Kisah Orang Tua yang Mengharukan

Tiba tiba terdengar suara teriakan yang cukup mengagetkan orang-orang yang sedang menunggu bus di salah satu terminal bus di kota Inggris. Rupanya teriakan itu berasal dari seorang wanita setengah baya dengan usia empat puluh tahunan, ia berlari mengejar seorang gadis muda yang berusia sekitar dua puluh tahunan, lalu wanita tua itu langsung memeluknya dan menciumnya sembari menangis, dan ia berkata: “Sejak kapan kamu berada di kota ini?”

Gadis itu menjawab: “Baru tiga bulan.”

“Kamu kan tahu, kalau saya tinggal di kota ini, sedangkan saya tidak pernah melihatmu selama lima tahun, akan tetapi mengapa selama tiga bulan ini kamu tidak berpikir untuk mengunjungiku?” kata wanita setengah baya tadi.

Gadis itu berkata: “Aku sibuk sekali!”

“Meskipun sekedar untuk menemui ibumu, kamu bilang sibuk?” jawab wanita setengah baya tadi.

Kemudian sebuah mobil muncul maka gadis itu pun segera pamit, dan berkata: “Aku punya janji dengan seseorang, aku sibuk sekali dan aku akan menemuimu lain kali …” lalu dia meninggalkan ibunya dalam kerinduan yang belum sempat terobati.

Kejadian ini pada awalnya sangat menyenangkan bagi sang ibu yang sekian lama dirundung kerinduan untuk bisa bertemu dengan putrinya … namun sekejap saja kondisinya telah berubah menjadi duka cita oleh perilaku putrinya yang bersikap keras hati dan durhaka kepada dirinya … bahkan sangat memuakkan … ini adalah akibat peradaban dan kemajuan yang dicapai oleh manusia sehingga hati mereka berubah menjadi keras, kaku, angkuh, dan durhaka kepada orang tua.

Nah, cerita yang selanjutnya ini tidak kalah memuakkan, yaitu cerita seorang wanita tua sebagai korban keangkuhan peradaban dan kemajuan zaman:

Seorang nenek tua tinggal di sebuah apartemen yang terletak di sisi salah satu jalan raya di negara Barat. Dan seorang penjual susu langganannya setiap hari membawakannya beberapa botol susu sekaligus mengambil botol-botol susu yang sudah kosong yang diletakkannya di depan pintu. Pada suatu hari, si penjual susu tidak menemukan botol-botol kosong sehingga ia pun tidak meletakkan botol-botol yang berisi susu seperti biasanya dan tidak pula menanyakan tentang keadaannya. Dan di hari kedua kondisinya sama seperti hari pertama, begitu pula hari ketiga kondisinya masih sama … sementara ia tidak melakukan apa-apa karena pikirnya itu bukan urusannya. Pada akhirnya semua orang tidak ada yang tergerak hatinya untuk menanyakan apa yang tengah terjadi pada nenek itu melainkan setelah menyebarnya bau busuk yang berasal dari dalam apartemennya, pada saat itulah para tetangganya mulai bertindak dengan menghubungi polisi setempat.

Polisi segera datang, dan masuk ke dalam apartemen, ternyata pemandangan di dalamnya sangat mencengangkan, bagaimana tidak? Sebagian tubuh nenek itu telah habis dimakan oleh kucing-kucing dan juga anjing-anjing yang selama ini dipelihara olehnya untuk menemani kesendiriannya, semenjak ia diasingkan oleh semua anak dan keluarganya. Ya Ilahi … nenek itu tidak memiliki siapa-siapa melainkan beberapa ekor binatang yang menghibur hari-harinya … dan ini terjadi oleh karena peradaban yang telah merubah jiwa anak-anaknya menjadi jiwa yang jauh lebih rendah dari binatang.

Anehnya pada saat polisi menelusuri sanak familinya ternyata nenek ini memiliki seorang putra yang hidup di jalan yang sama hanya berjarak sekitar beberapa meter saja dari tempat tinggal ibunya! Dan pada saat polisi bertanya kepada putranya tentang ibunya itu, maka ia menjawab jika ia tidak mengetahui sedikit pun tentang kondisinya, sebab ia tidak pernah mengunjunginya dalam tempo enam bulan lamanya!

Kasus ini tidak tergolong aneh pada zaman sekarang, bahkan ini sebuah konsekuensi normal yang diakibatkan oleh peradaban dan kemajuan yang mengagungkan fisik serta materi di atas kebutuhan spiritual dan agama, maupun mendahulukan kepentingan di atas akhlak dan kehormatan. Oleh karena itu, disana tidak ada ruang untuk hubungan sosial, atau berbakti terhadap orang tua, atau menyambung silaturahmi, atau berbuat baik terhadap tetangga.

Dan di zaman peradaban seperti ini, khususnya bagi seorang yang hidup di luar negeri atau jauh dari orang tuanya, bisa jadi akan mengadakan satu hari khusus yang ia sebut dengan “Hari Ibu” yang hari itu ia gunakan untuk mengunjungi ibunya setelah satu tahun lamanya ia tinggalkan tanpa berita, kemudian memberikannya sebuah hadiah sebagai penghibur penderitaannya selama satu tahun, lalu berbuat baik kepadanya setelah ia menyakiti hatinya selama setahun penuh.

Atau dalam masa peradaban dan kemajuan pada saat ini mungkin suatu hari nanti kita butuh satu hari untuk kemudian kita namakan sebagai “Hari Bapak” sehingga pada hari itu semua anak-anak bisa mencari bapaknya, siapa ia dan dari mana asalnya, sebab setengah dari jumlah keseluruhan anak-anak tidak mengenal bapaknya, belum lagi jika kita bicara tentang anak-anak yang lahir dari hubungan zina. Maka dengan demikian, tidak menutup kemungkinan suatu saat akan muncul “Hari Bapak” atau “Hari Mencari Bapak”.

Atau barangkali kita perlu membuat satu hari dengan nama “Hari Keluarga” sebagai hari berkumpulnya semua keluarga walaupun hanya satu kali khususnya bagi keluarga yang tidak bisa berkumpul selama berbulan-bulan … agar pada hari itu seseorang bisa melihat saudara-saudaranya, ibunya, dan juga bapaknya.

Inilah peradaban dan kemajuan yang membutuhkan banyak hari untuk menambal pakaiannya yang sudah koyak dan compang-camping dalam segi sosial, etika, dan spiritual.

Adapun menurut pandangan Islam semua hari-hari itu termasuk perkara bid’ah, sesat, dan juga perkara khurafat jahiliyah, tapi Alhamdulillah … semua itu tidak diakui di dalam syari’at Islam sehingga kita umat Islam tidak butuh kepadanya … sebab jauh-jauh hari Islam telah mengagungkan hak-hak ibu dan bapak, memerintahkan untuk menyambung silaturahmi serta berbuat baik kepada tetangga.

Umat Islam meyakini bahwa Islam tidak menganggap beriman dengan sebenar-benarnya: orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya, begitu pula tidak termasuk ke dalam golongan umat Islam barangsiapa yang tidur dalam kondisi kenyang sementara tetangganya berada dalam kondisi kelaparan padahal ia mengetahuinya.

Disamping itu, Islam juga memerintahkan untuk menyambung hubungan keluarga sehingga menurut Islam barangsiapa yang memutuskan hubungan keluarga maka ia terlaknat, Allah Ta’ala berfirman:

فَهَلۡ عَسَيۡتُمۡ إِن تَوَلَّيۡتُمۡ أَن تُفۡسِدُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَتُقَطِّعُوٓاْ أَرۡحَامَكُمۡ (٢٢) أُوْلَـٰٓٮِٕكَ ٱلَّذِينَ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فَأَصَمَّهُمۡ وَأَعۡمَىٰٓ أَبۡصَـٰرَهُمۡ (٢٣) أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَآ٢٤

Artinya: “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 22-24).

Oleh karena itu, barangsiapa yang membaca Al-Qur’an sudah barang tentu ia pasti mengenal hak keluarga dan hak tetangga, terutama hak kedua orang tua secara umum dan hak ibu secara khusus … sebab ibu menurut kita setiap hari merupakan “Hari Ibu” untuk dirinya, adapun menjadikan untuknya satu hari khusus untuk menghormatinya, memuliakannya, dan memberikannya hadiah termasuk potret pendidikan yang salah kaprah dan bertentangan dengan agama Islam serta termasuk kerancuan moralitas, lebih-lebih ia termasuk perbuatan bid’ah yang haram hukumnya untuk diperingati.

Allah Ta’ala berfirman sebagai perintah untuk berbuat baik kepada orang tua:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٲلِدَيۡنِ إِحۡسَـٰنًا‌ۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡڪِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ۬ وَلَا تَنۡہَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلاً۬ ڪَرِيمً۬ا (٢٣) وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرً۬ا٢٤

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘Ah!’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (QS. Al-Israa: 23-24).

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *