Adab Berbicara

Wapada Terhadap Dusta

Pada edisi yang lalu, telah kita bahas bagian pertama dari pembahasan Adab Berbicara yang meliputi: 1) Menjaga Lisan, 2) Berkata yang baik, kalau tidak bisa maka berdiam diri, 3) Mengucapkan Kalimat Yang Baik karena kalimat yang baik adalah sedekah, 4) Menyedikitkan bicara, makruh banyak bicara, 5) Waspada terhadap ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba).

Pada bagian kedua ini kita lanjutkan adab selanjutnya:
6. Dilarang menceritakan setiap yang didengar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
« كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ » وفي رواية: « بِحَسْبِ الْمَرْءِ مِنَ الْكَذِبِ أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ »
“Cukuplah seseorang itu berdosa karena menceritakan segala sesuatu yang didengarnya.” Dalam satu riwayat: “Cukuplah seseorang mendapat bagian dari kedustaan karena menceritakan segala sesuatu yang dia mendengarnya.” (Shahih, HR. Muslim (5), Abu Dawud (4992))

7. Waspada terhadap dusta
Yaitu menceritakan suatu kabar/berita yang bertentangan dengan kenyataannya. Allah ﷻ berfirman:
ياأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصّٰدِقِينَ ﴿التوبة:١١٩

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)

Maknanya bersamalah orang-orang yang jujur, dan jangan bersama dengan orang-orang yang berdusta. Rasulullah ﷺ bersabda:

« إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا ، وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ ، حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا »
“Sesungguhnya kejujuran akan menghantarkan kepada kebaikan, kebaikan akan menghantarkan menuju sorga. Sesungguhnya seseorang benar-benar berbuat jujur hingga menjadi seorang shiddiq (orang yang sangat jujur). Sesungguhnya dusta akan menghantarkan kepada kefajiran (kejahatan), kefajiran akan menghantarkan kepada api neraka. Sesungguhnya seseorang benar-benar berbuat dusta hingga ditulis di sisi Allah ﷻ sebagai seorang pendusta.” (Shahih, HR. al-Bukhari (6094), Muslim (26070), Ahmad (3631), at-Turmudzi (1971), Abu Dawud (4989), Ibnu Majah (46), ad-Darimi (2715) dengan redaksi al-Bukhari)

Rasul ﷺ juga bersabda:
« آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ »
“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, jika dia berkata dia dusta, jika berjanji dia ingkar, jika dia dipercaya dia berkhianat.” (Shahih, HR. al-Bukhari (6090), Muslim (59), Ahmad (8470), at-Turmudzi (2631), an-Nasa`i (5021))
Maka, barangsiapa memiliki sifat dusta, pada dirinya ada satu sifat kemunafikan.

Dusta akan menjadikan pelakunya diadzab di alam kubur. Rasulullah ﷺ melihat di dalam mimpi dua orang laki-laki, satu duduk dan yang lain berdiri dengan membawa kail besi. Kemudian kail itu ditancapkan di rahangnya yang sebelah hingga tembus ke tengkuknya, lalu beralih ke rahang yang sebelahnya dengan perbuatan serupa, kemudian rahang pertama kembali normal, kemudian dilakukanlah perbuatan serupa.

Kemudian di akhir mimpi tersebut Nabi berkata kepada dua malaikat yang membawanya:
« طَوَّفْتُمَانِى اللَّيْلَةَ ، فَأَخْبِرَانِى عَمَّا رَأَيْتُ . قَالاَ نَعَمْ ، أَمَّا الَّذِى رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بِالْكَذْبَةِ ، فَتُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الآفَاقَ ، فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ »
“Kalian berdua telah membawaku berkeliling tadi malam, maka ceritakanlah apa yang telah kulihat. Keduanya menjawab, ‘Ya, adapun orang yang kamu lihat rahangnya dibelah, maka dia adalah seorang pendusta, berbicara dengan satu kedustaan, kemudian kedustaannya dibawa darinya hingga mencapai seantero dunia, maka dilakukanlah ke padanya hingga hari kiamat.” (Shahih, HR. al-Bukhari (1386), Ahmad (19652))

Ada beberapa faidah dalam pembahasan ini:
Pertama, kedustaan yang terbesar adalah dusta atas nama Allah dan Rasul-Nya ﷺ , serta bersumpah palsu untuk merampas harta seorang muslim.

Berdusta atas nama Allah adalah menakwil dan menafsirkan firman-firman Allah ﷻ tanpa ilmu, diantaranya adalah dengan menundukkan nash-nash ayat untuk sebagian kejadian-kejadian baru.

Salafus shalih dulu merasa berat untuk menafsirkan firman Allah tanpa ilmu, diantaranya adalah perkataan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, “Bumi mana yang menopangku, langit manakah yang menaungiku, jika aku berkata tentang kitabullah sesuatu yang aku tidak mengetahui ilmunya…” Masruq berkata, “Takutlah kalian dari menafsirkan al-Qur`an, karena tafsir itu adalah periwayatan dari Allah ﷻ …”

Adapun dusta atas nama Rasulullah ﷺ , yaitu dengan membuat hadits palsu, dan mengeklaim bahwa Rasulullah ﷺ mengatakannya, melakukannya atau mendiamkannya. Pelakunya diancam dengan hadits Nabi ﷺ :
« لاَ تَكْذِبُوا عَلَىَّ ، فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ فَلْيَلِجِ النَّارَ »

“Janganlah kalian berdusta atas namaku, karena siapa yang berdusta atas namaku, maka bersiaplah masuk neraka.” (Shahih, HR. al-Bukhari (106), Muslim (1), Ahmad (630), at-Turmudzi (2660), Ibnu Majah (31))

Adapun bersumpah atas nama Allah dengan dusta untuk merampas harta seorang muslim maka Rasulullah ﷺ bersabda:
« مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ كَاذِبَةٍ ، لِيَقْتَطِعَ بِهَا مَالَ رَجُلٍ مُسْلِمٍ أَوْ قَالَ أَخِيهِ لَقِىَ اللَّهَ وَهْوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ » . فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَصْدِيقَهُ ( إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ )
“Barangsiapa bersumpah dusta, dengannya dia bertujuan untuk mengambil harta seorang muslim – atau beliau bersabda, ‘saudaranya muslim’- maka dia akan menemui Allah ﷻ yang sedang dalam keadaan murka kepadanya.” (Shahih, HR. al-Bukhari (6659), Muslim (138), Ahmad (3566), at-Turmudzi (1629), Abu Dawud (3243), Ibnu Majah (2323) dengan lafazh al-Bukhari)

Rasul ﷺ juga bersabda:
« الْكَبَائِرُ الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ ، وَالْيَمِينُ الْغَمُوسُ »
“Dosa-dosa besar itu adalah syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa (yang diharamkan), dan sumpah palsu.” (Shahih, HR. al-Bukhari (6675), Ahmad (6845), at-Turmudzi (3021), an-Nasa`i (4011), dan ad-Darimi (2360) dengan lafazh al-Bukhari)

Faidah kedua, boleh berdusta dalam tiga keadaan:
1. Dengan tujuan mendamaikan manusia
2. Dalam keadaan perang
3. Dalam pembicaraan suami terdahap istrinya, dan sebaliknya, dengan tujuan menyenangkan serta menumbuhkan cinta, dan menjauhkan kebencian diantara keduanya.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ :

« لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِى يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ ، فَيَنْمِى خَيْرًا ، أَوْ يَقُولُ خَيْرًا »
“Tidaklah termasuk pendusta orang yang mendamaikan perselisihan di antara manusia, yang kemudian tumbuh kebaikan, atau berkata kebaikan.” (Shahih, HR. al-Bukhari (2692))

Juga sabda Nabi ﷺ :
« لاَ أَعُدُّهُ كَاذِبًا الرَّجُلُ يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ يَقُولُ الْقَوْلَ وَلاَ يُرِيدُ بِهِ إِلاَّ الإِصْلاَحَ وَالرَّجُلُ يَقُولُ فِى الْحَرْبِ وَالرَّجُلُ يُحَدِّثُ امْرَأَتَهُ وَالْمَرْأَةُ تُحَدِّثُ زَوْجَهَا »
“Aku tidak mengkategorikannya sebagai seorang yang berdusta; seseorang yang mendamaikan perselisihan di antara manusia, dia berkata satu ucapan yang tidak dia inginkan kecuali perdamaian; seseorang yang berbicara pada saat perang; dan seorang suami berbicara kepada istrinya, dan seorang istri berbicara kepada suaminya.” (Shahih, HR. Abu Dawud (4921), dishahihkan oleh al-Albani)

Para ulama berselisih pendapat tentang makna hadits tersebut di atas. Jumhur ulama menyatakan boleh berdusta pada tiga keadaan tersebut, sedangkan sebagian yang lain mengatakan bahwa dusta di sana bukanlah dusta hakiki, tetapi tauriyah, yaitu menyatakan suatu ungkapan yang memiliki lebih dari satu makna. Sehingga pendengar memahaminya dengan suatu makna sementara pembicara bermaksud makna yang lain. Wallahu a’lam.

Setelah Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa dusta suami kepada istri atau sebaliknya adalah bertujuan untuk menampakkan rasa kasih sayang di antara keduanya, beliau berkata, “…adapun penipuan (dusta) demi menolak kewajiban atas suami atau istri, atau demi mengambil sesuatu yang bukan hak suami atau istri, maka itu hukumnya adalah haram berdasarkan ijma’ kaum muslimin.” (Syarah Muslim (VIII/16/135)

8. Larangan membuat orang lain tertawa dengan kedustaan
Sebagian orang membuat cerita palsu tentang dirinya atau orang lain dengan tujuan agar teman-teman dalam majelis tertawa karenya. Dia tidak sadar bahwa dia telah terjerumus dalam perkara yang besar. Rasulullah ﷺ bersabda:

« وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ »
“Kecelakaan bari orang yang berbicara, kemudian dia berdusta untuk membuat suatu kaum tertawa denganya, kecelakaanlah baginya, kecelakaanlah baginya.” (Hasan, HR. Abu Dawud (4990) dihasankan oleh al-Albani, Ahmad (19519), at-Turmudzi (2315), ad-Darimi (2702))*

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *