PERILAKU MURJI’AH

Tidak diragukan lagi bahwa iman itu mencakup perkataan dan perbuatan, perkataan hati dan lisan serta perbuatan hati dan anggota badan. Dan sungguh perkataan itu tidak akan sempurna tanpa dibarengi dengan perbuatan, sebagaimana perbuatan pun tidak akan bermanfaat tanpa perkataan. Namun yang mengherankan dari sebagian orang yang mengklaim dirinya bagian dari Ahlusunnah, dan mengikuti mereka secara umum dalam perkara aqidah, kemudian dampak dari keyakinannya itu tidak nampak pada perilakunya, bahkan yang nampak malah sebaliknya, di saat dituntut darinya mengikrarkan bahwa ia menolong aqidah Ahlusunnah dan membela mereka, Anda dapati perilakunya menyelisihi ucapannya! Mentakwilkan perbuatan buruk dan larangan yang nyata tidak akan pernah hilang; hingga akhirnya kondisi mereka selalu mendustakan aqidah yang mereka ikrarkan, dan perilakunya mendustakan seruannya untuk selalu taat!

Diantara fenomenanya adalah:

Perbuatan keji dan perkataan jelek seperti mencela, melaknat, menghina kehormatan, berbicara tentang niat orang dengan alasan membela Agama dan membongkar keburukan orang munafik; seolah Agama ini tidak akan ditolong melainkan dengan cara menuduh, melaknat, berbuat keji, dan perkataan buruk! Padahal Nabi # telah melarang hal tersebut sebagaimana sabdanya:

لَيْسَ المُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلا اللَّعَّانِ، وَلا الفَاحِشِ وَلا البَذِيء

Artinya: “Seorang mukmin itu bukanlah tukang menuduh, melaknat, berkata keji dan jelek”. (Diriwayatkan at-Tirmidzi dan di-shahih-kan oleh al-Albaniy)

Bahkan sebagian orang beranggapan bahwa alasan menolong Agama membuat celaan menjadi halal karena orang yang menyelisihinya ia anggap tidak punya kehormatan lagi (walaupun ia seorang muslim). Sehingga ia menghalalkan mencelanya dengan celaan paling buruk dan keji, padahal orang yang punya kehormatan akan malu menukil perkataan ini apalagi mengarang-ngarang ceritanya!

Dan Rasulullah telah melarang dari perbuatan keji sekalipun pada orang kafir. Maka hal yang haram di kalangan sesama muslim, ia juga haram antara muslim dan kafir, kecuali bila ada dalil yang mengkhususkannya. Diriwayatkan dari Aisyah ^:

أَنَّ اليَهُودَ أَتَوُا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: السَّامُ عَلَيْكَ، قَالَ: «وَعَلَيْكُمْ»، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: السَّامُ عَلَيْكُمْ، وَلَعَنَكُمُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْكُمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَهْلاً يَا عَائِشَةُ، عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ، وَإِيَّاكِ وَالعُنْفَ، أَوِ الفُحْشَ»، قَالَتْ: أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟ قَالَ: «أَوَلَمْ تَسْمَعِي مَا قُلْتُ، رَدَدْتُ عَلَيْهِمْ، فَيُسْتَجَابُ لِي فِيهِمْ، وَلاَ يُسْتَجَابُ لَهُمْ فِيَّ.

Artinya: “Bahwa orang Yahudi datang pada Nabi dan berkata: “Kecelakaan atas dirimu”. Nabi menjawab: “Dan atas kalian juga”. Aisyah menjawab: “Kecelakaan juga atas kalian, dan atas kalian pula laknat serta murka Allah”. Maka Rasulullah berkata: “Tenang wahai Aisyah, bersikap lembutlah dan jangan bersikap kasar atau keji”. Aisyah berujar: “Tidakkah engkau mendengar apa yang mereka ucapkan padamu?”. Nabi berkata: “Bukankah dirimu juga dengar apa yang aku ucapkan, aku sudah menjawab ucapan mereka, dan doaku atas mereka dikabulkan, sementara doa mereka atasku tidak akan dikabulkan” (Muttafaq ‘alaihi).

Nabi # bersabda:

إِنَّ الْفُحْشَ وَالتَّفَحُّشَ لَيْسَا مِنْ الإِسْلامِ فِي شَيْءٍ, وَإِنَّ أَحْسَنَ النَّاسِ إِسْلامًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Artinya: “Sesungguhnya kekejian dan perbuatan keji bukan bagian dari ajaran Islam sama sekali, dan sesungguhnya manusia yang paling baik Islamnya adalah yang terbaik akhlaknya”. (Diriwayatkan Ahmad, dan di-hasan-kan oleh al-Albaniy).

Maka sangat mengherankan, orang-orang jahil yang menganggap halal makian dan celaan, bahkan pukulan dan tamparan, dengan alasan bahwa orang yang menyelisihinya –walaupun ia orang muslim– berhak mendapat perlakuan itu… inikah bentuk konsisten terhadap Agama?!

Tidak menjaga mata dan telinga dari perkara haram: maka Anda akan dapati sebagian orang yang mengaku konsisten dalam Agama selalu mengikuti kemunculan film-film dan lagu-lagu baru, bahkan mereka bangga dengan hal tersebut, dan kebanggaannya semakin besar jika film yang ia tonton adalah film asing. Padahal seseorang yang masuk dalam ranah konsisten beragama maka ia akan meninggalkan semua bentuk kejahiliyahan pada dirinya.

Sekarang ini sudah menjadi hal lumrah Anda menemui orang yang berjenggot namun ia menyitir ungkapan-ungkapan dari film yang ia tonton atau lagu yang ia dengarkan, atau menyimpan foto para artis yang ia kagumi! Bila kondisinya yang nampak saja seperti ini, maka bagaimana pula dengan kondisinya yang tidak nampak?!

Orang yang mengaku konsisten beragama ini melupakan bahwa perilakunya itulah yang disebut Nabi dengan zina anggota badan; mata berzina dan zinanya adalah melihat, telinga berzina dan zinanya adalah mendengarkan. Memberikan kebebasan yang seluas-luasnya pada kedua panca indra ini merupakan faktor terbesar terjadinya fitnah dan kerusakan hati. Berapa banyak hal sepele menjadi faktor penyimpangan setelah sebelumnya konsisten. Kita berlindung kepada Allah dari keinginan menjadi terkenal setelah sebelumnya tidak dikenal.

Diantara fenomena hal itu yang paling mengherankan adalah: Makan harta orang lain dengan cara bathil walaupun terjadi dengan adanya kesepakatan dan syarat, dengan alasan bahwa saudara kita tidak berhak menerimanya sebelum adanya syarat, atau selama ia menisbatkan diri pada persaudaraan maka tetap ia akan mendapatkan haknya sebagai imbalan dari amalan yang tidak wajib.

Dan Allah telah memperingatkan kaum muslim dari memakan harta orang lain dengan cara yang bathil, dengan mengatakan bahwa harta saudaranya adalah hartanya, agar mereka menjaga harta tersebut sebagaimana mereka menjaga hartanya sendiri. Allah berfirman:

وَلَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٲلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَـٰطِلِ وَتُدۡلُواْ بِهَآ إِلَى ٱلۡحُڪَّامِ لِتَأۡڪُلُواْ فَرِيقً۬ا مِّنۡ أَمۡوَٲلِ ٱلنَّاسِ بِٱلۡإِثۡمِ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

Artinya: “Dan janganlah kalian memakan harta sesama dengan cara yang bathil, dan mengangkatnya ke pengadilan, agar kalian dapat memakan sebagian harta orang lain dengan jalan dosa, sementara kalian mengetahuinya” (QS. Al-Baqarah: 188).

Dan Allah juga mengatakan bahwa siapa yang memakan harta manusia dengan cara bathil maka itu merupakan bagian dari menghalangi manusia dari jalan Allah, berdasarkan firman-Nya:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ ڪَثِيرً۬ا مِّنَ ٱلۡأَحۡبَارِ وَٱلرُّهۡبَانِ لَيَأۡكُلُونَ أَمۡوَٲلَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡبَـٰطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ‌ۗ

Artinya: “Wahai orang-orang beriman, sesungguhnya mayoritas para pendeta dan biarawan memakan harta manusia dengan cara bathil dan menghalangi manusia dari jalan Allah …” (QS. At-Taubah: 34)

Allah menjadikan perilaku makan harta dengan cara bathil sebagai bentuk menghalangi jalan Allah; dikarenakan bahwa pendeta dan biarawan itu dijadikan teladan dalam segala urusan agama, dan hal seperti ini ada pada kaum muslimin dari sebagian orang yang berkecimpung dalam kegiatan sosial atau kegiatan dakwah!

Dan Nabi telah bersabda:

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

Artinya: “Siapa yang mengambil harta orang lain dengan niat membayarnya, maka Allah akan membayarnya, dan siapa yang mengambil harta orang lain dengan niat merusaknya, maka Allah akan merusaknya” (Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari).

Nabi pun juga telah bersabda:

مَنِ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بِيَمِينِهِ، فَقَدْ أَوْجَبَ اللهُ لَهُ النَّارَ، وَحَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: وَإِنْ كَانَ شَيْئًا يَسِيرًا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: وَإِنْ قَضِيبًا مِنْ أَرَاكٍ

Artinya: “Siapa yang mengambil hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan atasnya neraka dan mengharamkan atasnya surga.” Lalu seseorang bertanya: “Walaupun hanya sedikit wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Walaupun sepotong dahan pohon Arak” (Diriwayatkan Muslim).

Orang yang mengambil harta orang lain di dunia selain dihukumi zalim, kemungkinan di akhirat ia juga termasuk orang yang bangkrut, sebagaimana disebutkan dalam hadis shahih. Inilah sebagian dari perkara yang nampak akhir-akhir ini pada sekelompok orang yang mengaku multazim/taat dan dinamai dengan sebutan (ikhwan) hanya karena punya jenggot. Serta perilaku lain yang tercela seperti dusta, ingkar janji, melanggar kesepakatan dan lain sebagainya!

Bagaimana bisa perilaku itu muncul dari seorang yang mengaku multazim namun tidak malu melakukannya, bahkan ia terkadang mencari alasan pembenaran atas perbuatannya!

Padahal kenyataannya, perilaku itu tidak lain adalah penyakit yang menguak tentang penyakit hati –walaupun orang yang terkena penyakit ini mengklaim lain– karena sesungguhnya kerusakan perilaku badan adalah bukti akan kerusakan hati.

Lebih anehnya lagi adalah bahwa sebagian dari mereka yang berpenyakit hati itu menuduh orang yang menyelisihinya sebagai Murji`ah, padahal pada waktu yang sama ia tidak pernah berpikir bahwa dia sendirilah yang menganut paham Murji`ah baru … yaitu “Murji`ah Perilaku”!.

Ulama kita zaman dulu selalu berbicara tentang kegagalan menjadi seorang multazim, namun sekarang ini kita kembali membutuhkan pengulangan penjabaran tentang pengertian dari makna iltizam (multazim). Yang lebih tepatnya adalah bahwa siapa saja yang tergelincir dalam kesalahan ini, maka hendaknya kembali merujuk pada masing-masing ustadz pada periode “bulan Haram”. Nabi telah menjelaskan bahwa kehormatan seorang muslim sama seperti kehormatan negeri Haram, sebagaimana hal itu disebutkan oleh Rasulullah dalam khutbahnya pada hari menyembelih dalam haji Wada`:

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا

Artinya: “Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian haram atas satu sama lainnya, sebagaimana kehormatan hari ini, di negerimu ini dan di bulanmu ini” (Diriwatkan oleh Muttafaq ‘alaihi). Wallahu a’lam. (ay)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *