AMAR MA`RUF DAN NAHI MUNKAR (bag. 2)

1. Fudhail ibn Iyadh at-Tamimi Rahimahullah (Lahir di Khurasan kemudian pindah ke Kufah, dan tinggal di Mekkah hingga wafat di awal tahun 187 H pada masa Harun al-Rasyid. Ia seorang tsiqah, ahli ibadah dan wira’i)
Fudhail Rahimahullah berkata:
إِنِّي لَأَسْتَحِي مِنَ اللهِ أَنْ أَشْبَعَ حَتَّى أَرَى اْلعَدْلَ قَدْ بُسِطَ وَأَرَى الْحَقَّ قَدْ قَامَ
“Sungguh aku malu kepada Allah jika aku kenyang hingga keadilan digelar dan kebenaran ditegakkan.” (Hilyatul Auliya`: 3/401)

2. Umar ibn Abdul Aziz Rahimahullah (ibn Marwan, Abu Hafsh, al-Khalifah al-Rasyid menggantikan Sulaiman ibn Abdul Malik, wafat 101 H)
Pada suatu hari Umar ibn Abdul Aziz berkhutbah:
إِنِّيْ لَأَقُوْلُ هَذِهِ الْمَقَالَةَ وَ مَا أَعْلَمُ عِنْدَ أَحَدٍ مِنَ الذُّنُوْبِ أَكْثَرَ مِمَّا أَعْلَمُ عِنْدِيْ فَأَسْتَغْفِرُ الله َوَ أَتُوْبُ إِلَيْهِ
“Sesungguhnya aku mengucapkan ucapanku ini sementara aku tidak mengetahui ada orang yang memiliki dosa yang lebih banyak daripada aku. Aku mohon ampun kepada Allah dan aku bertaubat kepada-Nya.”
Beliau menulis surat kepada sebagian pejabatnya di daerah. Di bagian akhirnya beliau menasihati pejabat tersebut:
“Sesungguhnya aku menasihatimu ini sementara aku banyak berbuat dosa atas diriku, tidak dapat mengontrol dengan baik dalam banyak urusanku. Seandainya seseorang itu tidak menasehati saudaranya sampai dapat mengontrol dirinya dengan sempurna tentu kebaikan akan tergantung, amar makruf dan nahi mungkar akan hilang, kehormatan-kehormatan akan dihalalkan, pemberi nasihat dan pejuang di jalan Allah di muka bumi ini akan sedikit. Namun setan dan pendukungnya ingin agar tidak seorangpun memerintahkan yang baik dan mencegah dari yang mungkar. Jika ada orang yang memerintah dan melarang mereka maka mereka mencelanya dengan sesuatu yang memang ada pada dirinya maupun dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya, sebagaimana dikatakan:
وَ أُعْلِنَتِ اْلفَوَاحِشُ فِي اْلبَوَادِيْ وَصَارَ النَّاسُ أَعْوَانُ الْمُرِيْبِ
إِذَا مَا عِبْتُمْ عَابُوْا مَقَالِي لِمَا فِي اْلقَوْمِ مِنْ تِلْكَ الْعُيُوْبِ
وَوَدُّوْا لَوْ كَفَفْنَا فَاسْتَوَيْنَا فَصَارَ النَّاسُ كَالشَّيْءِ الْمَشُوْبِ
وَكُنَّا نَسْتَطِبُّ إِذَا مَرَضْنَا فَصَارَ هَلاَكُنَا بِيَدِ الطَّبِيْبِ
Perbuatan-perbuatan keji di lakukan terang-terangan di lembah-lembah
Manusia menjadi penolong bagi orang yang mencurigakan
Jika kamu mencela (mereka) maka mereka mencela ucapanku
Karena aib-aib itu ada pada mereka
Mereka ingin andaikan kita mendiamkan sehingga kita sama
Lalu manusia semuanya seperti satu barang yang dikotori
Kita minta diobati bila sakit
Lalu kebinasaan kita ada di tangan si tabib (Lathaif al-Ma’arif: 1/17)

3. Abu idris al-Khawlani Rahimahullah (‘Aidzullah meriwayatkan dari Abu Darda’, Hudzaifah, Ubadah, dan Mu’adz ‘alimnya negri Syam setelah Abu Darda’, ada yang mengatakan lahir pada waktu perang Hunain dan wafat pada tahun 80 H)
Abu Idris al-Khaulani Rahimahullah berkata:
لَأَنْ أَرَى فِي الْمَسْجِدِ نَارًا لاَ أَسْتَطِيْعُ إِطْفَائَهَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَرَى فِيْهِ بِدْعَةً لاَ أَسْتَطِيْعُ تَغْيِيْرَهَا
“Sungguh saya melihat api berkobar di masjid yang aku tidak mampu memadamkannya lebih aku sukai daripada aku melihat sebuah bid’ah yang aku tidak dapat merubahnya.” (al-Marwazi, al-Sunnah: 1/32/:no. 99)

4. Abu Abdirrahman al-Umari al-Zahid Rahimahullah (Abdullah ibn Abdil Aziz ibn Abdillah ibn Shahib Rasulillah Shallallahu ‘alayhi wasallam Abdullah ibn Umar al-Adawi al-Madani, al-Imam al-Qudwah az-Zahid)
Abu Abdirrahman al-Umari Rahimahullah berkata:
إِنَّ مِنْ غَفْلَتِكَ عَنْ نَفْسِكَ إِعْرَاضُكَ عَنِ اللهِ بِأَنْ تَرَى مَا يُسْخِطُهُ فَتَجَاوَزُهُ وَلاَ تُأْمُرُ بِاْلمَعْرُوْفِ وَلاَ تَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ خَوْفًا مِمَّنْ لاَ يَمْلِكُ لَكَ ضَرًّا وَلاَ نَفْعُا
“Sesungguhnya di antara bentuk kelalaianmu dari dirimu adalah keberpalinganmu dari Allah, yaitu engkau melihat sesuatu yang membuat Allah murka ternyata kamu lewati saja, engkau tidak memerintahkan yang makruf dan tidak mencegah dari yang mungkar karena takut orang yang tidak memiliki untukmu madharat maupun manfaat.”
Dia juga berkata:
مَنْ تَرَكَ اْلأَمْرَ بِاْلمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ مَخَافَة الْمَخْلُوْقِيْنِ نُزِعَتْ مِنْهُ هَيْبَةُ الطَّاعَةِ( هيبة الله تعالى)
فَلَوْ أمَرَ وَلَدَهُ أَوْ بَعْضَ مَوَالِيْهِ لَاسْتَخَفَّ مِنْهُ
“Barangsiapa meninggalkan amar makruf dan nahi ‘anil munkar karena takut manusia maka dicabut kewibawaan taat (dalam satu redaksi: dicabut kewibawaan Allah) daripadanya. Seandainya ia memerintah anaknya atau sebagian mantan budaknya tentu ia diremehkan/disepelekan.” (Hilyatul Awliya`: 8/284; al-Uqubat: 1/41; Shifat al-Al-Shafwah: 2/18; Siyaru A’lam 8/375: 111)

5. Abdullah ibn Muhairiz Ibnu Junadah Rahimahullah (al-Imam al-Faqih al-qudwah ar-rabbani, al-Qurasyi, al-Jumahi al-Makki)
Disebutkan bahwa Imam Ibnu Muhairiz melihat Khalid ibn Yazid ibn Muawiyah memakai jubah khazz (sutera), maka beliau bertanya, “Apakah engkau memakai baju sutera?” Maka ia menjawab dengan memberikan pembelaan, “Sesungguhnya saya memakainya karena mereka”- dia mengisyaratkan pada khalifah- Maka Junaid marah dan berkata:
مَا يَنْبَغِيْ أَنْ يَعْدِلَ خَوْفُكَ مِنَ اللهِ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ ”
Tidak seharusnya ketakutanmu kepada Allah sama dengan ketakutanmu pada salah seorang makhluk-Nya.” (Ibnu Asakir 9/71; Siyaru A’lam: 194)

6. al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi Rahimahullah (ibn Abdul Wahid ibn Ali al-Maqdisi al-Hafizh al-Zahid, lahir 544 H, saudara al-Muwaffaq al-Faqih. Keduanya belajar kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani))
Al-Hafizh selalu mengingkari kemungkaran dengan tangan atau lisannya. Dia tidak takut siapapun kecuali Allah. Pernah ia sengaja menumpahkan khamer (arak) milik seseorang lalu pemiliknya mencabut pedang. Al-Hafizh tidak takut bahkan ia ambil pedang itu dari tangannya. Al-Hafizh badannya sangat kuat dan sangat berani. Di Damaskus dia selalu mengingkari kemungkaran dan memecahkan Thunbur (alat musik sejenis gitar, mirip dengan mandolin) dan Syabbabah (satu jenis alat musik).
Al-Muwaffaq berkata: al-Hafizh al-Maqdisi tidak bisa sabar jika melihat kemungkaran di hadapannya. Pernah sekali kami mengingkari satu kaum dan mengalirkan khamer mereka dan kamipun saling memukul. Lalu pamanku Abu Umar mendengar kejadian itu, yang membuat dadanya sesak dan mendebat kami. Tatkala kami mendatangi al-Hafizh, beliau menghibur hati kami dan membenarkan kami kemudian membaca ayat:

… وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ‌ۖ

“… dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.” (QS. Luqman: 17)

Abu Bakar ibnu Ahmad al-Thahhan berkata, “Dulu sebagian putra-putra Shalahuddin al-Ayyubi dibuatkan beberapa gitar (thunbur), lalu gitar-gitar itu dibawa kepada mereka. Sementara mereka di kebun minum-minum. Maka al-Hafizh al-Maqdisi mendatangi gitar-gitar itu lalu menghancurkannya. Lalu al-Hafizh masuk kota. Ketika al-Hafizh keluar dari kota bersama sahabatnya Abdul Hadi –berada di dekat toilet Kafur- ternyata ada banyak orang yang mengejarnya dengan membawa tongkat, maka ia mempercepat langkahnya dan mengatakan:

حَسْبِيَ اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلِ
“Cukuplah Allah sebagai penolongku dan Dia sebaik-baik Penolong.”
Ketika ia sudah ada di jembatan, ternyata mereka mengejar sahabatnya, maka ia berkata, “Bukan aku yang menghancurkan milik kalian, orang itu yang menghancurkannya.” Tiba-tiba ada penunggang kuda yang datang dengan cepat ke arah al-Hafizh, lalu ia turun dan mencium tangannya dan mengatakan:
يَا شَيْخُ، الصِّبْيَانُ مَا عَرَفُوْكَ
“Wahai Syaikh, Anak-anak kecil itu tidak mengenalmu.” (Dzail Thabaqat Hanabilah: 1/186; Siyaru A’lam: 21/455)

7. Sufyan al-Tsauri (al-Kufi, Amirul mukminin dalam bidang hadits dan wara’. Lahir pada masa Sulaiman ibn Abdil Malik, lembut hatinya, paling banyak mengingat mati dan akhirat)
Sufyan al-Tsauri bercerita: Saya dimasukkan ke tenda khalifah al-Mahdi ibn Abu Ja’far al-Manshur (Dalam al-Ihya` disebutkan khalifah Abu Ja’far al-Manshur. Inilah yang benar insyaAllah) di Mina, maka saya ucapkan salam penghormatan kepadanya. Dia melihat kepadaku dan tersenyum lalu berkata, “Kami telah mencarimu dan kamu membuat kami tidak berdaya. Kini Allah yang mengirimmu ke mari. Silakan sampaikan hajatmu!”
Saya katakan, “Anda telah memenuhi bumi ini dengan kezhaliman dan aniaya, maka bertakwalah kepada Allah. Hendaklah anda mengambil banyak pelajaran dari yang demikian.”
Maka ia menundukkan kepala kemudian bertanya, “Bagaimana menurutmu, jika aku tidak mampu?”
Saya katakan, “Anda lari membawa agama anda.” Lalu ia menundukkan kepala kemudian berkata, “Sampaikan hajatmu!”
Saya katakan:
أَبْنَاءُ الْمُهَاجِرِيْنَ وَالْأَنْصَارِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ بِالْبَابِ ، فَاتَّقِ اللهَ وَأَوْصِلْ إِلَيْهِمْ حُقُوْقَهُمْ . فَطَأْطَأَ رَأْسَهُ ثُمَّ أَخَلىَّ سَبِيْلِيْ
“Putra-putra Anshar dan Muhajirin serta orang-orang yang ikut mereka dengan baik ada di depan pintu, maka bertakwalah kepada Allah dan sampaikan kepada mereka hak-hak mereka.”
Maka ia menundukkan kepala kemudia melepaskan saya.” (Al-Hilyah: 3/168)
Dalam al-Ihya` (1/495) disebutkan:
إِنَّمَا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الْمَنْزِلَةُ بِسُيُوْفِ الْمُهَاجِرِيْنَ وَالْأَنْصَارِ وَأَبْنَاؤُهُمْ يَمُوْتُوْنَ جَوْعاً فَاتَّقِ اللهَ وَأَوْصِلْ إِلَيْهِمْ حُقُوْقَهُمْ
“Sesungguhnya anda dinobatkan pada kedudukan ini berkat pedang kaum Muhajirin dan kaum Anshar, sementara anak-anak mereka mati kelaparan, maka tolong sampaikan kepada mereka hak-hak mereka.”
Maka iapun menundukkan kepala, kemudian mengangkatnya, lalu berkata: “Sampaikan hajatmu!”
Saya katakan, “Umar ibnul Khaththab Radhiyallahu ‘anhu pada waktu haji berkata kepada bendaharanya (Penanggung jawab gudangnya): “Berapa yang kamu belanjakan?” Dia menjawab: “Belasan Dinar (dalam Ihya`: Dirham). Sementara di sini saya lihat harta menumpuk yang onta-onta besar tidak kuat membawanya.”
Kemudian Imam Sufyan keluar. Begitulah para ulama menemui para sultan jika terpaksa dan mereka siap menyetorkan nyawa karena pengingkarannya terhadap kemungkaran penguasa.[*]

(Nantikan cermin salaf berikutnya yaitu serial Amar Makruf Nahi Munkar, tentang Ulama Menasehati Penguasa).

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *