْمَى الأبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ (٤٦)
“. Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. ” (QS. Al-Hajj: 46)
Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya termasuk kenyataan yang paling besar dan agung pada fitrah dan akal manusia adalah hakikat keberadaan Allah Subhanaahu wa Ta`ala . Dan hakikat ini adalah hakikat yang diterima dan diakui oleh akal. Tidak akan ditemukan padanya kecuali dua kemungkinan, tidak ada kemungkinan ketiga.
Pertama, bahwa wujud makhluk itu tanpa Pencipta, dan ini musthil, setiap akal pasti akan mengingkarinya, jadi harus ada pencipta bagi setiap makhluk, bagi suatu produk ada produsennya. Maka yang tidak ada tidak akan mungkin menciptakan.
Kedua, merekalah yang menciptakan diri mereka sendiri, dan yang menciptakan langit serta bumi. Ini juga mustahil. Tidak ada seorangpun yang mengaku menciptakan dirinya sendiri, lebih lebih yang menciptakan langit dan bumi. Seandainya ada seorang yang mengaku bahwa mereka menciptakan diri mereka sendiri, pastilah dia akan dituduh sebagai orang gila. Maka tidak tersisa kecuali bahwa alam semesta ini memiliki pencipta dan dia adalah Allah swt.
Jika seorang hamba sudah mengakui keberadaan Sang Pencipta Subhanaahu wa Ta`ala , maka hal itu mewajibkan baginya untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan beribadah, serta bersegera untuk mendapatkan keridhaan-Nya.
Adapun berkenaan dengan pertanyaanmu, apakah orang-orang kafir yang memiliki akhlak yang terpuji akan masuk neraka. Maka kami katakan, “Ya. Mereka akan masuk kedalam neraka.” Setiap orang yang telah sampai kepada mereka risalah Muhammad Sholallohu `alaihi wa sallam dan tidak masuk kedalam agama Islam, maka mereka akan berada dalam api neraka. Allah Subhanaahu wa Ta`ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ (٦)
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. ” (QS. Al-Bayyinah: 6)
Nabi Sholallohu `alaihi wa sallam bersabda:
« وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ »
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah seorangpun yang mendengarku dari umat ini, Yahudi atau orang nasrani, kemudian dia mati dan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, melainkan dia termasuk penghuni neraka. ” (HR. Muslim (153) )
Bukanlah menjadi ukuran jika akhlak mereka adalah akhlak yang terpuji, namun yang menjadi ukuran adalah ketundukan mereka kepada Allah dan perintah-perintah-Nya. Tidakkah anda melihat orang-orang Majusi, atau Budha yang menyembah selain Allah, missal menyembah api atau patung, mereka tidak beribadah kepada Allah, dan mengakui bahwa apa yang mereka lakukan kepada selain Allah itu adalah sebuah ibadah. Demikian pula orang-orang Nasrani yang telah mengatakan bahwa Allah Subhanaahu wa Ta`ala mengambil seorang anak, juga orang-orang musyrik lainnya, pada dasarnya mereka semua beraklah buruk kepada Allah Subhanaahu wa Ta`ala . Mereka mencela dan mencaci-Nya, maka bagaimana mungkin akhlak mereka menjadi terpuji sementara mereka berakhlak buruk kepada Allah Subhanaahu wa Ta`ala ? Allah, yang telah menjadikan pendengaran, dan penglihatan bagi mereka? Yang telah memudahkan bagi mereka segala sesuatu, yang telah mengutus seorang utusan kepada mereka? Yang telah menuruhkan kitab kepada mereka? Yang telah mencurahkan segenap nikmat-Nya kepada mereka? Maka seharunya hak-Nya yang harus mereka tunaikan adalah bersyukur kepada-Nya dan bukan mengkufurinya. Maka tatkala mereka tidak merealiskan kewajiban mereka tersebut, merekapun berhak kemurkaan dan hukuman Allah.
Allah Subhanaahu wa Ta`ala berfirman:
وَلا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا (٤٩)
“. Dan Tuhanmu tidak Menganiaya seorang juapun”. (QS. Al-Kahfi: 49)
Dan ingatlah bahwa diantara pembatal-pembatal keIslaman adalah orang yang tidak mau mengkafirkan orang-orang musyrik, atau ragu-ragu akan kekafiran mereka, atau membenarkan madzhab mereka, sama saja apakah mereka yang punya akhlak mulia ataukah tidak.
Adapun berkenaan dengan pertanyaanmu tentang akhirat, maka itu adalah sebuah kehidupan kekal, maka janganlah diqiyaskan dengan kehidupan dunia yang terbatas waktunya dengan zaman tertentu. Kehidupan dunia hanyalah mimpi sementara kehidupan akhirat adalah terjaga. Apa yang kita hidup sekarang ini hanyalah fatamorgana. Kaum muslimin memiliki sorga yang keindahannya belum pernah ada mata yang melihatnya, belum pernah ada telinga yang mendengarnya, dan belum pernah terbersit di hati manusia. Adapun orang-orang kafir dengan segenap sekte mereka, bagi mereka adalah neraak Jahannam yang hitam gelap, tidak akan pernah padam jilatan apinya, tidak pula baranya selamanya. Ya Allah, lindungilah kami dan kaum muslimin dari api neraka.
Saudaraku, sesungguhnya syetan telah mengambil perjanjian atas dirinya sendiri untuk menggelincirkan dan menyesatkan para hamba. Dan karena kerasnya permusuhan, besarnya tipu daya dan kedengkiannya, dia sangat berambisi untuk membinasakan anak cucu Adam dalam jebakan kesyirikan dan kekufuran. Sungguh, syetan telah sukses dalam menyetir manusia, lalu diapun menyetir mereka menuju jurang kesyirikan dan kegelapan kebodohan. Tidak cukup baginya bermain-main dengan orang-orang Yahudi, dan Nasrani, para penyembah sapi dan api, serta juru kunci keberhalaan, bahkan meluaslah tipu dayanya kepada putra-putra kaum muslimin, kemudian dia menggiring mereka menuju kekufuran dan kemunafikan, dia hiasi penginkaran dan penistaan terhadap agama dan aqidah mereka. Jadilah putra-putra kaum muslimin sebagai boneka dihadapannya yang bebas dia menggerakkannya sesukanya.
Maka mintalah perlindungan kepada Allah, jauhkanlah dari anda bisikan-bisikan syetan yang tengah menyala di lingkungan atheis yang sekarang anda hidup didalamnya. Tanamkanlah didalam benakmu akan bahaya paling utama dari atheis dan kekufuran kepada Allah.
Berdirilah wahai saudaraku, berwudhu`lah, usahakanlah agar anda senantiasa dalam keadaan berwudhu`, mulailah hubungan keterikatan anda dengan Rabb-anda, dan hati anda dengan penuh aman dan ketenangan. Perkuatlah keimanan anda dengan memperbanyak amal sunnah, ketaatan, dan segala perkara yang mendekatkan diri seseorang kepada Allah, yang berupa shalat, zakat puasa, dan sebagainya. Jika anda mengamalkan ini semua, iman anda akan menguat, kemudian disisi anda akan ada penutup yang menghalangi syetan yang terkutuk untuk bisa masuk menggoda hati anda.
Kemudian, menjadi tugas kami, di Majalah Qiblati untuk tidak membiarkan anda seorang diri dalam kondisi seperti ini. Kami akan berdiri bersama dengan anda, berusaha mengatur pengadaan kesempatan bekerja bagi anda dengan idzin Allah. Maka kami mohon agar anda terus menghubungi kami, ingatlah bahwa anda memiliki satu negeri nan indah, namanya Indonesia. Anda akan bisa mendengar penyebutan asma Allah pada setiap tempat di buminya. Jika anda rindu mendengar kalimat Allahu Akbar dan Hayya ‘alas shalat, maka bersegeralan dengan segala kemampuan anda untuk pergi, memesan tiket penerbangan pertama yang menuju Jakarta. Dikarenakan masjid yang dulu anda shalat didalamnya, yang dulu anda adzan di dalamnya tengah merindukan anda.
Aku memohon kepada Allah, agar memberikan rahmat-Nya bagi anda, yang dengannya hati anda akan mendapatkan hidayah untuk bisa berdzikir menyebut asma-Nya, bersyukur kepada-Nya, dan memperbaiki ibadah kepada-Nya. (AR)
Sumber: Majalah Qiblati Edisi 11 Tahun IV