Oleh: M. Mujib Ansor, SH.

Khutbah Pertama

Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jum’at Rahimakumullah,
Marilah kita meningkatkan iman dan taqwa, mendekatkan diri kepada Allah, memohon ampun dan bertobat kepada-Nya, sebelum ajal menjemput kita, atau sebelum berbagai musibah dan bencana menimpa kita.

Kemudian mari kita tundukkan kepala sejenak, merenung dan introspeksi…! Negeri kita ini seolah-olah tidak pernah berhenti dari berbagai macam musibah dan bencana, besar maupum kecil. Semenjak gelombang tsunami menerjang Aceh (26 Desember 2004), secara beruntun dan bertubi-tubi musibah itu menimpa kita, bangsa Indonesia, silih berganti: gempa bumi, angin lesus, angin puting beliung dan tornado, tanah longsor, banjir, gunung meletus, berbagai penyakit seperti flu burung, flu babi dll, dan berbagai kecelakaan (darat, laut, dan udara), serta Lumpur Lapindo Porong dan lain sebagainya.


Pendek kata, seolah-olah tiada hari tanpa musibah. Yang kesemuanya menelan korban yang cukup banyak baik korban jiwa maupun materi (harta benda). Terakhir gempa bumi yang meluluh-lantakkan Padang, Sumatra Barat (September 2009).

Kita yang selamat dari musibah itu tentu ikut merasa sedih dan prihatin atas musibah yang menimpa saudara-saudara kita. Kita doakan semoga Allah memeberikan kesabaran, pahala dan ganti yang lebih baik, dan yang meninggal semoga diampuni dosa-dosanya, diterima amal ibadahnya, dan dilimpahi rahmat oleh Allah di alam kuburnya. Amin.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Dari berbagai musibah itu ada ibrah (pelajaran) dan hikmah yang perlu diambil. Tidak cukup hanya membenarkan hasil analisis ilmu pengetahuan yang menegaskan bahwa gempa bumi di Indonesia itu “wajar” alias “fenomena alam biasa”. Karena di wilayah Indonesia ini banyak terdapat gunung berapi (deretan sirkum pasifik) yang menyebabkan terjadinya gempa vulkanik, atau karena terjadinya pergeseran lempeng bumi (yaitu lempeng Indo-Australi dan Indo-Eurasia) yang menyebabkan terjadinya gempa tektonik yang dahsyat (seperti yang terjadi di Aceh) itu. Kita tidak bermaksud menolak itu, tetapi kalau berhenti sampai di sini… ya ini yang namanya sekuler. Menilai segala sesuatu hanya dari sisi dunia dan IPTEK semata, tidak mengaitkan dengan agama. Padahal konsep agama dalam memandang bencana  ini sangat penting, tidak boleh diabaikan, karena akan membuat umat manusia introspeksi, dan memperbaiki diri. Orang yang mengembalikan urusan bencana hanya kepada alam, tidak pernah mengaitkannya dengan Allah –baik sebab, akibat maupun solusinya- adalah orang-orang yang sombong, bukan sifat orang yang beriman (lihat QS. Al-Jatsiyah: 24).

Berikut ini pelajaran penting dari berbagai musibah dari kaca mata agama:
Pertama, berbagai musibah besar itu bukti kekuasaan Allah, ke-Maha Besaran Allah, dan  bukti kelemahan manusia. Coba kita perhatikan: dalam hitungan menit Aceh rata dengan tanah, dalam hitungan detik Yogja dan Padang hancur total. Dan manusia tidak dapat berbuat apa-apa. Jangankan menolak bencana, dapat menghindar untuk menyelamatkan diri sendiri saja sudah untung. Makanya tidak pantas manusia menyombongkan diri.

Kedua, Musibah (cobaan atau azab) Allah itu selalu datang secara tiba-tiba. Allah Subhanaahu wa Ta`ala berfirman:

بَلْ تَأْتِيهِمْ بَغْتَةً فَتَبْهَتُهُمْ فَلا يَسْتَطِيعُونَ رَدَّهَا وَلا هُمْ يُنْظَرُونَ

“Sebenarnya (azab) itu akan datang kepada mereka dengan sekonyong-konyong, lalu membuat mereka menjadi panik, maka mereka tidak sanggup menolaknya, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh.” (QS. Al-Anbiya’: 40)

Ayat ini menjelaskan bahwa musibah (bencana) datang secara tiba-tiba, dan manusia tidak mampu menolaknya.

Ketiga, Musibah itu menimpa seluruh manusia. Ketika musibah besar menimpa, maka yang terkena musibah bukan hanya orang-orang zalim dan berbuat maksiat saja, tetapi orang-orang beriman dan orang shaleh pun terkena juga. Allah berfirman, yang artinya:

“Dan takutlah (jagalah) dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksa-Nya.: (QS. Al-Anfal: 25)

Keempat, setiap musibah itu adalah “bima kasabat aidin-nas/ aidikum” (sebab ulah tangan dan dosa manusia). Allah berfirman:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)

Di ayat lain Allah berfirman, yang artinya:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Nah, bima kasabat aidin-nas itu ada dua:

  1. Kesalahan yang mempunyai hubungan langsung dengan terjadinya musibah, seperti: penebangan hutan secara liar akan menyebabkan banjir dan tanah longsor dll, zina (seks bebas, atau homo seks) menyebabkan virus HIV/ AIDS, pengrusakan lingkungan menyebabkan terjadinya pemanasan global, perubahan musim dsb.
  2. Kesalahan berupa dosa. Seperti: syirik, bid’ah, dan berbagai kemaksiatan dan kemungkaran yang kian merajalela. Ini memang tidak ada hubungan langsung dengan bencana, tetapi kemaksiatan dan kemungkaran itu mengundang murka Allah, yang bisa berupa musibah atau hilangnya berkah.

    Ummu Salamah Rodiallohu `anha berkata: aku mendengar Rasulullah Sholallohu `alaihi wa sallam bersabda:

    إِذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِى فِى اُمَّتِى عَمَّهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ …

    “Apabila maksiat sudah merajalela di kalangan umatku, Allah akan menurunkan siksa dari sisi-Nya kepada mereka secara merata…” (HR. Ahmad, dll. Hadits Shahih)

    Jadi, ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
    Dosa dan kemaksiatan akan menyebabkan terjadinya musibah, dan musibah bisa berupa siksaan dan kehancuran. Sejarah telah membuktikan:

    1. Kaum Nabi Nuh `alaihi salam ditenggelamkan Allah dengan banjir bah karena ingkar dan menentang ajaran Nabi Nuh `alaihi salam.
    2. Kaum Nabi Hud `alaihi salam (kaum Ad) dihancurkan Allah dengan angin topan, setelah mereka menentang Nabi Hud `alaihi salam.
    3. Kaum Nabi Shaleh `alaihi salam (kaum Tsamud) dihancurkan Allah dengan petir yang menyambar mereka karena keingkaran mereka.
    4. Kaum Nabi Luth `alaihi salam dihancurkan Allah dengan hujan batu yang sangat panas karena perbuatan keji mereka berupa homo seks.
    5. Kaum Nabi Syueb `alaihi salam yang menyombongkan diri dibinasakan Allah dengan suara guntur, sehingga mereka bergelimpangan.
    6. Raja Namrud dan kaumnya yang ingkar dengan dakwah Nabi Ibrahim `alaihi salam, bahkan mereka membakar Nabi Ibrahim, dibinasakan Allah dengan pasukan nyamuk.
    7. Fir’aun dan bala tentaranya yang memusuhi dakwah Nabi Musa `alaihi salam, ditenggelamkan Allah di Laut Merah.
    8. Qarun yang kaya raya, tapi meterialis dan pelit (kikir) ditelan bumi beserta seluruh harta kekayaannya –hingga sekarang kalau ada orang menemukan harta di dalam bumi kita sebut “menemukan harta karun”-.

    Demikian seterusnya, bahwa kemaksiatan dan kekafiran akan menimbulkan bencana, siksaan dan kehancuran. Belum cukupkah bukti-bukti itu?!

  • Sementara di Negara kita, Indonesia, maksiat apa yang tidak ada?! Semua ada, dan semua dilakukan dengan terang-terangan, tidak ada yang tersembunyi.
  • Maka sekali lagi, tidak boleh kita menyikapi setiap bencana itu hanya dengan mengatakan, “Itu fenomena alam biasa”, “wajar”, dan sebagainya. Tidak dikaitkan dengan konsep agama. Karena ini tidak membuat orang jadi sadar dan memperbaiki diri.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumulllah,
Lalu apa tindakan kita, dan bagaimana sikap kita dalam hal ini?!

  1. Tidak merusak lingkungan, karena orang beriman akan memakmurkan bumi dengan menjaga dan melestarikan lingkungannya, bukan menebangi hutan untuk kekayaan pribadi misalnya, dst.
  2. Masing-masing individu mengakui dosa dan kesalahan kepada Allah, seperti syirik, bid’ah, maksiat, dan kesia-siaan. Bukan saling menyalahkan atau mencari kambing hitam. (lihat QS. Asy-Syura: 30 tadi)
  3. Sadar, dan takut kepada Allah, serta bertobat kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam Surat ar-Rum: 41 tadi, yang artinya:

    “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

  4. Memperbanyak istighfar kepada Allah. Allah berfirman, yang artinya:

    “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka sedangkan kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun.” (QS. Al-Anfal: 33)

  5. Tidak merasa aman dari azab Allah. Allah berfirman, yang artinya:

    Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak diduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 99)

    • Kalau hanya percaya dengan hasil analisis tadi bahwa daerah yang rawan gempa hanyalah daerah sepanjang pantai barat Sumatra, terus Jawa bagian selatan, dan terus ke timur. Atau yang terancam tsunami adalah daerah pantai saja. Bagaimana dengan kasus Lumpur Lapindo Porong?! Nah, jangan merasa aman…! Musibah tidak hanya gempa dan tsunami…!
    • Bagi setiap mukmin, berbagai musibah itu akan menjadi peringatan dan memberikan banyak pelajaran untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak amal kebaikan, termasuk berbuat baik dengan alam lingkungan dan sesama umat.
  6. Sabar kalau sedang ditimpa musibah. Karena musibah adalah bagian dari ketentuan Allah. Menerimanya adalah wajib, karena ia termasuk kesempurnaan iman dan ridho kepada Allah sebagai Rabb. Dan Allah memuji orang-orang yang sabar (lihat QS. Al-Baqarah: 155-156)

Khutbah Kedua
Mari kita jaga Islam dan iman kita, dan marilah kita tingkatkan dakwah (amar makruf nahi mungkar) sebelum kita mengalami nasib serupa, atau bahkan lebih parah lagi, Allah berfirman:

وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ

“Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedangkan kamu tidak menyadarinya.” (QS. Az-Zumar: 55)

Kita berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari segala bencana, dilimpahi rahmat dan berkah-Nya, serta diberi keselamatan di dunia dan akhirat. Amin ya Rabbal ‘alamin. [*]

 

Sumber: Majalah Qiblati Edisi 4 Th 5