Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan

Alhamdulillah atas segala nikmat-Nya. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah #, kepada keluarganya, para Sahabatnya, dan semua pengikutnya yang selalu setia mengikuti jejak beliau # sampai akhir zaman.

Salah satu nama dari Asmaa’ullah Al-Husna adalah “Al-Fattaah” Yang Maha Pembuka, membuka pintu-pintu yang tertutup atau pintu-pintu yang sulit terbuka. Allah membuka pintu kesembuhan, pintu rezeki, pintu pekerjaan, pintu jodoh, pintu hujan, pintu ilmu pengetahuan, pintu amal shalih, pintu dakwah, pintu ketenangan dan kebahagiaan, pintu ridha, pintu syukur, pintu kemenangan, pintu perdamaian, pintu keadilan, pintu taufik, pintu rahmat, pintu hidayah, pintu ampunan, dan lain-lain.

Allah Pemberi Keputusan Terbaik

Allah “Al-Fattaah” Maha Membuka dan menyingkap segala perselisihan antara manusia dan memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah di hari kiamat.

Allah berfirman yang artinya, “… Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Hanya kepada Allah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil). Engkaulah pemberi keputusan terbaik” (QS. Al-A’raaf: 89).

“Katakanlah, ‘Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia Yang Maha Pemberi Keputusan, lagi Maha Mengetahui’” (QS. Saba’: 26).

Di dunia, manusia bisa membuat opini yang menyesatkan, bisa bersilat lidah dan menuduh orang lain sesat, orang lain ahli bid’ah, orang lain kafir, orang lain teroris, orang lain koruptor, orang lain radikal, orang lain Khawarij, orang lain Murji’ah, orang lain takfiri, orang lain Syi’ah,  dan lainnya. Jika ada bukti yang kuat dan akurat, didasari keikhlasan membela agama Allah dan setelah menimbang antara mashlahat dan mudharat, seseorang wajib memberikan peringatan akan bahayanya orang-orang yang menyesatkan umat.

Di dunia, manusia bisa bersilat lidah dan memutarbalikkan fakta sejarah. Sahabat yang adil radhiallahu anhum ajma’in mereka katakan sebagai orang-orang dzalim! Ummahatul Mukminin yang suci mereka katakan telah berbuat selingkuh! Kami berlindung kepada Allah dari rusaknya hati dan penyimpangan pemahaman. Ya Allah “Al-Hadi”, karuniakanlah untuk kami keikhlasan, tunjukilah kepada kami jalan hidayah. Ya Allah Yang Maha Mengetahui, karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, bimbinglah kami menggapai keridhaan-Mu. Jauhkanlah kami dari mengikuti hawa nafsu, bersihkanlah hati kami dari hasad, sombong, tamak kepada dunia, dan dendam. Hiasilah hati kami dengan tawadhu, adil, cinta akhirat, lapang dada, penyayang, jujur, amanat, keberanian dan kedermawanan, amin.

Di dunia, orang-orang kafir bisa memfitnah dan menuduh kaum muslimin sebagai orang-orang yang terbelakang, orang-orang yang sektarian, sebagai pemecah belah persatuan manusia, sebagai orang gila, tukang sihir, dan lainnya.

Allah berfirman yang artinya, “Dan apabila mereka melihat (orang-orang mukmin), mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang sesat’” (QS. Al-Muthaffifiin: 32).

“Sebelum mereka, kaum Nuh juga telah mendustakan (rasul), maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan, ‘Dia orang gila!’ lalu diusirnya dengan ancaman” (QS. Al-Qamar: 9).

Allah yang akan memutuskan di hari Kiamat siapa yang benar dan siapa yang salah. Allah akan menghukum orang yang dzalim dengan adzab yang pedih. Semoga Allah melindungi kita semua dari berbuat dzalim.

Apabila Aku Sakit, DIA-lah yang Menyembuhkanku

Hanya Allah lah yang membuka pintu kesembuhan. “Dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkanku” (QS. Asy-Syu’araa: 80).

Dr. Muhammad Raatib an-Naabulsi berkata, “Saya memiliki teman yang anaknya lahir dengan susah payah. Ketika kepala bayi ditarik dengan alat maka otaknya terkena gangguan. Akhirnya bayi tersebut sering menggigil. Temanku ini bertanya ke dokter yang menangani, dokter menjawab karena ada gangguan di otaknya maka akibatnya adalah anak ini akan menderita cacat, kemungkinan buta, atau idiot, atau lumpuh. Kami menganggap dokter ini masih belum berpengalaman, jadi kami bertanya kepada dokter ahli spesialis anak yang terkenal di Damaskus. Jawabannya sama, tidak dikurangi dan tidak ditambah. Kami tanyakan lagi kepada tiga dokter lagi, kemudian bayi tersebut dibawa ke Rumah Sakit, semua dokter berpendapat sama, tidak berubah. Ayahnya sampai berharap kalau anaknya lebih baik meninggal dunia saja, ia kasihan kepada anaknya dan berpendapat kematian anak bayi lebih ringan dibandingkan si bayi tumbuh besar tapi menderita sepanjang hidupnya. Kemudian bayi tersebut dibawa ke dokter lain dan dokter itu berkata semoga Allah menyembuhkannya. Dokter tersebut memeriksanya dan memberikan obat. Subhanallah, enam bulan kemudian bayi tersebut sembuh seperti bayi-bayi lainnya. Tidak ada yang dikhawatirkan, sekarang umurnya dua belas tahun, sehat wal afiat, bergerak, dan bermain. Anak ini cerdas dan menonjol dalam pelajaran di sekolah. Apa rahasianya? Ya, Sesungguhnya Allah “Al-Fattaah” Maha Membuka, mereka telah menutup semua pintu, tapi Allah  lah yang membuka pintu kesembuhan” (Mausuu’ah Asmaa’ullah Al-Husna, juz 1, halaman 241-242).

Seberat apapun sakit Anda, janganlah putus asa dari rahmat Allah. Tetaplah optimis dengan kesembuhan dari Allah. Berdo’alah dan berikhtiarlah dengan jalan yang disyariatkan atau dibolehkan Islam, dan bersedekahlah. Jika Allah menakdirkan belum juga sembuh, berbaik sangkalah kepada Allah . Banyak kebaikan yang Allah berikan bersamaan dengan sakit Anda jika Anda ikhlas, sabar, dan ridha dengan takdir-Nya.

Syaikh Muhammad Hassan, seorang ulama dari Mesir dalam ceramahnya menceritakan kisah nyata yang ia dapatkan langsung dari pelakunya yaitu seorang Profesor yang bersumpah kepada Syaikh bahwa kisah ini benar.

Profesor tersebut sakit, ada penyempitan di Jantungnya. Ia berobat ke London, Inggris. Pihak Rumah Sakit setelah memeriksa dengan teliti memutuskan untuk mengoperasinya. Profesor tersebut minta waktu beberapa hari untuk pulang dulu ke Mesir dan menemui keluarganya serta menyelesaikan beberapa urusan penting.

Ketika di Mesir, saat sang Profesor berjalan melewati pasar, ada seorang ibu di samping penjual daging sedang memungut sisa daging yang jatuh di tanah. Ia penasaran dan menghampiri ibu tersebut dan menanyakan apa yang dilakukannya. Ibu itu berkata bahwa anak-anaknya yang yatim sudah enam bulan tidak makan daging karena ia tidak punya uang untuk beli daging, sehingga ia memungut sisa-sisa daging yang jatuh ke tanah saat penjual daging memotong daging. Profesor itu terharu dan langsung pesan 2 kg daging agar diberikan kepada ibu tersebut lalu membayar lagi kepada penjual daging tadi uang untuk 96 kg daging, dengan maksud agar daging-daging itu nanti akan diberikan kepada ibu tersebut setiap pekan 2 kg selama setahun penuh. Ibu tersebut menangis terharu dan gembira mendo’akan sang Profesor.

Ketika Profesor itu pulang ke rumah, anak gadisnya berkata, “Wahai Ayah, wajah Ayah sekarang ceria dan gembira tidak seperti ketika keluar rumah?” Ayahnya menceritakan apa yang dilakukannya kepada ibu Janda di pasar. Anak gadisnya berdoa, “Ya Allah, sebagaimana Ayahku telah membahagiakan anak-anak yatim maka bahagiakanlah beliau dan berilah kesembuhan untuknya”. Subhanallah, Profesor tersebut tidak merasakan sakit di Jantungnya, fisiknya yang sebelum ini selalu lemah, sekarang ia merasakan kuat dan sehat.

Ia tetap berangkat lagi ke Inggris untuk melakukan operasi Jantung. Dokter memeriksa ulang Jantungnya dan ternyata tidak ada penyempitan sedikitpun. Pihak Rumah Sakit memeriksa berulang-ulang dan merasa keheranan. Allah Maha Penyembuh telah menyembuhkan sakitnya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah “Al-Fattaah” Maha Pembuka yang membuka pintu kesembuhan untuk hamba-hamba-Nya.

Akhirnya Jodoh Datang

Sepasang suami-istri tinggal di Jeddah mempunyai satu anak perempuan semata wayang. Gadis itu tumbuh dewasa dan berharap untuk segera menikah. Ia menginginkan memiliki pendamping hidup seorang laki-laki shalih yang takut kepada Allah, bertanggung jawab, yang dapat membimbing, melindungi, dan menyayanginya. Begitulah impian kebanyakan wanita, tidak muluk-muluk dalam memilih kriteria calon suaminya. Sampai usianya 37 tahun belum ada seorang pun yang melamarnya. Kedua orang tuanya sudah lanjut usia, mereka berdua gelisah. Para tetangganya memikirkan bagaimana jika kedua orang tuanya wafat, dia akan hidup sebatang kara. Ia tidak memiliki seorang kerabat pun di Jeddah.

Ketika beban terasa semakin berat, hidup terasa semakin sempit datanglah pertolongan Allah. Sesungguhnya bersama kesulitan pasti datang kemudahan. Barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka. Subhanallah… Allah “Al-Fattaah” membukakan pintu jodoh untuk gadis tersebut dengan kedatangan seorang pemuda shalih yang berumur lebih muda darinya, ia datang menemui ayahnya dan melamar anak gadisnya. Akhirnya keduanya menikah dan sekarang hidup bahagia, Allah karuniakan kepada keduanya empat orang anak. Ayah dan ibu wanita tersebut wafat tidak lama setelah anak gadisnya menikah. Tidak sedikit wanita, baik janda maupun gadis yang telah berumur lebih dari empat puluh tahun, akhirnya mereka menikah. Janganlah kaum wanita yang belum mendapatkan jodoh, putus asa dari rahmat Allah.

Dr. Ghazi bin Abdul Aziz Syammari direktur salah satu LSM yang mengurusi permasalahan keluarga di wilayah bagian timur Saudi Arabia berkata,

“Saudariku yang kumuliakan, sesungguhnya pernikahan merupakan salah satu dari sekian banyak karunia yang Allah limpahkan kepada hamba-hamba-Nya. Yakinlah seyakin-yakinnya jika jodoh sudah ditakdirkan menjadi rezekimu maka ia tak akan lari kemana, pasti akan datang kepadamu. Jodoh itu sudah dicatat dan tersimpan di Lauh Mahfudz. Janganlah keterlambatan dalam menikah menjadikanmu gelisah dan stress sehingga mengganggu kehidupanmu. Banyak memikirkan masalah jodoh yang belum kunjung tiba, membuka pintu masuknya setan ke dalam dirimu sehingga membuatmu merasa adanya jin di kamarmu. Segeralah bertaubat dan beristighfar! Mengadulah kepada Allah dengan banyak berdo’a!

Saudariku yang kumuliakan, ketahuilah keterlambatanmu dalam menikah sesungguhnya baik untukmu. Anda mendapatkan limpahan pahala dari Allah, ampunan dari dosa-dosamu, dan derajat yang tinggi di sisi-Nya. Sabarlah menghadapi ujian hidup! Surga itu mahal, penghuninya adalah orang-orang yang sabar dan ikhlas. Berbaik sangkalah kepada Allah, optimislah selalu dan yakinlah akan kekuasaan Allah sehingga Anda dapat terus melangkah dan menikmati perjalanan hidup ini. Menikah hanyalah salah satu terminal tapi bukan tujuan dari perjalanan kita.

Saya memohon kepada Allah agar meneguhkan hatimu, mengaruniakan kebahagiaan dunia dan akhirat untukmu. Saya memohon kepada Allah Yang Maha Agung, pemilik Arsy Yang Maha Mulia agar mengaruniakan jodoh berupa suami yang shalih untukmu. Allahumma amin” (Istisyaaraat Usariyyah halaman 431).

Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Isilah waktu dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat seperti menuntut ilmu Islam, berpuasa sunnah, bekerja di rumah atau di tempat yang aman dari fitnah. Berilah manfaat untuk masyarakat dengan mengajar, berdakwah, atau amal-amal sosial lainnya. Boleh jadi Anda tidak menyukai sesuatu tapi itu baik untukmu. Allah Maha Mengetahui sedangkan kita tidak mengetahui.

“Hal itu Mudah Bagi-Ku”

Seorang teman bercerita bahwa ia memiliki sepupu yang sudah menikah sekian lama tapi belum memperoleh keturunan. Jika teman saya bercerita kepadanya tentang anak-anaknya maka saudara sepupunya menitikkan air mata menangis sedih mengingat nasibnya dan ingin sekali memperoleh anak. Subhanallah setelah lebih dari sepuluh tahun menikah barulah Allah  takdirkan dan karuniakan keturunan sampai memiliki tiga anak. Ketika teman saya bertemu lagi dengannya, dia menangis lagi mengeluhkan anak-anaknya yang bandel dan sulit diatur. Semoga Allah karuniakan kepadanya dan kita semua keturunan yang shalih dan shalihah, amin.

Allah berfirman yang artinya, “(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Rabb kamu kepada hamba-Nya Zakaria, yaitu ketika ia berdo’a kepada Rabb-nya dengan suara yang lembut. Dia (Zakaria) berkata: ‘Ya Rabbku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada-Mu, ya Rabb-ku. Dan sungguh aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu, yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Ya’qub, dan jadikanlah ia, ya Rabb-ku, seorang yang diridhai.’ (Allah berfirman), ‘Wahai Zakaria, Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.’ Dia (Zakaria) berkata: ‘Ya Rabb-ku, bagaimana aku akan mempunyai anak, padahal istriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai usia yang sangat tua?’ (Allah) berfirman: ‘Demikianlah.’ Rabb-mu berfirman: ‘Hal itu mudah bagi-Ku, sungguh engkau telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal (pada waktu itu) engkau belum berwujud sama sekali’” (QS. Maryam: 2-9).

Banyaklah beristighfar! Allah berfirman mengisahkan dakwah Nabi Nuh Alaihis Salam yang artinya, “Maka aku (Nabi Nuh) berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anak kalian, dan mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untuk kalian” (QS. Nuh: 10-12).

Imam Hasan al-Basri rahimahullah, seorang ulama Tabi’in (ulama yang pernah bertemu dengan Sahabat Nabi). Suatu hari datang kepadanya seorang mengadu tentang kebunnya yang kering. Beliau mendengarkan pengaduan itu dengan penuh perhatian. Lalu beliau menasehatinya dengan singkat, “Beristighfarlah!”. Tidak berapa lama datang orang lain lagi mengeluhkan kemiskinannya. Beliau pun hanya berucap, “Beristighfarlah!”. Datang lagi orang yang ketiga mengeluhkan belum memperoleh anak. Beliau pun hanya berucap, “Beristighfarlah!”

Jawaban beliau itu menarik perhatian seseorang yang dari tadi mendengarkan jawaban yang sama yaitu, “Beristighfarlah!”. Lalu ia bertanya, “Beberapa orang mendatangimu mengeluhkan berbagai persoalan, tetapi engkau hanya menyuruh mereka semua untuk beristighfar!”. Imam Hasan al-Basri menjawab dengan tenang, “Aku sama sekali tidak mengatakan apapun dari diriku sendiri. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman … ”. Lalu beliau membacakan surat Nuh ayat 10-12.

Bagi yang belum memperoleh keturunan tetaplah bersabar, berbaik sangkalah kepada Allah. Banyak hikmah dan kebaikan dari musibah atau harapan kita yang belum kunjung tiba. Teruslah berdo’a, berikhtiarlah dengan jalan yang dibolehkan syariat Islam. Tidak ada yang sulit bagi Allah.

PENUTUP

Allah berfirman yang artinya, “Dan Allah memiliki Asmaa’ul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaa’ul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalah artikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Al-A’raaf: 180).

Imam Qurthubi rahimahullah berkata, “Maka berdo’alah kepada-Nya dengan menyebut Asmaa’ul Husna” maksudnya mintalah kalian kepada Allah dengan menyebut Nama-nama-Nya, memohon dengan setiap Nama yang sesuai dengan permohonan Anda. Anda berkata, ‘Ya Rahiim (Wahai Yang Maha Penyayang) sayangilah aku’, ‘Ya Hakiim (Wahai Yang Maha Bijaksana) tetapkanlah untukku’, ‘Ya Razzaaq (Wahai Yang Maha Pemberi Rezeki) berilah rezeki untukku’, ‘Ya Haadi (Wahai Yang Maha Pemberi Hidayah) berilah hidayah untukku’, ‘Ya Fattaah (Wahai Yang Maha Pembuka) bukalah untukku’, ‘Ya Tawwaab (Wahai Yang Maha Penerima Taubat) terimalah taubatku”, dan begitulah seterusnya.

Boleh juga Anda berdoa dengan menyebut Nama Allah yang lebih umum, seperti: ‘Ya Maalik (Wahai Pemilik Alam) sayangilah aku’, ‘Ya Aziiz (Wahai Yang Maha Mulia) tetapkanlah untukku’, ‘Ya Lathiif (Wahai Yang Maha Lembut) berilah rezeki untukku’.

Jika Anda berdoa dengan menyebut nama Allah yang lebih umum lagi dengan berkata, ‘Ya Allah….’ maka itu mencakup semua Nama. Tapi Anda tidak tepat bila berdoa, ‘Ya Razzaaq (Wahai Yang Maha Pemberi Rezeki) berilah hidayah untukku’, kecuali jika Anda berdoa, ‘Ya Razzaaq (Wahai Yang Maha Pemberi Rezeki) berilah rezeki kepadaku berupa kebaikan’…” (Tafsir Al-Jami’ Li Ahkamil Quran).

Tidak ada tuntunan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk mengulang “Ya Fattaah” atau Asmaa’ul Husna lainnya saat berdo’a dengan jumlah tertentu, beratus atau beribu kali agar hajat kita terkabul.

Iman kepada nama Allah “Al-Fattaah” mempunyai pengaruh positif dalam kehidupan setiap muslim, diantaranya:

  1. Menambah rasa cinta kepada Allah dan bergantung kepada-Nya. Dia hanya bertawakal kepada Allah, tidak ada yang dapat membuka segala pintu kebaikan kecuali hanya Allah. Allah berfirman yang artinya, “Apa saja diantara rahmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan-Nya maka tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu. Dan Dia lah Yang Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana” (QS. Fathir: 2). Nikmat apa saja jika tidak diliputi rahmat Allah maka akan berubah menjadi bala bencana. Musibah apa saja jika diliputi rahmat Allah maka akan berubah menjadi nikmat. Ancaman dan marabahaya yang datang kepada seseorang yang mendapatkan rahmat Allah, maka yang ia rasakan adalah keamanan dan keselamatan, ia mendapatkan perlindungan dari Allah. Sebaliknya keamanan, kenyamanan, dan kesejahteraan yang dimiliki orang yang dicabut rahmat Allah darinya maka hakekatnya ia terus dibayangi ketakutan, kegelisahan, dan kesengsaraan. Meskipun ia tidur di kasur dari sutera, tapi ia merasakan tidur di atas duri. Meskipun AC ia nyalakan untuk mendinginkan ruangan maka ia merasakan panas dan nyala api yang membakar tubuhnya. Semoga Allah selalu menghidupkan hati kami dan merasakan segala teguran dan peringatan-Nya agar kami kembali bertaubat kepada-Nya, bertawakal, dan mencintai-Nya. Ya Allah, kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, cinta kepada amalan yang dapat mendekatkan diri kami kepada cinta-Mu.
  2. Memupuk rasa takut kepada Allah, takut akan perhitungan dan pembalasan dari Allah di hari Kiamat. Allah akan memutuskan apa-apa yang diperselisihkan diantara hamba-hamba-Nya dengan benar dan adil. Rasa takut ini membuahkan kehati-hatian dari berbuat dzalim dengan segala macam bentuknya, lebih khusus lagi dzalim kepada sesama manusia dan mendzalimi hak-hak mereka. Allah Maha Adil dan Maha Memutuskan serta Maha Mengetahui, Allah tidak akan mendzalimi seorangpun. Allah akan membalas di hari pembalasan dan menghukum orang yang berbuat dzalim akibat kedzalimannya di dunia. Allah menyebutkan hari kiamat dengan penyebutan hari “al-Fath”, “Katakanlah, ‘Pada hari kemenangan itu, tidak berguna lagi bagi orang-orang kafir keimanan mereka dan mereka tidak diberi penangguhan” (QS. As-Sajdah: 29) (Dinukil dari buku Wa Lillahi Al Asmaa’ul Husnaa Fad’uuhu Bihaa, halaman 509, oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Nashir al-Julail).
  3. Optimis akan datangnya pertolongan Allah dan kemenangan dari-Nya untuk hamba-hamba-Nya yang beriman. Lihat surat An-Nuur: 55.
  4. Menjadikan setiap muslim banyak berdo’a kepada Allah agar membuka segala pintu kebaikan untuk dirinya. “Wahai Allah, bukakanlah untuk kami wahai Pemilik semesta alam. Wahai Allah, bukakanlah untuk kami dengan petunjuk-Mu, dan bukakanlah untuk kami dengan rahmat-Mu. Wahai Allah, bukakanlah untuk kami perbendaharaan-perbendaharaan rezeki-Mu. Wahai Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu untuk membuka hati kami agar memperoleh kekuatan iman. Wahai Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu untuk memutuskan antara kami dan musuh-musuh kami dengan satu kebenaran karena Engkau adalah sebaik-baik pemutus perkara. Wahai Allah, tolonglah kami menghadapi orang-orang yang sewenang-wenang terhadap kami. Anugerahilah kami keamanan dan keimanan di negeri kami dan semua negeri kaum muslimin. Wahai Allah, amankanlah kami di semua negara dan di rumah-rumah kami. Perbaikilah semua pemimpin dan penguasa kaum muslimin, berilah hidayah untuk kami dan mereka. Wafatkanlah kami dalam keadaan khusnul khatimah. Ampunilah kami. Lapangkanlah dada kami. Benarkanlah lisan kami. Cabutlah kedengkian dari hati kami. Wahai Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu untuk mengampuni kami dan orang tua-orang tua kami, dan juga untuk saudara-saudara kami yang laki-laki dan yang perempuan, dari kalangan muslimin dan muslimat, mukminin, dan mukminat, di hari ketika perhitungan terjadi, amin.” (Dari Khutbah Jum’at oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid).

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *