Permasalahan Keluarga Saudariku

Assalamu`alaikum wr.wb.
Sembilan tahun lalu, adik saya menikah dengan seorang laki-laki dari kota D, latar bekalang pendidikan dan pengetahuan agama keduanya sangat minim. Sejak awal pernikahan sangat banyak kendala dan ketidakcocokan, ditambah sang istri langsung hamil menambah keruwetan masalah antara keduanya. Empat bulan setelah menikah istri minta pulang ke rumah orang tuanya di B, dan suami bersedia mengantarnya. Dengan kondisi berjauhan seperti ini membuat suami semakin hilang kendali dan tidak punya pegangan, merasa ditinggal begitu saja oleh istrinya.

Melihat kondisi sang suami yang rapuh pihak keluarga berusaha menyatukan kembali keduanya. Sekarang suami yang ikut istri ke B, suami merasa rendah diri tinggal di keluarga istri karena status ekonomi istri lebih baik, keadaan ini membuat suami seperti tidak dihargai oleh istri dan keluarganya. Hanya satu minggu di B, suatu malam suami menjerit histeris dan minta istrinya untuk mengambil jimat berupa kain berwarna merah ada penggalan huruf hijaiyah. Sejak saat itu diketahui bahwa suami memakai jimat untuk menjaga dirinya ketika bekerja.

Suami kembali ke D, dan lahirlah anak laki-laki. Sejak saat itu suami tetap seperti orang depresi, tidak keluar dari kamar dan sang istri memutuskan untuk bercerai. Delapan tahun kemudian anak tumbuh menjadi anak hiperaktif, keras, susah diatur, bacaan al-Qur`annya kacau dan sangat bermasalah di sekolah. Selama 8 tahun itu pula ia tdk berjumpa dengan ayahnya. Suatu ketika suami dirawat di Rumah Sakit Jiwa, dan kondisinya membaik. Anak bertemu degan ayah dan hubungan cukup harmonis, suami meminta istri untuk rujuk tapi istri menolak. Kini kondisi suami drop lagi, dan kembali ke rumah sakit jiwa, setelah 2 bulan, suami dipulangkan karena kondisi membaik, dan Ramadhan tahun ini ia berpuasa. Bagaimana menyelesaikan masalah ini ya ustadz…?!

Jawab:
Wa’alaikumussalam warahmatullah, selamat datang di majalah Qiblati.
Sesungguhnya permasalahan ini, setelah mendiagnosanya, kami menemukan bahwa permasalahan ini terbagi menjadi tiga sisi; aqidah, materi, dan kejiwaan.

Kita harus merinci dan berbicara selangkah demi selangkah agar sampai kepada pemahaman permasalahan, untuk kemudian mengobatinya.

Pertama, dari sisi aqidah; yaitu penggantungan jimat.
Permualaannya kita harus tahu, mengapa sebagian manusia menyandarkan diri pada pemakaian jimat? Mereka bersandar padanya demi menolak keburukan yang mungkin akan terjadi, berupa sakit, atau penyakit ‘ain; atau juga mengangkat satu keburukan yang tengah terjadi.

Pertanyaannya sekarang, apa hukum jimat? Jawabnya di sini ada sesuai dengan keyakinannya. Yaitu, apakah dia memakainya dengan keyakinan bahwa jimat itu mendatangkan manfaat atau madharat? Jika ini adalah keyakinannya, maka jadilah dia sesat, bodoh, dan syirik terhadap Allah. Karena tidak bisa memberikan manfaat, tidak juga menolak dan menghalangi madharat melainkan Allah Ta’ala. Dan keyakinan bahwa jimat memberikan manfaat dan madharat menjadikan hati itu bergantung padanya, bukan bergantung kepada Allah, yang hal ini termasuk perkara yang menafikan tauhid.

Jimat itu sendiri berbeda-beda sesuai dengan kondisinya. Kadang jimat itu menjadi syirik besar, dan kadang syirik kecil. Orang yang menggantungkan sesuatu, lalu beribadah kepadanya, selain Allah, atau dia berkeyakinan bahwa sesuatu itu memberikan manfaat dan madharat, maka ini menjadi syirik besar. Adapun jika dia berkeyakinan bahwa jimat itu hanya sebagai sebab untuk keselamatan dari ‘ain atau sebagai sebab untuk mendapatkan kebaikan, maka ini adalah syirik kecil.

Adapun jika jimat itu dari ayat-ayat al-Qur`an saja, maka para ulama telah berbeda pendapat akan hukum memakainya; ada yang melarang, dan ada pula yang membolehkannya. Dan yang rajih (kuat), wallahu a’lam, bahwa jimat seperti ini dilarang. Sebab, seandainya amal ini disyari’atkan, maka pastilah Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam telah menjelaskannya kepada umat. Dan tidak pernah disebutkan dalam satu hadits pun orang yang menulis ini atau menggantungkan yang demikian.

Sebagaimana pelarangan ini merupakan satu hal yang dapat menutup celah kesesatan. Seandainya dikatakan bolehnya menggantungkan jimat yang terbuat dari ayat-ayat al-Qur`an, dan do’a-do’a Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam, maka pastilah akan terbuka pintu kesyirikan, dan menjadi samar antara jimat yang dibolehkan dengan yang tidak dibolehkan, serta menjadi sulit membedakan di antara keduanya, dan pastilah para penyeru kepada kesesatan dan khurafat akan memanfaatkannya. Juga bahwa jimat-jimat tersebut akan menjadikan ayat-ayat al-Qur`an dihadapkan pada tempat-tempat najis yang para pembawanya membawa ke tempat-tempat tersebut yang seharusnya ayat-ayat al-Qur`an disucikan darinya, karena orang yang memakainya tentu akan kesulitan untuk menjaganya dari yang demikian.

Karena saya tidak mengetahui jimat apa yang dipakai oleh sang suami, maka saya memberikan kepada Anda satu gambaran sempurna dengan ringkas, agar Anda mampu menentukan kondisi yang dialami suami. Dan jika secara umum telah jelas bahwa sang suami kurang dari sisi pemahaman syar’inya, maka saya memohon kepada Allah untuk kita dan untuknya tambahan dan keberkahan ilmu.

Kedua: dari sisi materi; tampak bahwa sang suami, saat dia memulai kehidupan rumah tangganya masih belum siap secara materi. Dimana hal ini termasuk perkara yang menjadikan sang istri yang terbiasa dengan kehidupan materi yang baik mengeluh kepada keluarganya hingga kepada kondisinya sekarang ini.

Pada dasarnya, permasalahannya bukan pada kekurangsiapan materi sang suami saat maju untuk menikah. Akan tetapi permasalahannya, saat suami mulai menghadapi permasalahan materi, bisa jadi dia bukan orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari kesempatan pekerjaan, atau dia memang belum mendapatkan kesempatan pekerjaan, atau dia termasuk tipe orang yang tidak menerima pekerjaan apapun.

Ketiga: dari sisi kejiwaan; kondisi materi yang buruk, yang dilewati oleh sang suami sangat berpengaruh terhadap kehidupannya dengan bentuk yang sempurna. Dimana hal ini menghantarkan kepada buruknya kondisi kejiwaannya. Dan hal yang semakin menambah keburukannya adalah bersandarnya dia kepada jimat, bukan kepada Allah. Sungguh, kala itu, hubungan dia seperti terputus dengan Allah Ta’ala, seperti yang saya fahami dari surat Anda. Karena Anda berkata, ‘Dan pada Ramadhan tahun ini, dia berpuasa.’ Maksudnya, yaitu pada Ramadhan sebelumnya dia tidak berpuasa. Dan siapa yang menyia-nyiakan puasa, maka akan lebih menyia-nyiakan ibadah-ibadah yang lain.

Maka sang suami menyangka, bahwa jalan terpendek dan tercepat untuk mendapatkan kebaikan adalah dengan jimat, bukan dengan ibadah dan ketaatan. Oleh karena itu, saat sisi materi tidak membaik, semakin bertambahlah sisi buruk kejiwaannya. Karena sebelumnya dia berangan-angan besar. Lalu tersingkaplah setelah itu, bahwa dengan jimat, tidak datang hasil yang dia harapkan. Yang demikian menjadikannya tertimpa kondisi apa yang dia telah sampai kepadanya.
Semua ini disebabkan jauh dari Allah Ta’ala. Saya memohon hidayah untuk kita dan untuknya.

Saya tidak akan larut dalam membicarakan putra mereka yang menderita kondisi khusus tersebut. Karena perkaranya masih belum jelas bagi saya dengan gambaran yang baik. Oleh karena itu, saya cukupkan dengan diagnosis ini yang memudahkan Anda untuk memahaminya dengan rupa yang baik, lalu Anda bisa berbuat dengan benar.

Berkenaan dengan keinginan sang suami untuk kembali kepada sang istri sekali lagi, maka saya berpandangan agar sang istri kembali kepada suaminya, lalu memulai lembaran kehidupan baru yang mereka bisa mengambil faidah dari pelajaran masa lalu dan kesalahan-kesalahannya. Saya mengusulkan agar orang-orang terdekat dari keluarga istri atau suami untuk membantu sang suami dengan memberikan modal, atau menyiapkan satu proyek kecil jika mereka mampu. Jika tidak, maka mereka tidaklah bertanggung jawab terhadapnya hingga dia memulai kehidupan barunya, dan bersandar kepada Allah Ta’ala, kemudian kepada kesungguhannya. Mudah-mudahan Allah Ta’ala menjadikan kebaikan dan keberkahan padanya.

Saya juga menasihatkan kepada sang suami untuk kembali kepada Allah dan bersandar kepada-Nya dalam segala perkaranya. Serta bertaubat dan menyesali apa yang telah berlalu. Sebagaimana saya menasihatinya untuk memberikan perhatian besar kepada ruqyah syar’iyyah. Dan wajib atasnya untuk memperhatikan putranya, sesuai dengan kemampuannya, serta membuatnya merasakan kasih sayang yang telah hilang. Yang dibutuhkan oleh seorang anak adalah kasih sayang bapaknya. Maka ini termasuk perkara yang akan membantu pengobatannya. Demikian juga hendaknya dia perhatian dengan istrinya, menghargainya, dan menyetujuinya untuk kembali jika dia kembali. Dan wajib atasnya untuk membuatnya merasa bahwa sang suami telah berubah, dan menjadi dekat kepada Allah Ta’ala.

Saya memohon kepada Allah segala kebaikan untuk sang suami ini, serta memberikan kesembuhan kepadanya dan putranya, serta memperbaiki kondisinya.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *