WAFATNYA SANG IMAM

(IMAM ASY-SYAFI’I Rahimahullah)

Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah sangat dikenal dengan kefaqihannya, dan kepeloporannya dalam bidang ushul fikih dan ushul al-hadits, sastra Arab, wara’ dan zuhudnya. Rabi’ bin Sulaiman rahimahullah berkata :

“Imam Syafi’i adalah orang yang paling fasih. Adalah Imam Malik takjub terhadap bacaannya karena kefasihannya”.

Ibnu Hisyam Rahimahullah penulis kitab siirah berkata: “Imam Asy-Syafi’i adalah salah satu diantara orang-orang yang diambil bahasanya.”

Suatu hari Rabi’ Rahimahullah berkata : “Pernah kami duduk di halaqah Imam Asy-Syafi’i setelah kematiannya beberapa saat, kemudian berdiri di hadapan kami seorang Arab Baduwi dan mengucapkan salam. Lantas ia berkata: “Di manakah rembulan dan matahari halaqah ini?” Maka kami katakan: “Beliau telah wafat!” Kemudian orang itu pun menangis dengan sangat, dan ia berkata: “Semoga Allah merahmatinya dan mengampuni dosa-dosanya. Sungguh ia telah membuka dengan penjelasannya hujjah-hujjah yang telah tertutup, telah membendung di wajah musuh-musuhnya dengan penjelasan yang terang, ia telah membasuh wajah-wajah yang hitam dari segala cacat, melapangkan dengan pendapatnya pintu-pintu yang terkunci.” Kemudian ia beranjak pergi.

Imam Asy-Syafi’i tinggal di Mesir selama 5 tahun 9 bulan, sejak 28 Syawwal 198 H hingga 29 Rajab 204 H. Beliau mengajari manusia dan menulis kitab, kemudian beliau mengalami pendarahan hebat karena wasir (Hemoroid) hingga tidak bisa keluar mengajar. Akhirnya muridnya yang bernama Imam Al-Muzani menjenguknya.

Al Muzani berkata: “Aku masuk menemui Imam Asy-Syafi’i di kamarnya yang ia wafat di dalamnya, kemudian aku berkata: bagaimana keadaan Anda pagi ini? Maka beliau berkata:

أصبحتُ من الدنيا راحلاً وللإخوان مفارقاً و لكأس المنيَّة شارباً وعلى الله جلَّ ذكره وارداً ولا والله ما أدري روحي تصير إلى الجنة فأهنِّئها أو إلى النار فأعزِّيه!

Aku akan pergi meninggalkan dunia ini
dan berpisah meninggalkan saudara-saudaraku
aku akan merasakan air kematian
dan kepada Allah aku akan datang
Demi Allah, aku tidak tahu kemanakah ruhku akan menuju
Kepada surgakah hingga kuucapkan selamat atasnya
ataukah kepada neraka hingga ku berbela sungkawa kepadanya!

Kemudian beliau mengangkat pandangannya ke langit lalu menangis dan bersyair:

ولما قسى قلبي و ضاقت مذاهـبــي جعلتُ الرَّجــا مني لعفوك سلَّـمـا
تعاظـني ذنـبـي فـلمـا قـرنـتـه بعفوك ربي كــان عفوك أعظمــا
وما زلتَ ذا عفوٍ عن الذنب لم تــزل تجود وتعـفـو مِـنَّـةً وتكرُّمـــا

Ketika hatiku keras dan sempit usahaku
Aku jadikan harapanku pada ampunan-Mu sebagai tangga
Dosaku terasa besar
Namun ketika kubandingkan dengan ampunan-Mu wahai Tuhanku
Maka ampunan-Mu lebih besar
Engkau senantiasa mengampuni
Engkau selalu memberi dan memaafkan
Sebagai karunia dan kemurahan.

Setelah itu Imam Asy-Syafi’i yang lahir bulan Rajab 150 H itu melihat kepada orang-orang di sekitarnya dari keluarganya lalu berwasiat: “Jika aku meninggal maka pergilah ke bapak Wali (Gubernur) dan mintalah kepadanya agar ia memandikanku.”

Pada malam Jum’at terakhir dari bulan Rajab 204 H, setelah Isya’ berpulanglah beliau ke hadirat Allah ﷻ. Beliau dimakamkan di Kairo di awal Sya’ban pada hari Jum’at tahun 204 H/ 820 M dalam usia 54 tahun.
Semoga Allah merahmati Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah dan mengaruniakan kepadanya Surga Firdaus. Amin!

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *