Seorang Nabi yang Tidak Memiliki Pengikut Sama Sekali

Oleh: Syaikh Nayif bin Muhammad al-Yahya.

Sebagian orang khususnya dari kalangan para mahasiswa mengira bahwa kemuliaan seorang ustadz dan kapasitas keilmuannya ditandai oleh jumlah jamaah yang hadir di dalam majelisnya, ini merupakan pemahaman yang salah dan tidak benar. Diriwayatkan dari Al-Auza’iy, ia berkata: “Adalah ‘Atha’ bin Abi Rabah merupakan orang yang paling diridhai di tengah-tengah manusia, dan tidaklah yang hadir di majelisnya melainkan tujuh atau delapan orang saja.” [1]

Perhatikan bersama-sama saya, isi tazkiyah (rekomendasi) agung tersebut yang berasal dari Imam mulia ini, dan perhatikan juga bahwa seorang dari penguasa Bani Umaiyah pernah mengumumkan bahwa: “Tidak ada yang boleh memberikan fatwa untuk orang-orang pada musim haji selain Atha'”. Dan sebagaimana dikatakan oleh Maimun bin Mahran, “Tidak ada lagi orang semisalnya (Atha’) yang dapat menggantikannya setelah dirinya,” namun demikian beliau tidak sombong atau bermalas-malasan dari meneruskan kajiannya, kendati sedikitnya jumlah orang yang hadir di dalamnya.

Begitu pula Imam Ahmad rahimahullah menyampaikan kajian kitab Musnad-nya terhadap tiga orang saja, berkata Hanbal bin Ishaq: “Kami bertiga dikumpulkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal; Saya, Shaleh, dan Abdullah. Lalu beliau membacakan kepada kami isi Musnad-nya yang tidak didengar oleh orang selain kami bertiga. Dan beliau berkata: ‘Kitab ini telah saya kumpulkan dan telah pula saya bersihkan dari tujuh ratus lima puluh ribu hadits lebih’.” [2]

Dan rupanya, jumlah/kuantitas jamaah masih menjadi alat pembuktian atas kehebatan seorang da’i dalam mempengaruhi hati para jama’ahnya, maka Anda akan dapati da’i seperti itu akan riang gembira dengan banyaknya jamaahnya, namun sebaliknya, akan loyo dengan berkurangnya jamaahnya! Sedangkan jiwa pada kondisi demikian memiliki kecenderungan dengan segala tujuan dan niat yang berbeda-beda. Akan tetapi ada yang penting untuk disebutkan pada kesempatan ini, yaitu bahwa seorang da’i yang jujur tidak sepatutnya menahan dirinya dari meneruskan dakwahnya kendati melemahnya antusiasme para jamaah, serta sedikitnya jumlah orang-orang yang hadir dalam kajian dan nasehatnya. Sebagai panutan dalam kondisi seperti itu adalah apa yang dikatakan Allah terhadap Nabi #: اِنْ عَلَيْكَ اِلَّا الْبَلاَغُ Artinya: “Tidak ada kewajibanmu melainkan menyampaikan saja.”

Dan barangsiapa yang memperhatikan kondisi sebagian para ulama niscaya ia mendapati satu permulaan dalam kesabaran yang memilukan bagi mereka, namun permulaan itu justru memberikan satu penyelesaian berupa kebaikan yang terang-benderang bagi mereka. Bisa jadi mereka akan diuji dalam beberapa saat dengan sedikitnya orang yang hadir dalam majelisnya, namun jika ia bersabar dan terus bertahan dalam kesabarannya maka Allah pasti akan membukakan untuknya pintu kebaikan yang tidak pernah terlintas dalam benaknya.

Pada tahun 1390 H, ketika Syaikh bin Baz rahimahullah datang ke Riyadh, kami hadir di majelisnya dan jumlah kami pada saat itu tidak sampai sepuluh orang, dan keadaan ini berlanjut sampai tahun 1400 H, seperti inilah keadaan Syaikh bin Baz rahimahullah. Demikian halnya dengan Syaikh Ibnu Jibrin rahimahullah pada tahun 1397 H, telah hadir di majelisnya hanya satu orang saja dan bukan orang Saudi, kemudian setelah itu barulah orang-orang berdatangan kepada beliau. Karena sudah menjadi sebuah keniscayaan bahwa seorang alim akan diuji oleh sedikitnya jamaah yang hadir di majelisnya, jika ia konsisten sehingga Allah mengetahui ketulusannya niscaya manusia akan berdatangan kepadanya. [3]

Dan berikutnya adalah Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, dimana dalam majelisnya untuk beberapa waktu tidak ada yang hadir kecuali hanya empat orang saja, dan kadang-kadang setengah dari jumlah itu tidak hadir. Bahkan pernah satu kali beliau datang ke tempat halaqah-nya namun beliau tidak menemukan seorang pun kecuali kitabnya yang telah diletakkan oleh salah satu muridnya lalu pergi untuk suatu urusan, tatkala Syaikh melihat kondisi seperti ini, maka beliau menuju mihrab, mengambil mushaf lalu duduk dan membacanya. Pada saat murid tersebut telah kembali, ia menemukan Syaikh sedang membaca mushaf, dan ia tidak menemukan apa-apa kecuali kitabnya saja, maka ia merasa malu lalu ia pun mengambil kursi-kursi yang ada dan segera pergi. [4]

Berkata Abdurahman bin Mahdi: “Dahulu saya punya majelis taklim pada hari Jumat, jika banyak manusia yang hadir maka saya merasa senang namun jika sedikit yang hadir maka saya merasa sedih, lalu saya bertanya kepada Basyar bin Manshur, ia berkata: ‘Ini adalah majelis yang buruk maka kamu jangan melakukannya kembali.’ Dan saya pun tidak pernah kembali kepadanya.” [5]

Dan contoh paling agung dari semua ini, dalam hal bersabar dari permasalahan sedikitnya orang yang hadir pada saat mengajar atau pada saat mengisi kajian adalah kondisi yang dialami oleh para Nabi ‘alaihimussalam. Berikut ini satu contoh dari Khatamul Anbiya’ Nabi Muhammad #, ketika beliau # ditanya oleh Amer bin Abasah, pada waktu beliau # mengajaknya kepada Islam: “Siapa saja yang bersamamu di atas Agama ini?” Beliau # menjawab: “Satu laki-laki yang merdeka dan satu budak laki-laki” pada saat itu beliau # bersama Abu Bakar < dan Bilal < yang telah beriman kepadanya. [6]

Tatkala kafilah dagang Madinah telah memasuki kota Madinah maka orang-orang yang tadinya mendengarkan khutbah Nabi Muhammad # berhamburan keluar menyambut kafilah tersebut, sehingga mereka tidak tersisa melainkan hanya dua belas orang saja, namun kendati demikian beliau # tetap berdiri dan melanjutkan khutbahnya sebagaimana disebutkan oleh Allah yang artinya: “Dan mereka meninggalkanmu berdiri” [7]

Syaikh Abdullah as-Sualim telah menyebutkan kepada saya, bahwasannya beliau satu saat pernah diundang untuk menyampaikan sebuah ceramah di Riyadh. Tatkala beliau datang untuk menyampaikan ceramahnya, tiba-tiba tidak ada yang tinggal dari para hadirin kecuali dua orang saja, maka beliau pun tetap menyampaikan ceramahnya dengan lengkap dan direkam karena kebetulan disana ada alat perekamnya. Namun dalam beberapa periode kemudian, beliau bertemu dengan seseorang dan orang itu menyampaikan kepada beliau bahwa ceramahnya tersebut telah dikopi menjadi empat puluh ribu keping kaset serta telah pula dibagi dan disebarluaskan.

Salah satu mahasiswa pernah menceritakan kepada saya bahwa ia telah menulis sebuah skripsi kemudian menyebarkannya di internet. Dalam beberapa periode kemudian, tidak ada yang tertarik untuk membacanya kecuali sedikit saja. Lalu datanglah sebuah acara atau moment yang berkaitan dengan isi dari skripsi tersebut, maka ia pun tersebar dengan cepat dan yang mengagumkan adalah jumlah orang yang men-download-nya telah mencapai ribuan orang.

Dan saya akan menutup makalah ini dengan perkataan Ibnul Jauziy rahimahullah yang mengatakan dengan penuh emosional:

“Diantara mereka ada yang merasa gembira dengan banyaknya pengikut, dan Iblis pun memperdayanya dengan anggapan bahwasanya kegembiraan ini dikarenakan oleh banyaknya murid yang menuntut ilmunya, padahal keinginannya tidak lain untuk memperbanyak teman sehingga namanya disebut dimana-mana, dan diantara hal itu adalah merasa ujub dengan sebutan-sebutan mereka tentang dirinya, kemudian lambat laun niat busuknya terbongkar jika seandainya sebagian pengikutnya memutuskan untuk mengikuti kajian orang lain yang lebih alim dari dirinya, maka hal itu pun dirasa berat olehnya. Bukan seperti ini sifat orang mukhlish dalam mengajarkan ilmu, karena perumpamaan orang yang ikhlas dalam mengajarkan ilmu adalah ibarat para dokter yang mengobati para pasien mereka karena Allah, jika sebagian pasien ada yang sembuh dengan sebab tangan seorang dokter dari kalangan para dokter tadi maka dokter yang lain (yang tidak ikut mengobati pasien itu) pun ikut merasa bergembira.” [8]

Dan kedua, saya tutup dengan perkataan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, beliau berkata sebagai berikut: “Para ulama itu tugas mereka hanya menyampaikan, adapun hidayah di tangan Allah, dan sudah sewajarnya jika seorang mukmin merasa bersedih jika manusia tidak menerima kebenaran, akan tetapi orang yang bersedih dalam hal ini, terbagi menjadi dua macam:

1. Ia bersedih karena dirinya tidak diterima.
2. Ia bersedih karena kebenaran yang tidak diterima.

Dan tentunya yang kedua adalah sikap yang terpuji, sebab yang pertama jika ia berdakwah maka ia berdakwah kepada dirinya, dan yang kedua berdakwah ke jalan Allah Azza Wajalla, dan karenanya pula Allah telah berfirman yang artinya: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu.”

Namun jika seseorang berkata, ‘Saya bersedih karena perkataan saya tidak diterima; padahal apa yang saya sampaikan merupakan kebenaran, oleh karena itu jika saya menemukan kebenaran pada selain perkataan saya niscaya saya pasti mengambilnya.’ Maka apakah sikapnya ini termasuk sikap yang terpuji, atau sebaliknya, tidak terpuji?

Jawabannya adalah itu termasuk sikap yang terpuji karena ia tidak seperti orang lain, tujuannya adalah supaya kebenaran itu bisa diterima, baik dari dirinya atau dari orang lain.” [9]

Terakhir saya ingatkan dengan sabda Nabi #:
Artinya: “Telah ditampakkan kepadaku semua umat manusia, maka ada seorang Nabi atau dua orang Nabi yang lewat bersama tiga atau tujuh pengikutnya, dan seorang Nabi yang tidak memiliki satu orang pengikut pun.” [10]
Saya minta kepada Allah agar memperbaiki niat kita dan juga anak-anak kita, dan memberkati kita semua dimana pun kita berada, amin!

——————————————————————————–
[1]. Tarikh Abi Zur’ah ad-Dimasyqiy, hal. 559, dan Tarikh Dimasyq karya Ibnu Asakir (40/391).
[2]. Siyar A’lam an-Nubala cet. Ar-Risalah (11/329) dan Thabaqat Al-Hanabilah (1/143).
[3]. As-Syaikh telah menyebutkannya pada acara khataman Tafsir Al-Qurthubiy.
[4]. Faidah min Al-Alamah as-Syaikh Ibnu Utsaimin, karya Syaikh Muhammad al-Munajid.
[5]. Siyar A’lam an-Nubala cet. Ar-Risalah (9/196).
[6]. HR. Muslim no. 832.
[7]. Shahih Bukhariy no. 4899 dan Shahih Muslim no. 863.
[8]. Shaidul Khathir hal. 428.
[9]. Tafsir Surat Al-Kahfi.
[10]. Dikeluarkan oleh Bukhariy no. 5705 dan Muslim no. 374.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *