Tidak Meyakini Yahudi Nasrani Kekal di Neraka

Ada seorang teman yang pemahaman agamanya tiba-tiba berubah drastis. Dia jadi tidak yakin bahwa orang Yahudi dan Nasrani kekal di neraka Jahannam. Apakah hukum teman tersebut? Apa yang harus kami lakukan terhadapnya, khususnya karena kami tinggal di negera asing? Salman, Swiss.

 

JAWABAN:

Hayyakallah, selamat datang di majalah Qiblati. Meskipun pertanyaan Anda singkat, tetapi merupakan sebuah masalah besar, walaa haula walaa quwwata illaa billaah.

Begitu menyakitkan, seorang muslim sampai tidak memahami makna yang terkandung dalam al-Fatihah, bahwa al-maghdhūbi ‘alaihim adalah orang Yahudi, dan bahwa ad-Dhaalliin, mereka adalah orang-orang Nasrani.

Kita tidak tahu apakah dia tidak pernah membaca firman Allah Ta’ala:

لَّقَدۡ ڪَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَ‌ۚ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al masih putera Maryam”. (QS. Al-Maidah (5): 17)

 

Dan firman-Nya I:

وَقَالَتِ ٱلۡيَهُودُ عُزَيۡرٌ ٱبۡنُ ٱللَّهِ وَقَالَتِ ٱلنَّصَـٰرَى ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ ٱللَّهِ‌ۖ ذَٲلِكَ قَوۡلُهُم بِأَفۡوَٲهِهِمۡ‌ۖ يُضَـٰهِـُٔونَ قَوۡلَ ٱلَّذِينَ ڪَفَرُواْ مِن قَبۡلُ‌ۚ قَـٰتَلَهُمُ ٱللَّهُ‌ۚ أَنَّىٰ يُؤۡفَڪُونَ (٣٠)ٱتَّخَذُوٓاْ أَحۡبَارَهُمۡ وَرُهۡبَـٰنَهُمۡ أَرۡبَابً۬ا مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَٱلۡمَسِيحَ ٱبۡنَ مَرۡيَمَ وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُوٓاْ إِلَـٰهً۬ا وَٲحِدً۬ا‌ۖ لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ‌ۚ سُبۡحَـٰنَهُ ۥ عَمَّا يُشۡرِڪُونَ (٣١)

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al masih itu putra Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al-masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. at-Taubah (9): 30-31)

 

Apakah orang ini tahu bahwa sudah menjadi ijmak bukan hanya orang Yahudi dan Nasraninya saja yang kafir, tetapi juga orang yang meragukan kekafiran mereka?!!

Berdasarkan asumsi bahwa orang itu tidak berkeyakinan bahwa aqidah Yahudi dan Nasrani adalah bukan aqidah syirik, maka apakah dia tahu akan sikap mereka terhadap Nabi kita Muhammad i? Apakah mereka beriman kepada beliau, membenarkan beliau tentang agama beliau, serta mengikuti syari’at beliau? Ataukah mereka justru kufur kepada beliau, dan tidak beriman dengan risalah beliau?

Allah I berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكۡفُرُونَ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ وَيُرِيدُونَ أَن يُفَرِّقُواْ بَيۡنَ ٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ وَيَقُولُونَ نُؤۡمِنُ بِبَعۡضٍ۬ وَنَڪۡفُرُ بِبَعۡضٍ۬ وَيُرِيدُونَ أَن يَتَّخِذُواْ بَيۡنَ ذَٲلِكَ سَبِيلاً (١٥٠) أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡكَـٰفِرُونَ حَقًّ۬ا‌ۚ وَأَعۡتَدۡنَا لِلۡكَـٰفِرِينَ عَذَابً۬ا مُّهِينً۬ا (١٥١)

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan Kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan Perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. (QS. an-Nisa` (4): 150-151)

Dalam Shahih Muslim (153), dari Abu Hurairah t, dari Rasulullah i, bahwa beliau i bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّار

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidak ada seorangpun dari umat ini, Yahudi, tidak juga Nasrani yang mendengarku, kemudian dia mati belum beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, melainkan dia termasuk penghuni neraka.”

Imam Nawawi j berkata, “Dalam hadits tersebut, terdapat penjelasa tentang penghapusan seluruh agama dengan risalah Nabi i.”

Hal seperti ini tidak samar lagi bagi ahli tauhid, kecuali jika dia tidak dapat membedakan antara tauhid dan syirik. Jika dia tidak percaya perihal kafirnya orang Yahudi dan Nasrani, kita pun bertanya kepadanya, “Apa hukum kaum muslimin dalam pandangannya?!” Karenakan orang-orang muslim menurut keyakina Yahudi dan Nasrani adalah orang-orang kafir yang kekal dalam neraka Jahannam! Apakah dia sependapat dan sekeyakinan dengan mereka?!!

Yang dapat kami katakan ialah, kami tidak ragu bahwa apa yang telah dia katakan adalah kemurtadan dari agama, dan kekufuran berdasarkan ijmak kaum muslimin. Jika dia sudah mukallaf, memahami dengan baik apa yang dia katakan, mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah ini, maka sesungguhnya dia telah keluar dari agama Islam, dan menjadi kafir karena keyakinannya yang demikian.

Akan tetapi harus diperhatikan satu permasalahan penting sebelum tergesa-gesa mengafirkannya. Laki-laki tersebut tinggal di negera kafir, kami khawatir hatinya dan pikirannya telah dirasuki sesuatu dari syubhat yang tidak mampu dijawabnya. Oleh karena itu, sepanjang tidak menemukan sebuah jawaban yang memuaskan terhadap syubhat tersebut, dia tetap yakin bahwa syubhat adalah benar. Padahal tidaklah demikian. Oleh karena itu, saya berpendapat agar Anda dan para ikhwan yang ikhlas bersama menjelaskan kepadanya tentang nash-nash al-Qur`an dan sunnah, serta perkataan para ulama dengan cara yang lembut, tidak tegang, dan tidak emosional. Upayakan selalu menjawab setiap pertanyaan dan memberikan penjelasan yang dimintanya, baik tentang Islam ataupun ahlul kitab dengan meminta bantuan kepada sebagian Ulama. Jika dia menolak, dan terus mempertahankan sikapnya, maka dia bukanlah seorang muslim, dia telah keluar dari agama Islam.

Bagaimana pun saran dan harapan saya, agar Anda bersikap lembah-lembut kepadanya dan situasi yang dihadapinya, jangan sekali-kali menjadikan takfiir (mengkafirkannya) sebagai target. Sebaliknya Anda semua berkewajiban untuk memaklumi ketidaktahuannya, dan terus berusaha secara maksimal untuk memahamkan kepadanya dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Allah memerintahkan kita untuk menjadi para da’i yang penuh kasih sayang, bukan da’i penuh adzab, da’i yang mengajak kepada kebaikan, bukan mengajak kepada keburukan. Berhati-hatilah anda semua dari perlilaku berjuang untuk diri sendiri, dan lebih memperioritaskannya daripada hak Allah. Bergegaslah meraih pahala dari Allah I, dengan berharap memperbaikinya, dan mengeluarkannya dari kegelapan menuju cahaya yang terang, dari kesesatan menuju hidayah, dari kekufuran menuju keimanan, dan dari maksiat menuju kepada ketaatan.

Dan hendaknya tujuan anda adalah memberinya hidayah, dan berusaha maksimal untuk menyayanginya, mudah-mudahan dia kembali kepada petunjuk-Nya, dan mudah-mudahan Allah menganugerahkan rahmat-Nya kepada kita dan dirinya, serta melimpahkan ma’af dan rida-Nya. Wallahul muwaffiq. (AR)

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *