HADIS DHA’IF

اتقوا أبواب السلطان وحواشيها فان أقرب الناس منها أبعدهم من الله ومن آثر سلطانا على الله جعل الله الفتنة في قلبه ظاهرة وباطنة وأذهب عنه الورع وتركه حيران.

Takutlah kamu pintu-pintu sultan (penguasa) dan para pembesarnya, karena orang yang paling dekat dengan mereka adalah orang yang paling jauh dari Allah. Siapa yang mendahulukan sultan daripada Allah, maka Allah jadikan fitnah (ujian, cobaan) dalam hatinya, lahir dan batin, paling jauh dari sifat wara’, dan hal itu akan menyisakan kebingungan dalam hatinya.

Dha’iful Jami’ 111, adh-Dha’ifah 1698.

Pembaca yang dirahmati Allah, barangkali sudah diketahui oleh kebanyakan kita bagaimana sikap para ulama terdahulu dalam menghadapi fitnah kekuasaan, begitu kuat fitnah ini, hingga para ulama dari kalangan sahabat maupun generasi berikutnya begitu takut dan sangat tidak menginginkan kekuasaan. Dan banyak kita dapati di antara mereka jika ditugaskan oleh sultan untuk menjadi wali (gubernur) atau qadhi (hakim agung), banyak dari mereka yang tidak bisa menerima bahkan lari menjauh. Dan jika tidak bisa mengelak lagi, maka mereka segera mengucapkan kalimat istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un). Dengan berat hati mereka terima, karena pada dasarnya mereka tidak ingin beban berat itu menjadi tanggungjawab mereka. lain kita lain mereka, di masa kita sekarang ini yang terjadi adalah kebalikannya, kita lihat bagaimana orang-orang saling berlomba-lomba untuk menjadi pejabat, pemimpin dan sejenisnya, pendek kata, manusia di zaman kita adalah jenis manusia yang suka kekuasaan. Akibatnya? Kita bisa saksikan bersama, tidak jauh-jauh di negeri kita sekarang ini yang sedang rame-ramenya memilih calon-calon pejabat baik legislator maupun eksekutor, kita bisa lihat bagaimana satu sama lain saling berebut untuk menjadi pilihan orang sehingga bisa mendudukan satu jabatan public atau pimpinan sebuah instansi dan sejenisnya.

Hadis di atas menurut Syaikh Al-Albani diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Akhbaru Ashbahan (2/42) dan Ad-Dailami dalam Al-Musnad (1/1/44) dari Anbasah bin Abdirrahman Al-Qurasyi dari Abdullah bin abul aswad al-ashbahani dari Ibn Umar ra.” Kemudian ia menerangkan bahwa sebab lemahnya hadis ini adalah pada rawi Anbasah bin abdirrahman al-Qurasyi, tadi, karena ia tertuduh berdusta.

Untuk menunjukkan masalah ini, kita memiliki perbendaharaan dalil-dalil yang shahih, di antaranya:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتْ الْفَاطِمَةُ رواه البخاري
Sesunggunya kalian akan memperebutkan kepemimpinan, sehingga hanya akan menjadi penyesalan di hari kiamat. Ia adalah sebaik-baik ibu yang menyusui dan seburuk-buruk ibu yang menyapih.” (HR. al-Bukhari)

Di sini Rasulullah saw memberi peringatakan kepada kita tentang bahayanya fitnah kepemimpinan dan kekuasaan, dan jika manusia saling memperebutkannya maka tentu hasil akhirnya hanyalah penyesalan. Digambarkan bahwa kekuasaan ini ibarat wanita yang menyusui, kekuasaan dengan segala hal yang melekat padanya, penghormatan manusia, harta, kenalan, kedudukan, tempat tinggal dan semacamnya, ini diibaratkan ibu susu yang terbaik. Akan tetapi tidak lama setelah itu, belum lagi hajat kebutuhan terpenuhi, rasa dahaga masih belum tersegarkan, keinginan yang ini dan itu masih belum terlaksana, tiba-tiba maut datang menjelang, atau habis masa kepemimpinan, ini ibarat seburuk-buruk ibu yang menyapih.

أولها ملامة وثانيها ندامة وآخرها خزي يوم القيامة إلا من عدل
“pertamanya adalah cacian, keduanya penyesalan, dan pada akhirnya kehinaan di hari kiamat, kecuali orang yang bisa berbuat adil.” (HR. ahmad)

أتى سائل امرأةً وفى فمها لقمة فأخرجت اللقمة فناولتها السائل فلم تَلْبَث أن رُزِقَت غلامًا فلما ترعرع جاء ذئب فاحتمله فخرجت تعدو فى أَثَر الذئب وهى تقول ابنى ابنى فأمر الله مَلَكًا الْحقِ الذئبَ فخُذِ الصبى من فيه وقل لأمه الله يقرئك السلام وقل هذه لقمة بلقمة
“seorang pengemis mendatangi seorang wanita sementara dalam mulutnya terdapat suapan (yang siap dia kunyah), maka wanita itu menarik suapan dari mulutnya kemudian memberiannya kepada pengemis. Tidak lama setelah itu, wanita tersebut dikarunia bayi laki-laki, ketika bayi sudah mulai besar tiba-tiba datang serigala menculiknya. Maka si ibu mengejar menyusul melalui jejak kaki serigala sambil berteriak-teriak anakku anakku. Maka Allah memerintahkan malaikat, “Susul serigala itu” ketika malaikat tiba di dekap serigala yang saat itu siap menyantap anak di mulutnya, malaikat mengambilnya, kemudian berkata kepada si ibu, Allah menyampaikan salam kepadamu, ini adalah satu suapan di balas satu suapan.

Dha’iful Jami’ (62), Adh-Dha’ifah (1684), Mausu’ah (399).

Hadis ini menceritakan kepada kita salah satu sifat dan akhlak mulia, yaitu dermawan. Sejenak mari kita bayangkan, bagaimana wanita ini yang nampaknya juga kesulitan, begitu kasihan ketika melihat ada pengemis datang meminta sesuatu padanya. Saya katakan keadaan wanita itu juga tidak jauh beda, buktinya untuk memberi sesuatu pada peminta-minta itu ia tidak menemukan yang lain selain yang ada di mulutnya yang segera akan ia kunyah. Rasa iba dan kasihan itu menyebabkannya tidak kuasa kecuali dengan memberikan sesuap makanan yang segera akan ia kunyah, subhanallah! Hasilnya, bisa kita baca bersama di akhir hadis, ketika dikarunia seorang anak, dan sudah mulai tumbuh besar dan belajar berjalan, tiba-tiba ada serigala yang menculiknya. Bukan kepalang bingungnya wanita ini, ia pun mengejar serigala yang mencuri anaknya. Pada saat itulah, Allah membalas kebaikan yang pernah ia lakukan, anak yang segera akan dicabik-cabik oleh gigi dan taring serigala itu pun diambil oleh malaikat dan diberikan kepadanya. Satu suapan dengan satu suapan! Tentu berbeda nilai satu suapan dengan suapan lainnya.

Hadis ini dikelompokkan dalam hadis dha’if (lemah) karena cacat pada rawi yang bernama Al-Hakam bin Aban yang lemah dalam hafalan, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Albani.

Adapun mengenai keutamaan sedekah dan sifat dermawan, tentu banyak sekali dalil yang kuat, baik dari Al-Qur`an maupun sunnah yang shahih.

Allah berfirman (QS. Al-Hasyr: 9)
كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ
“Setiap orang akan senantiasa dalam naungan sedekahnya (kelak di akhirat) hingga diputuskan perkara di antara manusia.” (HR. Ahmad, Thabrani dll)

عن عبد الله بن سلام رضي الله عنه، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: أَطْعِمُوُا الطَّعَامَ، وَأَفْشُوُا السَّلامَ، وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلوُا الْجَنَّةَ بِسَلامٍ. رواه الطبراني
“berilah makan, sebarkan salam, lakukan shalat malam sementara manusia tidur, maka kamu akan masuk sorga dengan selamat.” (HR. Thabrani, Ahmad dll)

بر الوالدين يزيد فى العمر والكذب ينقص الرزق والدعاء يرد القضاء ولله فى خلقه قضاءان قضاء محدث وقضاء نافذ وللأنبياء على العلماء فضل درجتين وللعلماء على الشهداء فضل درجة
Berbakti kepada kedua orang tua bisa menambah umur, dusta bisa mengurangi rizki, dan doa bisa menolak qadha’. Sesungguhnya Allah memiliki dua ketetapan (qadha) bagi hamba Nya; qadha nafidz (pasti terjadi), dan qadha muhdats (yang selalu diperbarui). Bagi para nabi atas para ulama ada keutamaan dua deraja, dan bagi ulama atas syuhada ada keutamaan satu derajat.

Dzakhiratul Huffadz (2331), Dha’iful Jami’ (2327), Adh-Dha’ifah (1429), Kasyful Khafa` (1297), Mausu’ah (7074).
Hadis ini menerangkan beberapa hal; berbakti kepada orang tua, dusta, dan doa.

Berbakti kepada kedua orang tua merupakan ibadah agung yang disandingkan setelah perintah untuk ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan syirik. Tentu ini menunjukkan agungnya berbakti pada orang tua, belum lagi hadis-hadis lain yang shahih yang menerangkan masalah ini. seperti hadis:

رضا الرب في رضا الوالدين، وسخطه في سخطهما
“Ridha Allah pada ridha kedua orang tua, dan kemurkaan Allah pada kemurkaan keduanya.” (HR. Thabrani).

جاء رجل إلى رسول الله فقال: يا رسول الله ! من أحقُّ الناس بحسن صحابتي؟ قال: “أمّـك”، قال: ثم من؟ قال: “أمّك”، قال: ثم من؟ قال “أمّـك”، قال ثم من؟ قال: “أبوك
Ada seorang datang bertanya kepada Nabi saw, “Siapakah yang paling berhak untuk aku pergauli secara baik? Beliau menjawab, “Ibumu” lalu siapa? Ibumu, siapa setelah itu? Ibumu, kemudian siapa? Beliau menjawab, “ayahmu” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sedangkan masalah dusta yang merupakan salah satu cirri orang munafik, dan merupakan salah satu akhlak buruk, dan dosa besar, cukuplah bagi kita dalil-dalil yang benar dari sabda Rasulullah saw, seperti:
إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ
Jauhilah olehmu sifat dusta, karena sesungguhnya dusta itu menyeret kepada maksiat, dan maksiat menyeret pelakuanya ke neraka” (HR. ahmad dan abu dawud).

Adapun doa, maka ia termasuk ibadah agung, yang sangat erat hubungannya dengan tauhid. Allah menyukai hamba Nya yang mau berdoa, sebaliknya sangat membenci orang yang tidak mau berdoa kepada Nya. Perintah untuk berdoa banyak kita dapatkan dalam al-Quran maupun hadis nabi yang shahih, antara lain:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa itu adalah ibadah” (HR. Abu dawud, Turmudzi dan Ibn Majah).

من فُتح له منكم باب الدعاء فتحت له أبواب الرحمة، وما سئل الله شيئا يُعطى أحب إليه من أن يسأل العافية، إن الدعاء ينفع مما نزل ومما لم ينزل، فعليكم عباد الله بالدعاء
Siapa yang dibukakan padanya pintu doa berarti dibukakan baginya pintu-pintu sorga. Allah tidak dimintai sesuatu yang lebih Dia sukai daripada kesehatan (afiyah), sesungguhnya doa itu bermanfaat bagi yang telah diturunkan maupun yang belum diturunkan, maka tetapilah doa wahai hamba Allah!” (HR. Turmudzi).

بعث الله ملكا إلى رجل ليعذبه، قال: أسألك بوجه الله ألا تعذبني، فمضى فبعث ثلاثة كلهم يقول ذلك فلا يعذبه، فبعث الرابع فقال له ذلك فعذبه، فلما صعد سقط جناحاه ووقع فقال: يا رب وقد أطعتك، فقال: سألك بوجهي وعزتي لو سألني عبدى بوجهي أن أغفر لجميع الخلائق لغفرت لهم “.

Allah mengutus malaikat kepada seseorang untuk menyiksanya, ketika sampai orang itu berkata, “Aku minta dengan wajah Allah, jangan kamu siksa aku! Maka malaikat itupun tidak jadi menyiksanya. Kemudian Allah mengutus tiga malaikat, dan orang itupun mengucapkan seperti sebeumnya. Lalu Allah mengutus malaikat keempat, dan orang itu kembali mengatakan seperti sebelumnya, tetapi malaikat itu tetap menyiksanya. Ketika malaikat itu hendak kembali ke langit, tiba-tiba dua sayapnya jatuh, maka ia berkata, “Wahai Rabb, mengapa? Padahal aku sudah melaksanakan perintah Mu? Allah menjawab, “Orang itu telah meminta dnegan wajah dan keagungan Ku. Seandainya hamba Ku meminta dengan wajah Ku agar aku mengampuni semua makhluk, pasti Aku ampuni.”

Tanzihu Syari’ah (2/286), al-La`ali`u (3/317-318), al-Maudhu’at (3/133) Mausu’ah (7600).

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *