Cekcok gara-Gara Nama

Kakakku berselisih dengan istrinya dalam memberi nama anak baru mereka. Istrinya ingin memberi nama dengan nama ayahnya yang sudah meninggal, sementara kakakku ingin memberi nama dengan nama lain. Maka terjadilah permasalahan tersebut di antara keduanya. Sang ibu dan keluarganya memanggil anak tersebut dengan nama yang dipilih ibunya, sementara sang ayah dan keluarganya memanggilnya dengan nama yang dipilih oleh sang ayah. Sang ibu berkata bahwa dia berhak secara syar’i untuk memberinya nama karena dia yang payah mengandungnya, sementara sang ayah bersikukuh dengan pendapatnya. Oleh karena itulah saya tulis permasalahan ini kepada Anda, agar Anda memberikan keputusan, kami harap Anda bersedia membantu kami dalam menyelesaikan perselisihan di antara suami istri tersebut. Jazakumullahu khoiron.

I. di Tarakan

Jawab:
Hayyakallah, selamat datang di majalah Qiblati.
Sesungguhnya masalahan pemberian nama terhadap seorang anak adalah termasuk perkara yang telah ditetapkan oleh syari’at yang bijaksana. Pemberian nama adalah hak seorang ayah, bukan hak ibu. Ini adalah suatu hal yang tidak dipertentangkan, karena seorang anak mengikuti ibunya dalam kemerdekaan atau perbudakan, dan dia mengikuti bapaknya dalam nasab dan penamaan. Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

« وُلِدَ لِىَ اللَّيْلَةَ غُلاَمٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِى إِبْرَاهِيمَ »
“Telah dilahirkan untukku seorang anak pada malam ini, maka kuberi dia nama dengan nama bapakku, Ibrahim.” (HR. Muslim)

Kita perhatikan dari sela-sela penuturan Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam kepada para sahabat tentang kelahiran putra beliau, bahwa beliau yang memberi nama dengan nama tersebut. Namun bisa saja bagi seorang suami, jika dia mau, untuk membiarkan pemberian nama anak wanita diberikan kepada istrinya, dan pemberian nama anak laki-laki untuknya. Mungkin juga, jika mau, untuk menjadikan penamaan anak-anaknya secara musyawarah antara dia dengan istrinya. Ini semua kembali kepada persetujuan sang suami, demikian pula termasuk hak suami adalah memberi nama anak tanpa minta persetujuan sang istri.

Permasalahannya bukan hanya dalam masalah nama, tidak juga tentang siapa yang memberi nama. Seandainya kita memperhatikan syariat, kita pasti akan mendapatkan nama-nama yang indah, dan besar, akan tetapi apa yang ada setelah pemberian nama-nama tersebut? Sama saja apakah kita menamainya dengan ‘Abdullah, atau ‘Abdurrahman, jika kita tidak mengikuti nama-nama itu dengan pendidikan yang hakiki serta perhatian yang cukup hingga dia menjadi seorang anak yang shalih, serta menjadi seorang lelaki yang bisa diandalkan maka hal itu tidak ada bedanya. Adapun jika kita tinggalkan perkara penting ini, dan sibuk dengan penamaan, maka saya kira nama tersebut bukanlah satu poin yang tidak layak kita perselisihkan, karena urusan pendidikan itu jauh lebih penting dari sekedar pemberian nama. Sekalipun demikian, kita juga tidak melalaikan pentingnya nama yang indah, karena dia akan menyandangnya di dunia dan akhirat. Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam sendiri telah memberikan wasiat beberapa nama kepada kita untuk mengambilnya bagi yang mau.

Terakhir, aku berharap kepada sang istri untuk memahami bahwa pemberian nama adalah hak sang suami. Demikian pula aku berharap agar sang suami memberikan kelapangan dalam bermusyawarah dengan istrinya. Kadang termasuk wajib keduanya saling memahami masalah ini sebelum melahirkan. Bukan termasuk sesuatu yang baik perselisihan keduanya tersebar di antara manusia dengan rupa seperti ini. Kita sangat senang bila melihat semangat mereka dalam pemberian nama itu ada dalam pendidikan putra mereka, karena itu adalah yang lebih penting.

Aku memohon kepada Allah, agar memberkahi anak mereka berdua, dan menjadikannya sebagai permata hati kedua orang tuanya. Amin.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *